Kenangan di Pasar Senen
Rabu, 26-12-2007 14:50:36 oleh: Berthold Sinaulan 
Kanal: Gaya Hidup 
 Ini mungkin satu lagi contoh "kisah narsis" di Wikimu. Ya, gara-gara Mbak Mira 
Tj menulis "Jangan Sombong Kalau Masuk Pasar Senen"  
(http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=5409) , penulis jadi terkenang 
kembali dengan pengalaman-pengalaman penulis di kawasan pasar yang telah 
berusia ratusan tahun itu. 

Pasar Senen memang telah ada sejak masa Hindia-Belanda. Setidaknya, ada dua 
pendapat mengenai penamaan pasar itu. Pertama, karena pada masa lalu pasar di 
sana memang hanya buka pada hari Senin (seperti juga Pasar Rebo yang buka di 
hari Rabu, Pasar Kamis buka di hari Kamis, Pasar Minggu di hari Minggu, dan 
sebagainya). Kedua, ada yang menganggap bahwa penamaan pasar itu berdasarkan 
nama tokoh yang kemungkinan besar juga menjadi tuan tanah pemilik kawasan itu.

Dalam tulisan saya "Mester, Mester, ..." yang dimuat di Wikimu pada 29 Maret 
2007 (http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=1916), penulis telah menyinggung 
sedikit mengenai seorang tokoh yang mempunyai tanah luas di kawasan yang saat 
ini dikenal dengan nama Jatinegara di Jakarta Timur. Pada masa Hindia-Belanda, 
Jatinegara disebut dengan Meester Cornelis.

Ini kutipan dari tulisan berjudul "Mester, Mester..." itu:

"Nama Meester Cornelis digunakan dengan merujuk kepada pemilik tanah di kawasan 
itu yang bernama Meester Cornelis Senen. Dia adalah seorang warga Pulau Lontar, 
Banda, yang dikirim ke Batavia (nama Jakarta saat itu) oleh Gubernur Jenderal 
Hindia-Belanda, Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1621. 
Pastor Adolf Heuken SJ menulis di dalam bukunya yang berjudul Gereja-gereja Tua 
di Jakarta (terbitan tahun 2003), bahwa Cornelis Senen adalah anak dari 
keluarga kaya di Pulau Lontar. Di Batavia, Cornelis Senen menjadi seorang guru 
agama Kristen. Pada tahun 1635, Cornelis Senen membuka sekolah, memimpin doa, 
dan membaca khotbah dalam Bahasa Melayu. Selain mampu berbahasa daerahnya, 
Banda, dan Bahasa Melayu, Cornelis Senen, mempelajari juga Bahasa Portugis dan 
tentu saja Bahasa Belanda. Itulah sebabnya dia juga diberi kesempatan memimpin 
khotbah agama dalam Bahasa Portugis. Jabatannya sebagai guru (agama) itu yang 
membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya. 

Setelah sepuluh tahun melayani umat Kristen berbahasa Melayu dan Portugis, maka 
dia diangkat menjadi proponent, calon pendeta. Saat akan menempuh ujian untuk 
menjadi seorang pendeta pada tahun 1657, dia ditolak oleh panitia ujian. Tak 
jelas sebabnya, namun bisa jadi karena Cornelis Senen adalah seorang bumiputera 
asli dan bukan bangsa Belanda.

Walaupun demikian, Meester Cornelis Senen masih diberikan hak istimewa untuk 
menebang pohon di tepi Kali Ciliwung yang letaknya sekitar 15 sampai 20 
kilometer dari kota Batavia (kawasan Jakarta Kota saat ini). Di tempat itu, dia 
juga mempunyai sebuah tanah luas penuh pepohonan jati pada tahun 1661. Kayu 
dari pohon-pohon jati yang ditebang, dikirim ke kota dengan cara dihanyutkan 
lewat Kali Ciliwung. Kayu-kayu itu kemudian dipakai menjadi bahan untuk 
membangun rumah dan lainnya. Tanah luas penuh pepohonan jati itulah yang 
kemudian dikenal dengan Meester Cornelis dan karena pernah penuh dengan 
pohon-pohon jati, belakangan disebut pula Jatinegara."

Nah, ada yang menganggap bahwa Meester Cornelis Senen itu bukan hanya mempunyai 
tanah di kawasan Jatinegara sekarang, tetapi juga di kawasan yang kini dikenal 
dengan nama Senen di Jakarta Pusat.

Ah, entahlah. Namun yang pasti, penulis telah mengenal Pasar Senen itu sejak 
kecil. Dibandingkan dengan Suhu Tan atau mungkin juga Pak Mimbar, Ibu Nury dan 
Wikimuers lainnya yang telah lebih lama mengenal Jakarta, mungkin pengalaman 
yang telah penulis rasakan saat "bersinggungan" dengan pasar itu tak terlalu 
banyak.

Walaupun demikian, ada beberapa catatan penulis tentang pasar itu. Paling tidak 
di kawasan itulah, kalau tidak salah di Jalan Kenanga, penulis "berkenalan" 
dengan beragam produk peralatan olahraga, di samping toko-toko olahraga di 
Pasar Baru. Ada satu toko olahraga yang cukup terkenal di kalangan anak-anak 
dan remaja, yaitu "Siong Vo" (maaf, kalau salah penyebutannya). Toko itu 
terkenal dengan sepatu bolanya yang waktu itu belum banyak dijual di Jakarta.

Soal sepatu bola ini, penulis yang ketika SD sempat bergabung dengan klub 
sepakbola anak-anak "Putra Dewata" dan berlatih di lapangan sepakbola 
Manggarai, Jakarta Selatan, juga mempunyai pengalaman tersendiri. Suatu ketika, 
sepatu bola milik penulis ketinggalan di bangku sekolah di SD Kwitang III PSKD 
di Jalan Slamet Riyadi Raya, Jakarta Timur. Wah, padahal itu merupakan sepatu 
bola kesayangan penulis.

Semalaman penulis tak dapat tidur. Pagi-pagi sekali penulis berangkat ke 
sekolah, dan untunglah sepatu bola itu masih teronggok di bangku penulis. 
Pengalaman itu kemudian penulis kirimkan ke Harian Indonesia Raya yang kalau 
tidak salah dipimpin oleh wartawan senior Rosihan Anwar. Luar biasa, tulisan 
karya seorang siswa SD dimuat di harian ternama itu pada 1972 (ah, jadi ingin 
mencari tulisan itu, mungkin ada di koleksi Perpustakaan Nasional RI).

Kembali ke Pasar Senen, penulis semakin sering ke sana sewaktu duduk di bangku 
SMA di SMA III PSKD di Jalan Kwini I, Jakarta Pusat. Sekolah penulis persis 
bersebelahan dengan tempat tinggal penyanyi terkenal 1970-an Ade Manuhutu yang 
kemudian menjadi pendeta. Lagunya yang terkenal adalah Nona Anna, dan kami para 
siswa sering menirukan menyanyikannya. Baik di sekolah maupun saat pulang 
sekolah. Sepulang sekolah, penulis dan teman-teman yang pulangnya searah, 
menyeberang jalan dan menunggu bus kota di depan Pasar Senen, sambil bernyanyi, 
"Nona Anna, Nona Anna, engkau membuat semua pria...". Waktu itu mal Atrium 
Senen belum ada, dan Lapangan Banteng masih menjadi Terminal Bus Kota.  Jadi 
kami para siswa, menunggu bus kota dari arah Lapangan Banteng yang melalui 
Pasar Senen dan menuju ke arah Matraman dan Jatinegara. Penulis sendiri akan 
turun di depan Apotik Djatinegara, lalu menyeberang menuju ke rumah di Jalan 
Slamet Riyadi IV.

Nah, ada kalanya sebelum pulang ke rumah, kami bermain-main dulu di Pasar 
Senen. Di sana ada toko Sincere Store, dan di toko itulah penulis membeli 
kamera Yashica, yang merupakan kamera foto pertama milik penulis, dengan uang 
tabungan yang penulis kumpulkan sedikit demi sedikit. Rasanya bangga, mempunyai 
kamera foto sendiri.

Sewaktu jatuh cinta, aha...!, penulis juga mengajak teman dekat wanita yang 
juga siswa SMA, ke Pasar Senen untuk sekadar membelikan es shanghai atau makan 
mi bakso. Mungkin inilah yang namanya "cinta monyet", karena saat itu penulis 
memang sering membeli kacang goreng (bukankah monyet sering diasosiasikan makan 
kacang, he..he..he..).

Bagaimana dengan Wikimuers lainnya? Ada juga pengalaman di Pasar Senen?

Foto: Lambang Hindia-Belanda, bisa dilihat di Museum Kebangkitan 
Nasional/Gedung STOVIA di Jalan Kwini, Jakarta Pusat.

www.wikimu.com


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke