Benazir Bhutto: *
*Melawan Fundamentalisme dan Kediktatoran*
* *
*Oleh: Gadis Arivia*
* *
Perempuan selalu memiliki daya juang yang luar biasa dalam
mempertahankan kelangsungan hidup. Setiap hari mereka berjuang dengan maut
demi sebuah kehidupan. Tidak peduli angka kematian ibu yang begitu tinggi,
setiap hari sebuah kehidupan dipertahankan oleh seorang perempuan. Hal yang
sama dilakukan oleh Benazir Bhutto, seorang pemimpin perempuan, yang mati
mempertahankan sebuah kehidupan, kehidupan demokrasi di negaranya. Pada
akhirnya, dunia harus bersandar di pundak seorang perempuan pemberani, yang
mengorbankan seluruh jiwa raganya menentang kaum ekstrim Islam dan
pemerintahan yang diktator. Benazir Bhutto adalah seorang pemimpin yang
memiliki nyali menyatakan secara terbuka menolak fundamentalisme di
negaranya dan menyerukan rakyatnya mempertahankan demokrasi dan hak asasi
manusia. Dalam wawancaranya yang terakhir di CNN, ia menegaskan bahwa apa
pun resikonya, ia siap menghadapi para ekstrimis dan diktator yang
menghalangi kebebasan dan demokrasi di tanah airnya, karena ia akan selalu
membela suatu prinsip yang ia yakini. Ibu yang melahirkan tiga anak ini
mengemukakan bahwa "ia menganggap semua anak-anak Pakistan adalah seperti
anak-anaknya sendiri, dan ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk masa
depan mereka".
Benazir Bhutto adalah seorang pemimpin. Ia disebut seorang
pemimpin bukan karena ia ketua organisasi partai politik, orang "yang
berkuasa", yang mengemban istilah "bapak bangsa", atau anak dari seorang
pemimpin sehingga otomatis menjadi pemimpin. Benazir Bhutto lebih dari itu
semua. Ia layak disebut sebagai seorang pemimpin karena ia selain memiliki
keberanian juga memiliki gairah untuk menegakkan sebuah masyarakat egaliter
meskipun berada di negara patriarki yang mensubordinasi perempuan.
Pengalamannya
membuatnya semakin teguh, sabar, dan kuat menghadapi segala aspek
penindasan. Hal ini ia buktikan saat memenangkan pemilu pertama kali di
bulan Desember tahun 1989 ketika ia sedang hamil. Dalam keadaan hamil pun
tidak lelahnya Benazir Bhutto berkampanye 15 jam sehari demi merebut hati
rakyat Pakistan. Benazir Bhutto adalah pemimpin perempuan yang memiliki
karisma, sama seperti Aung San Suu Kyi dari Myanmar dan Corazon Aquino dari
Filipina, yang sepanjang karirnya digoncang kudeta sebanyak enam kali.
Para politikus laki-laki bisa berargumen bahwa
perempuan-perempuan hebat ini mendapatkan "kekuasaannya" dari laki-laki
karena ayah atau suami mereka berkuasa. Indira Gandhi misalnya berhutang
budi kepada ayahnya, Jawaharlal Nehru. Demikian pula pemimpin partai
oposisi Sheikh Hasina Wajed dari Banglades merupakan anak perempuan Sheik
Mujibar Rahman, pendiri dan perdana menteri pertama Banglades. Begum
Khalida Zia pemimpin Partai Nasionalis Banglades merupakan janda Presiden
Ziaur Rahman yang dibunuh pada tahun 1981. Di Sri Lanka ada Sirimavo
Bandaranaike berkuasa karena suaminya dibunuh di tahun 1959. Di Indonesia
pun juga demikian, Megawati Sukarno Putri dikatakan dapat berkuasa karena
nama besar Sukarno. Sayangnya, Megawati memang berkuasa hanya karena sebuah
nama. Sedangkan Benazir Bhutto tentu memiliki potensi yang lebih besar
karena bagaimana pun juga, lulusan Harvard dan Oxford ini menguasai bidang
filsafat, ekonomi dan politik serta memang pandai berkomunikasi, berotak
cemerlang dan representasi perempuan Muslim yang moderen.
Menjadi Perdana Menteri perempuan yang pertama di negara Islam
diakui Bhutto tidaklah mudah. Dalam wawancara BBC, ia merasa bahwa apa yang
telah ia capai adalah untuk menunjukkan bahwa perempuan di negara Islam
dapat mencapai puncak pimpinan yang tertinggi. Ia mengenang hari-hari
terindah di dalam hidupnya:
*Momen yang paling mengembirakan di dalam hidup saya adalah
ketika saya dilantik menjadi Perdana Menteri, saya ingat ketika berjalan di
atas karpet merah di istana kepresidenan dan saya merasakan luapan
perasaan yang tak terbendung bahwa Pakistan telah membukakan jalan
kepada negara-negara Muslim, bahwa seorang perempuan dapat dipilih
menjadi pimpinan eksekutif tertinggi.*
* *
Menyakinkan laki-laki dari negara patriarkis bahwa perempuan
dapat menjadi seorang pemimpin merupakan perjuangan yang panjang dan tidak
mudah bagi Bhutto. Banyak kelompok agama yang militan yang mengiginkannya
berhenti menjadi pemimpin dan kembali ke rumah. Namun, ia tidak pernah
menggubris mereka dan tetap melawan setiap sikap bias gender, tidak peduli
bahwa di hampir sebagian besar mesjid di Pakistan para ulama menolaknya
hanya karena ia seorang perempuan. Ia harus menerima segala cacian dan
kekerasan verbal. Ia berulang kali bertanya dalam dirinya:
*Bagaimana mungkin saya dapat mendebat mereka? Saya dapat
meladeni perdebatan dalam isu politik tapi bagaimana saya
mendebat orang yang mengatakan kepada saya bahwa ia tidak menyukai saya
hanya karena saya seorang perempuan dan bahwa saya telah merebut posisi
kekuasaan laki-laki.*
Pertentangan yang hebat bukan saja datang dari para ulama akan
tetapi juga dari para politikus yang menurutnya bermain sangat kasar dan
menjadi tambah beringas bila berhadapan dengan saingan seorang perempuan
yang kuat. Di dalam wawancara BBC, Bhutto menjelaskan:
*Saya dibesarkan di dalam keluarga yang percaya bahwa seorang
perempuan dapat melakukan apapun sama seperti laki-laki. Tapi ada
yang lebih dari seorang perempuan bahwa ia dapat melahirkan. Pesaing
politik saya menganggap bahwa setiap saya hamil saya dapat ditaklukkan
dan mereka lebih menentang saya pada saat saya sedang hamil. Suatu saat
pesaing politik saya pernah menyemburkan gas air mata sewaktu saya
sedang hamil anak saya yang paling bungsu, pengalaman yang sungguh
menyakitkan. *
Banyak hal yang dialami perempuan ketika ia duduk dalam posisi
puncak kepemimpinan yang tidak dialami laki-laki, terutama kritik terhadap
penampilan dan bahkan baju yang dipakai. Sebagai pemimpin perempuan di
negara mayoritas berpenduduk Muslim, Bhutto berada di dalam sorotan kaum
ekstrim. Sorotan mereka tertuju pada soal pakaiannya bukan soal kemampuan
kepemimpinannya. Sebagai seorang demokrat yang percaya akan kesetaraan
perempuan, ia memilih memakai kerudung longgar, yang masih memperlihatkan
rambutnya indah tergerai. Namun, ia masih harus berhati-hati bila pihak
oposisi politik atau kelompok ekstrim tertentu memanfaatkan penampilannya
dan menjatuhkannya hanya karena kerudungnya. Sebuah insiden pernah dicatat
Owen Bennett Jones dari BBC, 8 tahun yang lalu di sebuah pesta. Ketika itu
Bhutto tidak memakai kerudung dan seorang laki-laki di sebelahnya (kolega
politik Bhutto) sedang membisiki sesuatu kepada Bhutto. Seseorang mengambil
foto mereka dan seketika pengawal Bhutto merebut kamera. Jones yang berasal
dari Barat tidak mengerti apa yang telah terjadi. Bhutto menjelaskan bahwa
foto dirinya tanpa memakai kerudung kepala dapat menjadi masalah besar bila
foto tersebut beredar di surat kabar apalagi ia difoto dengan seorang
laki-laki.
Bagi saya pemimpin perempuan di Asia mengemban tugas yang amat
berat. Mereka bukan saja menjadi pemimpin di negara-negara yang memiliki
sejarah kekerasan dan kediktatoran, tapi juga negara yang sarat dengan
budaya patriakal. Meskipun para pemimpin perempuan di Asia merebut
kekuasaan karena laki-laki terdekat mereka, namun apa yang mereka berikan
untuk negaranya diberikan secara sepenuh hati dengan keteguhan diri yang
luar biasa dan dengan harga yang mahal. Aung San Suu Kyi membuktikan hal
ini. Tidak ada yang dapat meragukan perjuangan Suu Kyi melawan kediktatoran
di negaranya selama bertahun-tahun lamanya, mengorbankan seluruh hidupnya
untuk sebuah cita-cita demokrasi. Demikian pula dengan Benazir Bhutto, ia
sadar bahwa ia merupakan ancaman bagi kaum ekstrimis dan diktator di
negaranya, ia sadar bahwa ia merepresentasikan kebebasan, sekuler dan
moderat, untuk semua itu ia telah memberikan nayawanya.
Perempuan di Asia dan di dunia merasa kehilangan atas kepergian
Benazir Bhutto, perempuan pemberani yang menantang dunia patriarki. Ia
adalah sebuah inspirasi. Bagaimanakah ia ingin dikenang?
*Saya ingin dikenang sebagai pemimpin yang melawan diktator
militer dan membawa dunia demokrasi, menciptakan perubahan
seperti kebebasan media dan menggerakkan pasar bebas.tapi selain
itu saya ingin dikenang apa yang telah saya berikan kepada
perempuan. Identitas saya adalah sebagai seorang perempuan dan
saya merasa hidup saya harus membuat perubahan untuk perempuan
misalnya dalam soal pengendalian populasi atau mengekspos soal
kekerasan domestik atau memudahkan perempuan untuk mendapatkan akses
kredit
untuk memulai bisnisnya sendiri. Saya telah melakukan semampu saya
untuk membuat perempuan supaya maju.*
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]