yg merasa tersindir silahkan menanggapi :p

assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,


Mazhab Bani Israil

Maaf, Anda ingin telanjang di muka umum? Telanjanglah sebebas-bebasnya, 
tak perlu sungkan. Telanjang itu katanya simbol kejujuran. Ketika 
kemunafikan merajalela, ketelanjangan merupakan pilihan. Simbol perlawanan 
terhadap berbagai topeng. Jadilah ketelanjangan sebagai benar, bahkan 
perlu dipertunjukan di ruang publik. Telanjang bukan lagi keseronokan, 
apalagi melanggar moral. Ketelanjangan bukan lagi sebuah kebugilan fisik, 
yang mengoyak nilai-nilai luhur kehidupan. Ketelanjangan itu sebuah 
estetika yang filosofis.

Demikian logika kaum seniman dan pendukung ekspresi bebas-nilai 
beragumentasi soal telanjang tubuh di muka publik. Ketika karya seni 
digital menampilkan foto dua artis ternama dalam keadaan telanjang, yang 
menuai kritik dan aduan masyarakat yang tak setuju, para pendukung seni 
telanjang membela mati-matian. Foto telanjang itu sama sekali bukan 
pornografi atau pornoaksi, tetapi sebuah keindahan yang melambangkan 
kejujuran. Jadi bukan sesuatu yang porno, baik pornografi maupun 
pornoaksi. 

Soal porno? Tergantung pada orangnya, demikian dalih mereka. Bagi orang 
berpikiran ngeres, katanya, foto telanjang itu jadi porno. Bagi penikmat 
seni dan mereka yang tidak ngeres, foto atau apa pun karya seni yang 
ditampilkan itu menjadi indah. Itu namanya estetika, bukan kepornoan. 
Bukan keseronokan. Lagian, kaum agamawan, juga orang awam, mereka tak 
paham seni. Wong mereka biasa ngaji kitab kuning, mana tahu cita rasa 
seni, kecuali seniman yang kiai atau kiai yang seniman. Seni itu berbeda 
dari agama dan moral. Seni itu seni, bukan yang lain. Bagaimana 
Undang-undang atau agama mau membatasi karya seni yang memiliki norma 
sendiri, yang berbeda dari norma hukum dan agama? Begitulah argumen kaum 
seniman bebas-nilai.

Maka, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi digulirkan di DPR, para 
seniman dan mereka yang mendukung seni bebas-nilai itu betul-betul 
menolaknya. Mula-mula mereka menolaknya karena batasan pornografi dan 
pornoaksi tidak jelas. Ada juga yang menerima, tetapi hanya untuk 
membatasi atau memberantas tabloid, majalah, surat kabar, dan VCD porno 
yang seronok dan kini tengah dirazia polisi di berbagai tempat. Apalagi 
kalau VCD atau karya seronok itu hasil bajakan, para seniman itu setuju 
sekali dengan razia polisi, maklum karya-karya mereka banyak dibajak. 
Kalau menyentuh keuntungan bagi kepentingannya memang gampang sekali 
setuju, tapi kalau merugikan menolak dengan keras.

Ketika konsep porno dijelaskan, mereka bergeser lagi ke sisi lain. 
Baiklah, pornografi jelas batasannya, tetapi pornoaksi bagaimana? 
Bagaimana para penari seni tradisional seperti tari Bali, penduduk asli di 
pedalaman Papua, apa mau dikategorikan pornoaksi? Ketika dijelaskan, bahwa 
hal-hal seperti itu dimasukkan dalam konteks budaya daerah yang memiliki 
wilayah aturan sendiri, para seniman sekuler-liberal itu bergeser lagi. 
Taruhlah batasan pornografi dan pornoaksi itu diperjelas, tetapi apa harus 
ada Undang-Undang? Seni dan ekspresinya tidak bisa dibatasi oleh apa pun.

Pendukung seni bebas-nilai bahkan kian bertambah. Sejumlah pihak menolak 
RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dengan logika hubungan rakyat dan 
negara. Janganlah negara mengatur moral masyarakat, kata mereka. Biarlah 
moral itu jadi milik kehidupan orang perorang, tidak perlu diatur negara. 

Dengan berbagai dalih yang hebat dikatakan, di negara-negara maju seperti 
di Barat, negara tidak ikut campur dalam urusan moral maupun agama. Moral 
dan agama jangan masuk urusan negara, biarlah jadi milik pribadi manusia, 
warga negara. Itulah logika kaum sekuler, dengan pengalaman hubungan agama 
(Kristen) di Barat. Kelompok ini beberapa waktu yang silam juga menolak 
kehadiran Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang memasukan 
pendidikan agama.

Pemisahan negara dan agama berangkat dari paradigma Barat, sebagai pilihan 
paling ekstrem dari trauma buruk hubungan Gereja dan negara di abad 
pertengahan. Peradaban modern Barat yang menjadi rujukan modernitas di 
seluruh negeri sekaligus mematok pemisahan agama dan negara. Pola ini 
dianggap berlaku ideal dan universal untuk seluruh dunia, tanpa kecuali. 
Jika ada negara dan komunitas agama yang ingin melembagakan agama atau 
mempertautkannya ke dalam negara, dianggap buruk bagi bangunan peradaban 
modern. Tidak mengikuti standar kebudayaan Barat yang maju, modern, dan 
berperadaban tinggi, sebagai kiblat kejayaan. Tapi ironisnya, ketika 
negara dalam beberapa hal menguntungkan, kaum sekularis netral agama dan 
penganut pemisahan agama dan negara itu, tidak malu-malu juga meminta 
campur tangan negara untuk kepentingan menyalurkan aspirasinya. RUU Anti 
Pornografi dan Pornoaksi ditolak karena tidak jelas batasannya. Setelah 
dibikin jelas, ditolak pula dengan alasan negara tidak boleh campur tangan 
mengurus atau mengatur moral masyarakat. Ditolak pula karena seni memiliki 
nalar dan kebebasan sendiri, yang tidak bisa dijerat oleh hukum negara.

Kita jadi ingat kaum Bani Israil, umat Nabi Musa yang suka membangkang. 
Ketika kaum Musa itu ditinggal pergi ke Gunung Tursina, mereka kembali 
murtad dan menyembah sapi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa pembunuhan. Si 
pembunuh malah melaporkan pembunuhan itu ke publik, bahwa ada pembunuhan 
entah siapa yang melakukannya. Keadaan jadi anarkis, tak ditemukan siapa 
pembunuhnya. Dengan wahyu Tuhan, Musa menyuruh penyembilihan sapi sebagai 
kata putus untuk menemukan pembunuhnya. Langkah itu selain sebagai ikhtiar 
mengakhiri perselisihan akibat pembunuhan, sekaligus sebagai simbol 
mendelegitimasi kemusyrikan kaum Bani Israil yang menyembah sapi. 

Tapi apa lacur? Kaum Bani Israil memang dikenal suka membangkang. Mereka 
bertanya kepada Musa alaihissalam. Mula-mula menolak untuk menyembelih 
sapi, karena takut jadi ejekan. Setelah diyakinkan Musa, akhirnya mau tapi 
masih bertanya pula. Tanyakan kepada Tuhan, sapi betina atau jantan? Sapi 
betina. Tua apa masih muda? Tidak tua juga tidak muda. Apa warnanya? Sapi 
kuning tua, yang menyenangkan setiap orang yang memandangnya. Kaum Musa 
itu masih juga bertanya, sapi seperti apa lagi? Sapi betina yang 
dikehendaki itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, yang belum pernah 
dipakai membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak cacat, juga tidak ada 
belangnya. Nyaris saja mereka mengingkarinya, jika tidak karena kehabisan 
logika dan kesabaran Nabi Musa. Selalu bertanya dan mengaburkan logika 
agama demi menisbikan dan bahkan menolaknya.

Kita berharap mazhab Bani Israil tidak semakin meluas di negeri ini. 
Lebih-lebih yang berkaitan dengan membangun moral masyarakat dan tegaknya 
nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan publik. Jika ditarik ke sana ke 
mari, apa pun bisa direlatifkan, bahkan agama dan Tuhan sekalipun. Sudah 
terlalu jauh moralitas di negeri ini kehilangan daya rekatnya dalam 
kehidupan individu maupun kolektif. Sudah terlalu meluas dan menyolok mata 
pula berbagai bentuk keseronokan dan demoralisasi hadir di ruang publik 
kita tanpa rasa sungkan. Kasihan sekali masa depan generasi anak-anak 
bangsa di negeri ini. Mereka jadi sasaran empuk dan konsumen murahan dari 
berbagai produk keseronokan yang merusak moral dan potensi diri anak 
negeri. Di tengah bahana demoralisasi dan keseronokan yang liar seperti 
itu, ternyata para seniman dan penganut paham sekuler agama, tidak banyak 
berbuat selain asyik-maksyuk dengan dunianya sendiri secara ananiyah.

Biarlah setiap pilar bergerak untuk memulai membangun karakter bangsa, 
juga melalui penegakan moral agama maupun konstitusi negara dan hukum. 
Memang hukum saja tidak cukup. Politik saja tidak cukup. Pendidikan formal 
saja tidak memadai. Negara pun tidak cukup. Bahkan, jika dinisbikan, upaya 
setiap agama dan kelompok-kelompok agama pun tidak cukup untuk membangun 
moral dan mencegah kerusakan. Tapi jika tidak dimulai, mau dari mana dan 
kapan lagi? 

Jika semua hal dinisbikan, jangankan sebuah Undang-Undang, bahkan agama 
dan Tuhan pun bisa dianggap nihil. Lalu yang muncul ke permukaan ialah 
imperium baru yang bernama kebebasan, seni, dan demokrasi yang mendewakan 
dirinya sendiri dan tak boleh tersentuh apapun. Mazhab Bani Israil dengan 
logika relativisme, anarkisme, dan nihilisme lantas hadir kembali di alam 
modern laksana sebuah kekaisaran baru yang penuh gemerlap, sekaligus 
berwajah cantik. (RioL/Haedar Nashir ) 


Wassalamu'alaikum,




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke