Benazir Bhuto pada saat menjelang pemilu ini memang berjuang melawan fundamentalisme dan kediktatoran. Tetapi seandainya terpilih apakah akan tetap demikian, atau berubah jadi diktator juga, kita belum tahu. Track record dia sewaktu menjadi PM menunjukkan bahwa ia sendiri pun senang bersikap keras terhadap lawan-lawannya dan pengkritiknya. Konon termasuk juga terhadap kakeknya sendiri. Kini dia telah tiada, dibunuh dengan cara yang keji. Sering kekerasan seperti itu akan berbuntut kekerasan pula, dan kalau selalu dihadapkan kepada cara-cara perlawanan dengan kekerasam, bukan tidak mungkin seorang demokrat pun akan berubah jadi diktator. Hanya saja mudah-mudahan diktator yang benevolen kepada rakyatnya. KM -------Original Message------- From: mediacare Date: 31/12/2007 10:55:04 To: [email protected]; zamanku; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [ppiindia] Benazir Bhutto: Melawan Fundamentalisme dan Kediktatoran Benazir Bhutto: *
*Melawan Fundamentalisme dan Kediktatoran* * * *Oleh: Gadis Arivia* * * Perempuan selalu memiliki daya juang yang luar biasa dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Setiap hari mereka berjuang dengan maut demi sebuah kehidupan. Tidak peduli angka kematian ibu yang begitu tinggi, setiap hari sebuah kehidupan dipertahankan oleh seorang perempuan. Hal yang sama dilakukan oleh Benazir Bhutto, seorang pemimpin perempuan, yang mati mempertahankan sebuah kehidupan, kehidupan demokrasi di negaranya. Pada akhirnya, dunia harus bersandar di pundak seorang perempuan pemberani, yang mengorbankan seluruh jiwa raganya menentang kaum ekstrim Islam dan pemerintahan yang diktator. Benazir Bhutto adalah seorang pemimpin yang memiliki nyali menyatakan secara terbuka menolak fundamentalisme di negaranya dan menyerukan rakyatnya mempertahankan demokrasi dan hak asasi manusia. Dalam wawancaranya yang terakhir di CNN, ia menegaskan bahwa apa pun resikonya, ia siap menghadapi para ekstrimis dan diktator yang menghalangi kebebasan dan demokrasi di tanah airnya, karena ia akan selalu membela suatu prinsip yang ia yakini. Ibu yang melahirkan tiga anak ini mengemukakan bahwa "ia menganggap semua anak-anak Pakistan adalah seperti anak-anaknya sendiri, dan ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk masa depan mereka". Benazir Bhutto adalah seorang pemimpin. Ia disebut seorang pemimpin bukan karena ia ketua organisasi partai politik, orang "yang berkuasa", yang mengemban istilah "bapak bangsa", atau anak dari seorang pemimpin sehingga otomatis menjadi pemimpin. Benazir Bhutto lebih dari itu semua. Ia layak disebut sebagai seorang pemimpin karena ia selain memiliki keberanian juga memiliki gairah untuk menegakkan sebuah masyarakat egaliter meskipun berada di negara patriarki yang mensubordinasi perempuan. Pengalamannya membuatnya semakin teguh, sabar, dan kuat menghadapi segala aspek penindasan. Hal ini ia buktikan saat memenangkan pemilu pertama kali di bulan Desember tahun 1989 ketika ia sedang hamil. Dalam keadaan hamil pun tidak lelahnya Benazir Bhutto berkampanye 15 jam sehari demi merebut hati rakyat Pakistan. Benazir Bhutto adalah pemimpin perempuan yang memiliki karisma, sama seperti Aung San Suu Kyi dari Myanmar dan Corazon Aquino dari Filipina, yang sepanjang karirnya digoncang kudeta sebanyak enam kali. Para politikus laki-laki bisa berargumen bahwa perempuan-perempuan hebat ini mendapatkan "kekuasaannya" dari laki-laki karena ayah atau suami mereka berkuasa. Indira Gandhi misalnya berhutang budi kepada ayahnya, Jawaharlal Nehru. Demikian pula pemimpin partai oposisi Sheikh Hasina Wajed dari Banglades merupakan anak perempuan Sheik Mujibar Rahman, pendiri dan perdana menteri pertama Banglades. Begum Khalida Zia pemimpin Partai Nasionalis Banglades merupakan janda Presiden Ziaur Rahman yang dibunuh pada tahun 1981. Di Sri Lanka ada Sirimavo Bandaranaike berkuasa karena suaminya dibunuh di tahun 1959. Di Indonesia pun juga demikian, Megawati Sukarno Putri dikatakan dapat berkuasa karena nama besar Sukarno. Sayangnya, Megawati memang berkuasa hanya karena sebuah nama. Sedangkan Benazir Bhutto tentu memiliki potensi yang lebih besar karena bagaimana pun juga, lulusan Harvard dan Oxford ini menguasai bidang filsafat, ekonomi dan politik serta memang pandai berkomunikasi, berotak cemerlang dan representasi perempuan Muslim yang moderen. Menjadi Perdana Menteri perempuan yang pertama di negara Islam diakui Bhutto tidaklah mudah. Dalam wawancara BBC, ia merasa bahwa apa yang telah ia capai adalah untuk menunjukkan bahwa perempuan di negara Islam dapat mencapai puncak pimpinan yang tertinggi. Ia mengenang hari-hari terindah di dalam hidupnya: *Momen yang paling mengembirakan di dalam hidup saya adalah ketika saya dilantik menjadi Perdana Menteri, saya ingat ketika berjalan di atas karpet merah di istana kepresidenan dan saya merasakan luapan perasaan yang tak terbendung bahwa Pakistan telah membukakan jalan kepada negara-negara Muslim, bahwa seorang perempuan dapat dipilih menjadi pimpinan eksekutif tertinggi.* * * Menyakinkan laki-laki dari negara patriarkis bahwa perempuan dapat menjadi seorang pemimpin merupakan perjuangan yang panjang dan tidak mudah bagi Bhutto. Banyak kelompok agama yang militan yang mengiginkannya berhenti menjadi pemimpin dan kembali ke rumah. Namun, ia tidak pernah menggubris mereka dan tetap melawan setiap sikap bias gender, tidak peduli bahwa di hampir sebagian besar mesjid di Pakistan para ulama menolaknya hanya karena ia seorang perempuan. Ia harus menerima segala cacian dan kekerasan verbal. Ia berulang kali bertanya dalam dirinya: *Bagaimana mungkin saya dapat mendebat mereka? Saya dapat meladeni perdebatan dalam isu politik tapi bagaimana saya mendebat orang yang mengatakan kepada saya bahwa ia tidak menyukai saya hanya karena saya seorang perempuan dan bahwa saya telah merebut posisi kekuasaan laki-laki.* Pertentangan yang hebat bukan saja datang dari para ulama akan tetapi juga dari para politikus yang menurutnya bermain sangat kasar dan menjadi tambah beringas bila berhadapan dengan saingan seorang perempuan yang kuat. Di dalam wawancara BBC, Bhutto menjelaskan: *Saya dibesarkan di dalam keluarga yang percaya bahwa seorang perempuan dapat melakukan apapun sama seperti laki-laki. Tapi ada yang lebih dari seorang perempuan bahwa ia dapat melahirkan. Pesaing politik saya menganggap bahwa setiap saya hamil saya dapat ditaklukkan dan mereka lebih menentang saya pada saat saya sedang hamil. Suatu saat pesaing politik saya pernah menyemburkan gas air mata sewaktu saya sedang hamil anak saya yang paling bungsu, pengalaman yang sungguh menyakitkan. * Banyak hal yang dialami perempuan ketika ia duduk dalam posisi puncak kepemimpinan yang tidak dialami laki-laki, terutama kritik terhadap penampilan dan bahkan baju yang dipakai. Sebagai pemimpin perempuan di negara mayoritas berpenduduk Muslim, Bhutto berada di dalam sorotan kaum ekstrim. Sorotan mereka tertuju pada soal pakaiannya bukan soal kemampuan kepemimpinannya. Sebagai seorang demokrat yang percaya akan kesetaraan perempuan, ia memilih memakai kerudung longgar, yang masih memperlihatkan rambutnya indah tergerai. Namun, ia masih harus berhati-hati bila pihak oposisi politik atau kelompok ekstrim tertentu memanfaatkan penampilannya dan menjatuhkannya hanya karena kerudungnya. Sebuah insiden pernah dicatat Owen Bennett Jones dari BBC, 8 tahun yang lalu di sebuah pesta. Ketika itu Bhutto tidak memakai kerudung dan seorang laki-laki di sebelahnya (kolega politik Bhutto) sedang membisiki sesuatu kepada Bhutto. Seseorang mengambil foto mereka dan seketika pengawal Bhutto merebut kamera. Jones yang berasal dari Barat tidak mengerti apa yang telah terjadi. Bhutto menjelaskan bahwa foto dirinya tanpa memakai kerudung kepala dapat menjadi masalah besar bila foto tersebut beredar di surat kabar apalagi ia difoto dengan seorang laki-laki. Bagi saya pemimpin perempuan di Asia mengemban tugas yang amat berat. Mereka bukan saja menjadi pemimpin di negara-negara yang memiliki sejarah kekerasan dan kediktatoran, tapi juga negara yang sarat dengan budaya patriakal. Meskipun para pemimpin perempuan di Asia merebut kekuasaan karena laki-laki terdekat mereka, namun apa yang mereka berikan untuk negaranya diberikan secara sepenuh hati dengan keteguhan diri yang luar biasa dan dengan harga yang mahal. Aung San Suu Kyi membuktikan hal ini. Tidak ada yang dapat meragukan perjuangan Suu Kyi melawan kediktatoran di negaranya selama bertahun-tahun lamanya, mengorbankan seluruh hidupnya untuk sebuah cita-cita demokrasi. Demikian pula dengan Benazir Bhutto, ia sadar bahwa ia merupakan ancaman bagi kaum ekstrimis dan diktator di negaranya, ia sadar bahwa ia merepresentasikan kebebasan, sekuler dan moderat, untuk semua itu ia telah memberikan nayawanya. Perempuan di Asia dan di dunia merasa kehilangan atas kepergian Benazir Bhutto, perempuan pemberani yang menantang dunia patriarki. Ia adalah sebuah inspirasi. Bagaimanakah ia ingin dikenang? *Saya ingin dikenang sebagai pemimpin yang melawan diktator militer dan membawa dunia demokrasi, menciptakan perubahan seperti kebebasan media dan menggerakkan pasar bebas.tapi selain itu saya ingin dikenang apa yang telah saya berikan kepada perempuan. Identitas saya adalah sebagai seorang perempuan dan saya merasa hidup saya harus membuat perubahan untuk perempuan misalnya dalam soal pengendalian populasi atau mengekspos soal kekerasan domestik atau memudahkan perempuan untuk mendapatkan akses kredit untuk memulai bisnisnya sendiri. Saya telah melakukan semampu saya untuk membuat perempuan supaya maju.* mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

