Assalamulaikum.wr.wb. Belakangan ini kita mendengar atau membaca pernyataan MUI soal Ahmadiyah sebagai non-muslim dengan merujuk pada keputusan Dewan Nasional Pakistan tahun 1974.
Keputusan tersebut memang telah dikeluarkan tetapi fakta dibalik keputusan tersebut tidak akan mereka sampaikan malah mungkin akan disembunyikan atau memang mereka tidak tahu. Kenapa setelah berjalan berpuluh tahun baru Ahmadiyah dipermasalahkan pemerintah Pakistan, kenapa tidak sejak awal ketika Pakistan baru berjuang merdeka dari India. Berikut cuplikan bab ke sebelas dan duabelas dari buku A Man Of God yang diterjemahkan oleh Alm. A.Q.Khalid yang berisi informasi mengenai latar belakang keputusan Pakistan tersebut dan bagaimana peran Zulfikar Ali Bhutto yang sangat berambisi mendirikan khilafah Islam dan bukan kebetulan saat ini juga keinginan untuk mendirikan khilafah Islam sedang ditumbuh kembangkan di negeri kita Indonesia ini. Wassalam tata Apache BAB SEBELAS BHUTTO DAN ALIRAN KOMUNIS Zulfiqar Ali Bhutto, Menteri Luar Negeri Pakistan, menjadi pahlawan nasional karena pembelaannya yang berapi-api di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa. Pakistan tidak akan mungkin meninggalkan umat Muslim di Kashmir, katanya, dan tidak perduli berapa pun lamanya, suatu waktu mereka akan bergabung dengan negeri induknya. "Pidatonya memang oratori yang bagus sekali dan ia langsung menjadi pahlawan bangsa," kenang Mirza Tahir kemudian. "Saudaraku Mirza Nasir, yang waktu itu belum menjadi Khalifah, tetapi karena kesehatan ayahanda setelah usaha pembunuhannya, menjadi wakil atas nama beliau dalam segala bidang, meminta aku pergi ke Islamabad dan bertemu dengan Bhutto. Beliau memintaku menyampaikan kepada Bhutto bahwa Jemaat amat terkesan dengan pidato-pidatonya, bahwa kita mendukung pandangannya dan menawarkan bantuan apa saja yang mungkin sebagai penduduk Pakistan. "Ketika Bhutto menyadari tujuan kedatanganku, ia segera mengajak aku keluar dari ruang keluarga karena tidak aman berbicara di situ. Ia membawaku ke ruangan lainnya yang hanya berisi satu meja dan beberapa kursi. Kami berbicara dan kami menjadi amat bersahabat." Pertemuan itu adalah yang pertama dan mereka tidakbertemu lagi selama beberapa tahun, sampai kemudian Bhutto mengirim pesan kepada Mirza Tahir untuk menemuinya. Bhutto sebelumnya dipenjara menurut hukum militer tetapi karena sekarang menghadapi pemilihan umum ia dilepaskan agar bisa mengikutinya. Mirza Tahir memberitahukan hal ini kepada Mirza Nasir yang baru saja terpilih sebagai Hazrat Khalifah Ketiga dan beliau mengizinkan Mirza Tahir menemui Bhutto. Mereka bertemu di rumah Bhutto. Bhutto sangat ramah, kenang Mirza Tahir, dan langsung membicarakan rencana kampanye politik dan kebutuhan dana untuk pembiayaannya. Ia juga berbicara tentang pidato yang akan disampaikan melalui televisi hari berikutnya. Ketika Mirza Tahir minta untuk bisa melihatnya, Bhutto memanggil Dr. Mubashir yang menyiapkan perencanaan kampanye. Ia meninggalkan mereka berdua dan pergi menghadiri sebuah rapat. "Aku menyukai Dr. Mubashir. Orangnya lurus, jujur dan berfikiran dewasa. Kemunafikan merupakan suatu yang asing baginya," kata Mirza Tahir. Namun Mirza Tahir tidak setuju dengan rencana kampanye itu. Mirza Tahir mengingatkan bahwa istilah-istilah muluk tentang sosialisme ilmiah tidak akan bisa diserap oleh rakyat kebanyakan. Prinsip filososfi keadilan menurut Nabi Muhammad s.a.w. lebih penting. Ia menyarankan agar mereka menggunakan terminologi Islam. Menurut pandangan Mirza Tahir, ekstrim kiri dari partai itu sedang berusaha menguasai Bhutto. Mereka mencoba memanfaatkan popularitas pribadi Bhutto dan mengalihkannya menjadi popularitas dari komunisme. "Ketika Bhutto kembali dari rapat ia mendengarkan aku dengan penuh perhatian. Minatnya tidak lagi pada berapa besarnya dana kampanye yang diharapkannya dari kami, yang telah kukatakan tidak mungkin karena kami ini organisasi keagamaan, tetapi pada saran-sarang yang aku berikan." Mirza Tahir memberikan saran-saran yang lebih lagi bersifat krusial bagi Bhutto. Kebanyakan orang yang terkait dengan Pakistan Peoples Party pada saat itu menurut pandangannya adalah tipe-tipe manusia pemburu harta. Tetapi tidak demikian dengan mereka yang bersifat ekstrim kiri di antara peserta partai itu. Mereka ini terorganisir rapih dan memiliki dedikasi tinggi. "Mereka sudah memastikan bahwa 70 persen dari kandidat yang tercantum dalam daftar jadi untuk pemilihan anggota National Assembly adalah komunis atau simpatisannya. Kalau mereka sampai terpilih maka Pakistan akan dikuasai komunisme. "Aku sampaikan informasi ini kepada Bhutto dan aku katakan jika ia memang ingin adanya pengambil-alihan kekuasaan oleh kelompok komunis maka silakan saja. Kalau tidak, sebaiknya ia meneliti ulang daftar calon jadi tadi dan melakukannya dengan sangat hati-hati. "Yang kemudian terjadi menunjukkan bahwa Bhutto tidak ingin dikuasai baik oleh aliran kiri mau pun kanan. Ia ingin memelihara dan menguasai keseimbangan yang rapuh di antara keduanya." Bhutto kemudian memanggil rapat anggota senior partai itu dan bergegas mengeluarkan press release bahwa daftar tersebut belum final. Dibentuk komite anggota-anggota senior partai untuk meneliti ulang daftar calon tersebut dan memberikan rekomendasi. Akibatnya cukup banyak calon yang digugurkan. Mereka yang tersisa kemudian memperoleh kemenangan mutlak dalam pemilihan umum. Bhutto sendiri dipilih sebagai Perdana Menteri. Mengenai periode kehidupan ini, salah seorang amir mengatakan, "Mirza Tahir Ahmad yang masih muda itu menunjukkan penguasaan mendalam tentang masalah-masalah yang dihadapi negeri ini dan kemampuan, enerji serta keteguhan sikapnya yang luar biasa muncul di saat usaha pencapaian sasaran yang dikejarnya. Ia menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang luar biasa, enerji yang tidak ada habisnya serta stamina." Setelah pemilihan umum, Mirza Tahir menemui Bhutto. "Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal, tuan" kata Mirza Tahir. Bhutto terkejut, "Kenapa selamat tinggal?" ia bertanya. Mirza Tahir menjawab bahwa mulai sekarang Bhutto akan dikelilingi oleh para penjilat yang hanya akan memujimujinya dengan kata-kata manis saja. "Sedangkan aku hanya bisa memberikan kenyataan yang bersifat pil pahit dan anda tidak akan menyukainya." Bhutto menjawab bahwa ia tahu kalau Mirza Tahir adalah orang yang jujur dan ia tidak akan marah atas apapun disampaikan olehnya. Mirza Tahir masih terus bertemu dengan Bhutto ketika yang bersangkutan menjadi presiden dan kemudian menjadi perdana menteri. Umumnya mereka membicarakan situasi di Pakistan dan tentang Pakistan Peoples Party yang tidak memenuhi janji-janji saat kampanye. Beliau juga bertemu Bhutto untuk mengadukan perlakuan tidak adil oleh pemerintah terhadap Jemaat Ahmadiyah dimana tanah dan sekolah-sekolah mereka telah diambil alih. Secara berangsur Mirza Tahir menyadari bahwa Bhutto dikelilingi oleh elemen-elemen anti-Ahmadiyah, baik di dalam mau pun di luar Pakistan Peoples Party dan naïf sekali kalau mengharapkan Bhutto akan mau membahayakan reputasi politiknya dengan cara melindungi hak-hak kaum Ahmadi. Persahabatan di antara mereka mulai meredup, namun selama periode itu Bhutto tetap sopan, santun dan toleran terhadap semua kritikan. Sebagaimana janjinya, ia tidak pernah marah atas apa yang dikatakan oleh Mirza Tahir. BAB DUABELAS SEORANG KHALIFAH UNTUK DUNIA MUSLIM? Bhutto meminta Mirza Tahir untuk berkunjung sekali sebulan, tetapi secara berangsur pertemuan di antara mereka menjadi bertambah jarang. Ketika Bhutto memanggil pulang M. M. Ahmad Sahib dari Washington untuk berkonsultasi mengenai Anggaran Negara, ia mengeluhkan bahwa Mirza Tahir tidak lagi mau datang. Kalau nanti Ahmad Sahib ke Rabwah dimintanya untuk membujuk agar Mirza Tahir mau meneruskan kunjungannya. Bhutto juga langsung menghubungi Hazrat Khalifah untuk meminta agar Mirza Tahir meneruskan kunjungannya. Ketika kemudian Mirza Tahir bertemu lagi dengan Bhutto, Ahmad Sahib ada besertanya. Kejadiannya adalah di rumah kediaman resmi perdana menteri dengan perjamuan teh yang diadakan di taman yang luas. "Perdana Menteri bangkit dari kursi malasnya dan merangkul Mirza Tahir sambil mengatakan `Inilah orang yang tidak mau lagi ketemu saya'" kenang Ahmad Sahib. Mirza Tahir mengenang periode persahabatan itu dengan sangat jelas. "Dalam tahun 1973 di Pakistan, Bhutto mengadakan konferensi besar dari negara-negara Islam. Ia adalah orang yang berambisi menjadi pimpinan dunia karena Pakistan dianggapnya panggung yang terlalu kecil. Ia pernah mencoba menjadi pemimpin dari Dunia Ketiga yang merupakan bekas-bekas koloni Inggris, Perancis dan negara-negara kolonial lain dulunya. Namun posisi itu sudah diisi oleh Nehru dan putrinya, Indira Gandhi. Karena itu ia memutuskan akan menjadi tokoh politik yang menonjol dari dunia Islam, terutama dengan bantuan Saudi Arabia. Sebagai imbalannya, Saudi Arabia akan menjadi pemimpin keagamaan dari dunia Islam. Raja Saudi Arabia nantinya menjadi Khalifah dari dunia Muslim. "Sebelumnya Paus Katolik telah menghimbau semua umat Muslim untuk bersatu dan bergabung kekuatan dengan umat Kristiani dalam menghadapi komunisme, dimana himbauan itu khusus diajukan kepada Raja Faisal. Sampai dengan saat itu sebenarnya Saudi Arabia tidak banyak memiliki kekuatan politis. Mereka memang memiliki kekayaan melimpah dan menikmati kedudukan sebagai pemelihara Baitullah di Mekah dan bangunan suci lainnya yang terkait dengan Rasulullah s.a.w. "Hanya saja potensi raksasa tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan dan ditransformasikan menjadi kekuatan politis. Bagi Barat akan menguntungkan jika Raja Faisal bisa jadi pemimpin keruhanian Islam. Jika umat Muslim mendengar panggilan dari menara-menara di Mekah, mereka akan menerimanya sebagai panggilan Tuhan. Mereka tidak akan menyadari bahwa itu hanyalah pengeras suara yang dipasang di Mekah. Mikrofonnya sendiri dioperasikan dari suatu tempat di Barat. "Namun institusi khilafat yang ada dalam Jemaat Ahmadiyah dianggap sebagai penghalang. Dunia tidak mungkin memiliki dua khalifah. Karena itu kami ini harus dimusnahkan. Kami harus dideklarasikan sebagai non-Muslim. "Kebanyakan rakyat Indonesia menganut paham Syafii sedangkan orang Saudi adalah penganut Wahabi, jadinya mereka tidak sepaham. Muslim di Afrika beraliran Maliki sedangkan yang di Turki beraliran Hanafi dan mereka ini bermusuhan dengan sekte Wahabi. Karena itu para ulama mereka tidak akan mau menerima uang Saudi jika langsung berupa suapan dengan arahan `Ini uangnya, sekarang terima pengaruh kami.' Tetapi jika uang itu berbentuk bantuan untuk madrasah-madrasah dan mesjid yang didomplengi kampanye anti-Ahmadiyah, maka para ulama itu akan mau menerimanya. Dengan cara demikian pengaruh kaum Wahabi akan meningkat di seluruh dunia Muslim tanpa ada yang menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi." Rencana itulah yang terbaca oleh Mirza Tahir yaitu skenario Raja Faisal sebagai Khalifah dunia Muslim sedangkan Bhutto sebagai otak politiknya. Mirza Tahir mengemukakan konklusinya itu kepada Aziz Ahmad, Menteri Luar Negeri Pakistan dan menambahkan bahwa ia memiliki informasi akan adanya kampanye anti-Ahmadiyah pada konferensi Islam tersebut. Aziz mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin, tidak ada rencana seperti itu dan propaganda keagamaan dalam bentuk apa pun dilarang pada saat konferensi. Kegiatan tersebut merupakan konferensi negara-negara Islam tetapi bukan konferensi keagamaan. Tidak ada organisasi keagamaan yang diizinkan untuk mengeluarkan selebaran atau menyerahkan dokumen apa pun kepada para delegasi. Katanya, sudah cukup sulit untuk mengajak Syria dan Jordania yang secara politis bermusuhan, duduk bersama tanpa menambah-nambahnya lagi dengan masalah perbedaan agama. Ketika Mirza Tahir bertemu dengan Bhutto, dikemukakan juga kekhawatiran tersebut. Bhutto meyakinkan bahwa tidak akan ada propaganda anti Jemaat. Tetapi Mirza Tahir sudah memegang beberapa selebaran yang dibuat oleh Jamaat Islami dan organisasi lain yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah. Selebaran itu sengaja disiapkan untuk dibagikan kepada para delegasi kongerensi. Kecurigaan Mirza Tahir ternyata benar saat konferensi itu dimulai. Bhutto telah meminta kepada Angkatan Darat untuk menunjuk beberapa perwira sebagai ajudan bagi kepala-kepala negara dan perwakilan yang menghadiri konferensi. Beliau memperhatikan bahwa tidak ada perwira Ahmadi yang diikutkan. Meskipun dirahasiakan, nyatanya bocor juga. Seorang perdana menteri dari salah satu negara Afrika menyerahkan keseluruhan paket isi konferensi kepada seorang Ahmadi kenalannya. Ia ini meneruskannya kepada Mirza Tahir. Dokumen itu berisi penghujatan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Sebagian sudah pernah dilihatnya, yang lain tadinya hanya pernah didengar. Sebagian terbesar dibuat dengan tujuan tunggal mendiskreditkan Jemaat Ahmadiyah dan menghina Khalifahnya. Idi Amin, diktator sinting dari Uganda, mengusulkan agar Faisal dari Saudi Arabia ditunjuk sebagai Khalifah dunia Muslim, tetapi usulan yang disiapkan oleh para pendukung Saudi itu, ternyata tidak ditanggapi peserta lainnya. Terlalu banyak perbedaan politis di antara negeri negeri peserta sehingga tidak mungkin dicapai kesepakatan mengenai suatu hal yang akan berdampak jauh tersebut. Lagi pula sebagai politisi, mereka itu terlalu cerdik untuk mau terlibat langsung. Memanfaatkan perbedaan agama untuk kepentingan politik tidak sama dengan menunjuk seseorang, dengan alasan politis, untuk menjabat tugas yang hanya datang dari Tuhan. Adalah Tuhan yang menunjuk siapa yang akan menjadi nabi dan pengikut nabi itulah berdasarkan bimbingan Tuhan yang akan memilih penerus kerja nabi tersebut yaitu seorang khalifah. * * * Dengan demikian kampanye Bhutto untuk memperoleh kemashuran internasional menjadi gagal. Tidak lama kemudian ia maju dengan penentangan terbuka terhadap Jemaat Ahmadiyah. Hasilnya adalah rancangan undang-undang yang menyatakan bahwa para Ahmadi sebagai non-Muslim. Hazrat Khalifah Ketiga memimpin delegasi lima orang secara khusus ke Dewan Nasional yang sedang membahas rancangan undang-undang tersebut secara tertutup. Mirza Tahir adalah anggota delegasi yang termuda - "sebagai penghargaan atas pengetahuan, kebijakan dan pemahaman yang mendalam atas sejarah dan tradisi Jemaat" kata seorang amir di kemudian hari. Pada tahun 1974 Dewan Nasional Pakistan menyatakan bahwa Ahmadiyah sebagai non-Muslim. Sejak saat itu para Ahmadi tidak lagi boleh melakukan ibadah haji ke Mekah. Banyak perwira senior di angkatan darat dan udara dipensiun sedangkan perwira-perwira muda Ahmadi mengalami halangan dalam promosi karirnya. Hal yang sama terjadi di semua bidang dan lembaga pemerintahan. Para duta besar Ahmadi memaklumi bahwa mereka tidak akan mendapatkan lagi penugasan yang penting. Dosen-dosen di universitas tidak akan lagi bisa jadi profesor. Dokter di rumah sakit tidak akan mungkin lagi jadi kepala bagian. Dalam posisi-posisi yang masih baru seperti telekomunikasi dan komputer, teknisi yang baru lulus melihat bahwa kawannya yang lulus dengan kualifikasi lebih rendah mendapat tempat yang lebih baik dari mereka. Keadaan seperti itu memang menggembirakan bagi para musuh Jemaat tetapi siapa yang bisa mengatakan bahwa hal seperti itu merupakan cara memilih orang yang terbaik. Mengalami pengingkaran memperoleh kesempatan yang sama di dalam negerinya, orang-orang Ahmadi mulai melirik negeri-negeri lain. Mulailah mereka beremigrasi ke Inggris, Jerman, Kanada, Amerika Serikat dan negeri-negeri lainnya. Sebagaimana biasa, justru yang muda, sehat dan terpelajar yang sebenarnya merupakan kekayaan suatu negeri, yang berani mengambil risiko beremigrasi. Kehilangan bagi Pakistan merupakan keuntungan bagi negeri-negeri lain. Jemaat Ahmadiyah memprotes bahwa rapat Dewan Nasional dilakukan secara tertutup sehingga rakyat Pakistan tidak mengetahui apa yang menjadi dasar dari undang-undang dimaksud. Jemaat menuntut agar Dewan mempublikasikan notulen dari perdebatan yang terjadi. Pemerintah Bhutto menolak. Mereka terus saja menolak meskipun tuntutan mengenai publikasi notulen itu bertambah kuat setiap harinya. "Mengapa kita tidak mempublikasikan notulen itu?" bertanya seseorang kepada salah satu menteri senior ketika yang bersangkutan berbicara di hadapan rapat para pengacara hukum. Menteri tersebut menatap si penanya dan berkata menyeringai "Apakah anda ingin seluruh Pakistan masuk menjadi anggota Jemaat?" Ketika penganiayaan terhadap Jemaat bertambah keras, mulailah ada yang bergumam tentang peran yang dilakukan Mirza Tahir. Beliau mengenang, "Aku memahami bahwa banyak yang jengkel kepadaku pada masa itu. Mereka mengatakan, `Kalau anda tidak menolong Bhutto, jika anda tidak mengajak kami berfikir menganggap dia yang terbaik untuk dipilih, maka keadaannya mungkin akan lain.' "Aku tidak pernah menyesali peran yang aku mainkan bagi kemaslahatan negeri pada saat itu, tidak juga sekarang, karena aku tahu alternatifnya malah lebih buruk lagi. Namun aku memang mrasa pedih sekali karena adanya aniaya yang dilakukan terhadap kami. Aku berdoa semoga Allah s.w.t. membalaskan bagiku. Aku juga berdoa agar mereka yang menganiaya kami dihukum Tuhan. Banyak sekali malam-malam kulewati tanpa tidur. "Suatu malam aku terhentak bangun dari tidurku. Aku berada dalam kempaan suatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, walaupun mirip dengan pengalaman tentang wahyu yang aku terima ketika masih remaja. Aku tanpa disadari mengucap berulang-ulang `Aadha wa Aamr, Aadha wa Aamr' (artinya `lebih destruktif, lebih pahit') dengan suara keras dan kuat di luar kendaliku. Aku mengulangulangnya terus. "Aku pernah membaca wahyu jenis ini yaitu ketika kita mengulang-ulang suatu kata tanpa kendali, tetapi artinya juga kurang dipahami. Hanya saja kita berada dalam keadaan tanpa daksa dihimpit suatu kekuatan yang memaksa kita mengulang terus suatu kata. "Gemetar tubuhku saat mengulang-ulang kata tersebut. Kemudian aku siuman dan menyadari kata-kata yang aku ucapkan itu dan mengapa. Secara umum aku mengerti artinya tetapi tidak paham yang tersirat. Karena itu aku bangun dan menyalakan lampu dan mencari di dalam Al-Quran ayat yang mengandung kata-kata itu. "Sejak saat itu aku sepenuhnya tawakal kepada Allah s.w.t. mengenai apa pun yang Dia akan bukakan." Pemerintahan Bhutto bertambah tidak stabil tetapi ia berjuang mati-matian untuk bisa tetap menggenggam kekuasaan. Berdasar pertimbangan politis ia menciptakan dan membubarkan koalisi dengan pihak-pihak lain yang dianggapnya bisa memperbaiki keadaan. Dalam bulan Juli 1977 ia digulingkan melalui kudeta yang dilancarkan Jendral Zia-ul-Haq, orang yang ditunjuknya sendiri sebagai kepala staf angkatan darat. Dua tahun kemudian, meskipun diprotes oleh dunia internasional, Jendral Zia memutuskan mengadili Bhutto atas dakwaan pembunuhan terhadap ayah seorang musuh politiknya. Pengadilan memvonis Bhutto dengan hukuman mati. Dunia internasional memprotes hukuman yang dianggap sebagai rekayasa politis dan bukan suatu keputusan hukum yang adil dan obyektif. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa Jendral Zia akan benar-benar menjalankan vonis tersebut walaupun ia sangat ingin menyingkirkan Bhutto. Suatu pagi, dua tahun kemudian, ketika masih gelap di luar rumah, Mirza Tahir terbangun seketika. "Aku mempunyai perasaan yang sangat intens bahwa ada sesuatu yang telah terjadi. Aku berbaring dengan mata terbuka sampai saat shalat subuh. Biasanya aku jarang menyimak radio di pagi hari, tetapi di pagi itu aku mendengarkan. Yang pertama aku dengar adalah Bhutto telah mati digantung." [Non-text portions of this message have been removed]

