syukurlah kalau begitu, mungkin mereka itu termasuk yang sudah mendekati 
mendapat hidayah Allah. wallahua'lam.
   
  salmaFei

Patricia Devita Sihwardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ada juga koq orientalis yang malah bersimpati sama Islam: Karen 
Amstrong, Esposito, Edward Said, dll

Patricia Devita

sFe wrote: 
> Menghadapi Orientalis Selasa, 4 Des 07 07:25 WIB 
> Kirim teman 
> Assalamu'alaikum Pak Ustad, 
> Saya mempunyai teman-teman dari negara-negara asing. Salah satunya, teman 
> dari Italia. Dia berasal dari Universitas Orientale. Yang cukup saya kagetkan 
> adalah kebenciannya terhadap sistem negara Indonesia yang mayoritas Muslim 
> ini. Dia selalu mencari celah khususnya dari sistem Islam umat Islam di 
> Indonesia yang memang sedang dalam kondisi belum bagus. 
> Apalagi, saya berjilbab dan satu2nya di sini. Sebenarnya, bagaimana kiat-kiat 
> menghadapi orientalis yang selalu sibuk mencampuri urusan orang lain? 
> Berdebat ujung-ujungnya jadi bertengkar Pak. 
> Terima Kasih. 
> Wassalamu'alaikum 
> Antiar 
> Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
> Anda tidak perlu kaget kalau berhadapan dengan para orientalis. Memang peran 
> dan tugas mereka adalah menjelek-jelekkan agama Islam serta menyebarkan 
> pemikiran yang membuat orang semakin salah kaprah dalam memandang syariah 
> Islam. 
> Sebagai ilmuwan, mereka tidak punya pedang, tombak dan bedil. Sehingga mereka 
> tidak seperti agresor Israel yang datang untuk menjajah dan merampas negeri 
> Islam. Senjata perang mereka adalah mulut dan pena mereka. Tapi justru jauh 
> lebih berbahaya dan dahsyat dampaknya. 
> Yang lebih merepotkan, para orientalis itu sekarang sudah punya kader yang 
> jumlahnya puluhan ribu. Kader-kader itu beragama Islam, berkulit coklat dan 
> berbahasa Indonesia. Mereka adalah para jebolan dari berbagai perguruan 
> tinggi di Eropa, Amerika dan Australia yang diberi guyuran bea siswa. 
> Mereka berangkat ke negeri-negeri kafir itu untuk mengaji dan belajar agama 
> Islam kepada dedengkot yahudi aliran hitam yang menjadi guru besar dan 
> profesor mereka. 
> Dan ketika pulang, diberi gelar yang memberhala sebagai cendekiawan muslim. 
> Lalu masuk ke berbagai instansi pemeritahan, baik Departemen Agama dengan 
> jaringan IAIN-nya di seluruh Indonesia atau pun berbagai Departemen serta 
> instansi pemerintahan resmi lainnya. Mereka kemudian menjadi para penentu 
> kebijakan di negeri dengan 200 juta penduduk muslim. 
> Di IAIN saja, para murid orientali itu jadi pejabat dan penentu kebijakan. 
> Maka kalau anda saksikan para mahasiswa IAIN banyak yang aqidahnya melenceng, 
> anti Islam, ingkar Allah dan ingkar Nabi, jangan kaget. Kalau mereka 
> mengatakan bahwa kampus mereka adalah daerah bebas tuhan, jangan sakit hati 
> dulu. Memang begitulah mesin pengkafiran berlangsung di negeri ini. 
> Para orientalis itu memang tercipta untuk menjadi pengacau dan perusak ajaran 
> agama Islam, orang betawi bilang, "Nggak ada matinye." 
> Jadi sebaiknya jangan diladeni, karena mungkin hanya buang-buang umur saja. 
> Toh mereka tidak akan sadar, apalagi masuk Islam. Bukan berarti kita menutup 
> pintu hidayah, sebab memang ada beberapa gelintir orientalis yang pada 
> akhirnya tobat, sadar dan masuk Islam dengan kesadaran. 
> Tapi dari sejuta orientalis, mungkin cuma dua atau tiga orang saja yang 
> bernasib baik. Selebihnya?Tidak lebih dari pabrik limbah pemikiran. Sama 
> sekali kita tidak pernah punya rasa hormat dengan mereka. Karena semua yang 
> mereka katakan tidak lain hanyalah racun pemikiran yang mengajak kepada 
> kesesatan dan adzab neraka jahannam. Tidak ada gunanya dan hanya bikin bibir 
> jontor. 
> Semua Argumentasi Orintalis Lemah 
> Satu hal yang perlu anda ketahui, tidak ada satu pun argumentasi para 
> orientalis yang benar-benar ilmiah. Kalau mereka bicara tafsir, jelas tafsir 
> yang ngawur. Kalau bicara sejarah, maka sejarah yang dipalsukan dan 
> ditakwilkandengan metode yang menyalahi kaidah imu sejarah 
> saja. Apalagi kalau mereka bicara fiqih, jelas tidak tepat, karena mereka 
> sebenarnya agak kurang pengetahuan tentang ilmu fiqih. 
> Bahkan sebagian besar orientalis itu tidak bisa bahasa arab, kecuali hanya 
> segelintir saja. Maka wajar kalau mereka sebenarnya tidak pernah sampai 
> kepada titik kebenaran yang hakiki.. Bicara tentang Islam tapi buta huruf 
> arab, aneh bin ajaib. 
> Tapi yang lebih perlu kita sedihkan dan turut berduka cita adalah kalau kita 
> melihat tindakan aneh para budak oritentalis, yaitu kalangan sekuler dan 
> aktifis pemikiran liberal di negeri ini. Kelakuan mereka menunjukkan gejala 
> kurang percaya diri kepada ajaran Islam, tidak PD, malu, minder dan phobi. 
> Gejala minus seperti ini akibat tiap hari disuntik racun limbah pemikiran 
> profesor mereka yang yahudi kafir itu. 
> Akibatnya, mereka tidak berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang 
> kesambet setan. Semua isi otak dan mulut mereka tidak lain hanya berisi 
> penghinaan, pelecehan dan keragu-raguan kepada agama Islam. Banyak dari 
> mereka yang sudah tidak shalat atau puasa fardhu. Bahkan tidak percaya bahwa 
> Islam adalah agama yang benar di sisi Allah. 
> Kita ucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada mereka dan atas nasib 
> buruk yang menimpa mereka. Semoga suatu ketika hati mereka terbuka, tobat dan 
> kembali ke pangkuan agama Islam yang lurus. 
> Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
> Ahmad Sarwat, Lc 
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
> 

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 



                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke