Menghadapi Orientalis Selasa, 4 Des 07 07:25 WIB
Kirim teman
Assalamu'alaikum Pak Ustad,
Saya mempunyai teman-teman dari negara-negara asing. Salah satunya, teman
dari Italia. Dia berasal dari Universitas Orientale. Yang cukup saya kagetkan
adalah kebenciannya terhadap sistem negara Indonesia yang mayoritas Muslim ini.
Dia selalu mencari celah khususnya dari sistem Islam umat Islam di Indonesia
yang memang sedang dalam kondisi belum bagus.
Apalagi, saya berjilbab dan satu2nya di sini. Sebenarnya, bagaimana kiat-kiat
menghadapi orientalis yang selalu sibuk mencampuri urusan orang lain? Berdebat
ujung-ujungnya jadi bertengkar Pak.
Terima Kasih.
Wassalamu'alaikum
Antiar
Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Anda tidak perlu kaget kalau berhadapan dengan para orientalis. Memang peran
dan tugas mereka adalah menjelek-jelekkan agama Islam serta menyebarkan
pemikiran yang membuat orang semakin salah kaprah dalam memandang syariah Islam.
Sebagai ilmuwan, mereka tidak punya pedang, tombak dan bedil. Sehingga mereka
tidak seperti agresor Israel yang datang untuk menjajah dan merampas negeri
Islam. Senjata perang mereka adalah mulut dan pena mereka. Tapi justru jauh
lebih berbahaya dan dahsyat dampaknya.
Yang lebih merepotkan, para orientalis itu sekarang sudah punya kader yang
jumlahnya puluhan ribu. Kader-kader itu beragama Islam, berkulit coklat dan
berbahasa Indonesia. Mereka adalah para jebolan dari berbagai perguruan tinggi
di Eropa, Amerika dan Australia yang diberi guyuran bea siswa.
Mereka berangkat ke negeri-negeri kafir itu untuk mengaji dan belajar agama
Islam kepada dedengkot yahudi aliran hitam yang menjadi guru besar dan profesor
mereka.
Dan ketika pulang, diberi gelar yang memberhala sebagai cendekiawan muslim.
Lalu masuk ke berbagai instansi pemeritahan, baik Departemen Agama dengan
jaringan IAIN-nya di seluruh Indonesia atau pun berbagai Departemen serta
instansi pemerintahan resmi lainnya. Mereka kemudian menjadi para penentu
kebijakan di negeri dengan 200 juta penduduk muslim.
Di IAIN saja, para murid orientali itu jadi pejabat dan penentu kebijakan.
Maka kalau anda saksikan para mahasiswa IAIN banyak yang aqidahnya melenceng,
anti Islam, ingkar Allah dan ingkar Nabi, jangan kaget. Kalau mereka mengatakan
bahwa kampus mereka adalah daerah bebas tuhan, jangan sakit hati dulu. Memang
begitulah mesin pengkafiran berlangsung di negeri ini.
Para orientalis itu memang tercipta untuk menjadi pengacau dan perusak ajaran
agama Islam, orang betawi bilang, "Nggak ada matinye."
Jadi sebaiknya jangan diladeni, karena mungkin hanya buang-buang umur saja.
Toh mereka tidak akan sadar, apalagi masuk Islam. Bukan berarti kita menutup
pintu hidayah, sebab memang ada beberapa gelintir orientalis yang pada akhirnya
tobat, sadar dan masuk Islam dengan kesadaran.
Tapi dari sejuta orientalis, mungkin cuma dua atau tiga orang saja yang
bernasib baik. Selebihnya?Tidak lebih dari pabrik limbah pemikiran. Sama sekali
kita tidak pernah punya rasa hormat dengan mereka. Karena semua yang mereka
katakan tidak lain hanyalah racun pemikiran yang mengajak kepada kesesatan dan
adzab neraka jahannam. Tidak ada gunanya dan hanya bikin bibir jontor.
Semua Argumentasi Orintalis Lemah
Satu hal yang perlu anda ketahui, tidak ada satu pun argumentasi para
orientalis yang benar-benar ilmiah. Kalau mereka bicara tafsir, jelas tafsir
yang ngawur. Kalau bicara sejarah, maka sejarah yang dipalsukan dan
ditakwilkandengan metode yang menyalahi kaidah imu sejarah
saja. Apalagi kalau mereka bicara fiqih, jelas tidak tepat, karena mereka
sebenarnya agak kurang pengetahuan tentang ilmu fiqih.
Bahkan sebagian besar orientalis itu tidak bisa bahasa arab, kecuali hanya
segelintir saja. Maka wajar kalau mereka sebenarnya tidak pernah sampai kepada
titik kebenaran yang hakiki. Bicara tentang Islam tapi buta huruf arab, aneh
bin ajaib.
Tapi yang lebih perlu kita sedihkan dan turut berduka cita adalah kalau kita
melihat tindakan aneh para budak oritentalis, yaitu kalangan sekuler dan
aktifis pemikiran liberal di negeri ini. Kelakuan mereka menunjukkan gejala
kurang percaya diri kepada ajaran Islam, tidak PD, malu, minder dan phobi.
Gejala minus seperti ini akibat tiap hari disuntik racun limbah pemikiran
profesor mereka yang yahudi kafir itu.
Akibatnya, mereka tidak berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang
kesambet setan. Semua isi otak dan mulut mereka tidak lain hanya berisi
penghinaan, pelecehan dan keragu-raguan kepada agama Islam. Banyak dari mereka
yang sudah tidak shalat atau puasa fardhu. Bahkan tidak percaya bahwa Islam
adalah agama yang benar di sisi Allah.
Kita ucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada mereka dan atas nasib
buruk yang menimpa mereka. Semoga suatu ketika hati mereka terbuka, tobat dan
kembali ke pangkuan agama Islam yang lurus.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]