Assalamualaikum.wr.wb. Berikut ini cuplikan dari buku A Man Of God yang diterjemahkan oleh alm. A.Q. Khalid yang pada bab ini menceritakan kehancuran dari penganiaya Ahmadiyah Jenderal Zia-Ul-Haq.
Seperti kita lihat dimedia-media saat ini nama Zia-Ul-Haq disebut-sebut kembali terkait dengan kekerasan politik di Pakistan sehubungan dengan berita terbunuhnya Benazir Bhutto. Wassalam Apache BAB DUAPULUHSATU TINDAKAN TUHAN Khutbah Hazrat Khalifah tersebut direkam dan dalam waktu 24 jam, salinannya telah dikirimkan ke semua Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia. Khutbah itu direkam ulang dan didistribusikan lagi, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa setempat. Terjemahan dan salinannya juga disebarkan luas. Meskipun mubahalah itu sudah diumumkan, Hazrat Khalifah tetap mengingatkan lagi Jendral Zia agar ia mau bertobat dan menghentikan penganiayaannya terhadap Jemaat Ahmadiyah. "Jika anda memang takut kepada Allah s.w.t. tetapi tidak mungkin mengakui kesalahan anda karena posisi duniawi anda, sekurang-kurangnya tariklah tangan anda dari kegiatan tirani dan penindasan para Ahmadi dan cukup anda berdiam diri saja. Dengan cara demikian kami akan mengasumsikan bahwa anda telah menolak menerima tantangan mubahalah dan kami akan berdoa kepada Allah s.w.t. agar anda diselamatkan dari kemurkaan-Nya." Tetapi penganiayaan berlanjut terus. Kembali Hazrat Khalifah memohon perpanjangan waktu. "Aku tidak ingin Pemimpin dari sebuah negeri dengan mana kami ini terkait sebelumnya, menjadi sasaran dari manifestasi kemurkaan Tuhan. Kalau itu sampai terjadi, maka berikutnya akan diikuti dengan kemunculan manifestasi-manifestasi lain dari kemurkaan samawi." Ada yang menyatakan bahwa mubahalah itu tidak akan berlaku karena Zia tidak memaklumkan secara terbuka bahwa ia menerima tantangan tersebut dan bahwa mubahalah tidak bisa dilakukan dengan sarana modern seperti kaset rekaman audio dan selebaran yang dicetak, namun Hazrat Khalifah tidak menghiraukan insinuasi demikian. "Tidak perlu bagi seseorang untuk menerima tantangan itu secara terbuka. Kedegilannya dalam sifat tirani dan penindasannya cukup merupakan indikasi bahwa ia telah menerima tantangan tersebut. Dengan demikian hanya tinggal waktu saja yang akan memberitahukan seberapa sombongnya ia dalam menentang Tuhan." Allah s.w.t. mengerti arti dari kebungkaman salah satu pihak yang dimaksud, ujar beliau. Mubahalah itu tidak saja ditujukan kepada Zia tetapi juga kepada mereka yang secara aktif membantunya dalam penindasan Jemaat. Ketika selebaran yang memuat mubahalah itu dibagikan di sebuah kota kecil Shahkote di distrik Shaikhupura di Pakistan, seorang tukang emas (kamasan) bernama Ashiq Hussain yang selama ini selalu mengorganisir gerombolan yang melempari para Ahmadi dengan batu, berniat mengorganisir demonstrasi dalam skala besar. Kali ini bukan hanya batu, katanya, tetapi juga mubahalah bagi para Ahmadi. Memperhatikan toko-toko mereka yang telah dirampok dan dibakar, ternak mereka yang sudah sama mati dan para Ahmadi di distrik itu sudah mati atau melarikan diri, menurutnya gampang sekali untuk melihat di sisi siapa Tuhan berada. Setelah mempersiapkan gerombolannya, Ashiq Hussain si tukang emas itu masuk ke warungnya untuk mengambil beberapa pisau. Ia memutar tombol kipas angin otomatis yang biasa dipakainya setiap hari - dan ia langsung jatuh mati. Ia mati tersengat aliran listrik. Kerusuhan yang potensial itu jadi batal. Gerombolan yang semula berencana mengejar orang-orang Ahmadi berganti menjadi iringan penguburan tokoh mereka itu. Di Inggris seorang musuh Jemaat yang terkenal telah menerima tantangan mubahalah tersebut. Tidak lama kemudian ia mati dalam kecelakaan mobil. Ketika mereka yang melayat berkumpul di rumahnya, lantai rumah itu runtuh amblas ke ruang bawah tanah. Banyak dari mereka yang menderita luka-luka. Seorang ulama Muslim mengatakan bahwa ia menerima tantangan tersebut tetapi dalam pidatonya yang panjang lebar, tidak sekali pun ia menggunakan kata mubahalah. Sebaliknya ia menyebut munazarra yang berarti perdebatan dan bukan tantangan yang disertai permohonan kepada Allah s.w.t. untuk mengutuk mereka yang berdusta. Ulama-ulama Muslim lainnya mengusulkan bermacam pertandingan yang konyol seperti terjun ke sungai, terjun ke api menyala, lompat dari gedung tinggi. Mereka semuanya mensyaratkan bahwa Hazrat Khalifah Keempat harus muncul sendiri pada saat yang mereka akan tentukan, kalau tidak mereka akan mengumumkan bahwa merekalah yang telah menang. Yang lainnya lagi mengumumkan tantangan tetapi tidak mengirimkannya kepada Jemaat Ahmadiyah, dan yang lainnya menantang tetapi tidak meminta Tuhan untuk mengutuk siapa di antara mereka yang berdusta, dan hanya meminta supaya kaum Ahmadi saja yang dikutuk. Tetap saja Zia membungkam tidak bersuara. Dalam khutbah tanggal 12 Agustus, Hazrat Khalifah menyatakan bahwa Jendral Zia tidak menunjukkan tandatanda bertobat, baik dalam perkataan atau pun perbuatan. Maka Allah s.w.t. sekarang akan bertindak, kata beliau. "Anda tidak akan mungkin menghindar dari hukuman-Nya," demikian pernyataan beliau. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Lima hari kemudian pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1988, B. A. Rafiq Sahib, mantan Imam Mesjid London, meninggalkan sebuah pesan tertulis untuk Hazrat Khalifah. Di dalam pesan itu ia menceritakan mimpi yang dilihatnya malam sebelumnya. Dalam mimpi itu ia bertemu Zia dan ia menyampaikan bahwa Hazrat Khalifah tidak menginginkan kemudharatan baginya. Zia katanya mengulurkan tangan ke dagunya dan telah mendorong mukanya dengan kasar. Zia mengacungkan jarinya ke arah Rafiq Sahib dan menggeram. Jarinya bergoyang dan ia mengatakan `Aku akan memberinya pelajaran.' Hazrat Khalifah menjawab kepada Rafiq Sahib bahwa Jendral Zia tidak akan memperbaiki kelakuannya. Keangkara-murkaannya akan bertambah-tambah. "Semoga Allah s.w.t. menggagalkan rencana musuh-musuh Jemaat," beliau menambahkan. Beberapa jam kemudian, pesawat Hercules C-130 yang membawa Jendral Zia-ul-Haq, diktator Pakistan dan penindas Jemaat Ahmadiyah, telah meledak di udara. Saat itu jam 15:46 ketika pesawat keperesidenan itu tinggal landas dari pangkalan udara militer di luar kota Bahawalpur di tenggara Pakistan. Pagi itu secara rahasia ia terbang ke sana atas permintaan Mayor Jendral Mahmud Durani, mantan sekertaris militernya yang sekarang menjadi komandan Korps Kavaleri berlapis baja. Hampir semua komandan angkatan darat akan hadir untuk melihat percobaan sebuah tank Amerika Serikat yang baru, kata Durani, dan kalau Zia tidak hadir dikhawatirkan akan dipandang sebagai tindak meremehkan Amerika Serikat. Percobaan tank itu merupakan kegagalan karena tank tersebut meleset dalam menembak sasarannya, namun Zia masih tetap kelihatan gembira ketika makan siang di mess perwira. Setelah makan siang ia berjalan ke arah landasan udara dimana berada pesawat kepresidenan, Pak One, yang dijaga dengan ketat. Zia lalu sujud menghadap Mekah dan kemudian merangkul para jendral yang tinggal untuk kemudian melangkah masuk pesawat. Dalam pesawat C-130 itu ada sebuah `kapsul' ruang penumpang berpengatur udara (A.C.) dan di bagian depan yang merupakan bagian VIP duduklah Jendral Zia beserta Jendral Akhtar Abdul Rehman, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, yang merupakan orang kedua paling berkuasa di Pakistan. Di sisi mereka duduk duta besar Amerika Serikat, Arnold L. Raphael dan pemimpin missi militer USA di Pakistan yaitu Jendral Herbert M.Wassom. Di belakang mereka duduk delapan orang jendral Pakistan lainnya. Sebuah pesawat keamanan Cessna menyelesaikan penerbangan penelitian daerah sekeliling, sebuah penjagaan normal karena enam tahun yang lalu ada yang berusaha menembak jatuh pesawat presiden dengan peluru kendali pencari panas - dan menara pengawas kemudian memberikan izin Pak One untuk mengudara. Setelah pesawat itu mengudara, petugas menara pengawas menanyakan pilot tentang posisinya dan pilot itu menjawab: "Pak One, siap." Selanjutnya tidak ada lagi kontak dari pesawat kepresidenan. Hanya beberapa menit setelah lepas landas, pesawat itu tidak diketahui lagi keberadaannya. Sekitar sepuluh kilometer dari tempat itu, beberapa petani yang sedang menggarap ladangnya melihat sebuah pesawat melayang di langit seperti kereta gantung (roller coaster). Setelah pusingan ketiga, pesawat itu menukik tajam ke tanah dan terkubur dalam tanah berpasir. Pesawat meledak menjadi bola api. Semua 31 penumpang di dalamnya mati seketika atau mungkin juga sebelumnya. Saat itu menunjukkan 15:51. Jadi hanya lima menit setelah pesawat mengudara. Allah s.w.t. telah memberikan keputusan-Nya, kata Hazrat Khalifah dalam khutbah Jumat keesokan harinya. Beliau telah mengingatkan Zia tentang kemurkaan Allah s.w.t. tetapi yang bersangkutan tidak menggubris. Karena itu Tuhan telah menghancurkannya secara total. Tuhan juga telah menghancurkan para jendral yang telah membantunya dalam penyalahgunaan kekuasaan. Tidaklah pantas kita bergembira atas kematian seorang musuh sekalipun, demikian kata Hazrat Khalifah. Karena itu beliau mengirim ucapan bela sungkawa kepada keluarga Jendral Zia. Beliau melanjutkan, "Kita tidak mengingkari bahwa para Ahmadi di seluruh dunia sekarang ini gembira dan berbahagia. Bukan karena seseorang telah mati. Mereka gembira karena mereka telah menyaksikan kemenangan Allah s.w.t. "Pertanda itu menggambarkan bantuan samawi yang telah diberikan Allah s.w.t. kepada kita. Di masa depan, generasi yang akan datang akan selalu mengingat dengan rasa kebanggaan bagaimana Allah s.w.t. telah datang membantu nenek moyang mereka." Banyak dari mereka yang non-Ahmadi sependapat dengan pernyataan beliau. Salah seorang di antaranya adalah Benazir Bhutto, putri dari Zulfikar Ali Bhutto perdana menteri yang digulingkan dan dihukum gantung oleh Zia. "Kematian Zia pasti merupakan tindakan Tuhan," kata Benazir Bhutto. Jurnalis harian Financial Times dari London, Christian Lamb, melaporkan mengenai kematian Zia, katanya "Kerumunan manusia di Islamabad di sore yang cerah itu bisa disalahartikan sebagai orang-orang yang sedang merayakan suatu pesta ... dimana orang-orang yang haus tontonan menikmati piknik di udara terbuka ... Ketika peti mati yang berisi sebutir gigi Zia (karena hanya gigi itu saja yang berhasil ditemukan) diturunkan ke dalam liang lahat, salvo 21 senapan berbunyi." Gigi yang selama ini menertawakan mubahalah sekarang terkubur dua meter di bawah tanah, kata salah seorang Ahmadi. Team yang memeriksa sebab kecelakaan pesawat, satu per satu melalui analisis tehnis mengeliminer berbagai kemungkinan yang bisa menjadi penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Di pesawat itu tidak ditemukan bekas bom karena runtuhannya tidak tersebar ke bidang yang luas. Tidak juga ditemukan bekas jejak peluru kendali pencari panas karena panas yang ditimbulkan pasti memberi bekas pada panel almunium dari kulit pesawat. Juga tidak ada api di dalam pesawat karena dari otopsi Jendral Wassom, kepala Missi Militer USA, ditemukan bahwa yang bersangkutan sudah mati sebelum, bukan sesudah, adanya api yang ditimbulkan oleh kejatuhan pesawat. Tidak juga ada kegagalan mesin karena pemeriksaan menunjukkan bahwa mesin itu sedang berputar dengan kecepatan penuh ketika pesawat menghantam tanah. Pemeriksaan bahan bakar juga tidak menunjukkan adanya kontaminasi dengan bahan apa pun. Begitu pula kendali pesawat tidak ada menunjukkan tanda-tanda telah disabotase. Hercules Pak One memiliki tiga set kendali dan para peneliti tersebut sudah memastikan bahwa semua kendali itu berada dalam keadaan laik jalan. Satu-satunya kemungkinan yang tinggal adalah bisa jadi pilot, dan barangkali semua penumpangnya, tiba-tiba kehilangan kesadaran. Bagaimana hal ini bisa terjadi, para peneliti itu tidak bisa menjawab. Mengapa hal itu terjadi, seluruh dunia mengetahuinya. [Non-text portions of this message have been removed]

