Oleh NINOK LEKSONO
How can you stop, the Sun from shining
What makes the World go round...
("How Can You Mend a Broken Heart", The Bee Gees)
Menarik
juga lagu The Bee Gees yang legendaris itu. Bagaimana dalam lirik sebuah lagu
yang berkisah tentang patah hati bisa disisipkan fakta ilmiah yang penting itu.
Ya, karena Matahari (bersinar)-lah lalu Bumi-dengan segenap kehidupan yang ada
di atasnya-bisa bergerak mengelilinginya. Gerakan yang disebut sebagai revolusi
inilah yang melahirkan tahun, yang pergantiannya baru saja dirayakan oleh umat
manusia di berbagai penjuru dunia.
Sebelum mengupas lebih lanjut tentang revolusi Bumi, ada kata lain-dengan
perbedaan hanya satu huruf-yang juga populer di seputar pergantian tahun.
Itulah dia "resolusi", atau ketetapan hati (untuk melaksanakan satu atau
sederet hal).
Tentang resolusi, dari tahun ke tahun, manusia demikian kreatif
menyusunnya-lazimnya untuk perbaikan dalam kesehatan, karier, keuangan,
hubungan kekeluargaan dan persahabatan, dan roman. Apakah resolusi tersebut
dilaksanakan atau tidak, ini soal lain. Yang juga menarik, di antara resolusi
yang terkirim melalui pesan pendek SMS, ada juga yang mengambil metafora benda
langit, khususnya bintang, Matahari, dan Bulan. Ada yang berharap pada tahun
2008 kenalannya bisa
jadi terang seperti Matahari.
Perjalanan Bumi
Selepas 1 Januari, manusia pun kembali rutin menyusuri hari demi hari, hingga
akhir nanti, yang lebih kurang seabad. Sementara Bumi masih akan setia
menyusuri hari demi hari mengelilingi Matahari, dalam revolusi yang
sudah berlangsung selama 4,5 miliar tahun dan masih akan berlangsung 4,5 miliar
tahun lagi.
Selepas tanggal 1 Januari ini, kira-kira pada pekan pertama tahun, Bumi akan
mencapai titik perihelium-titik terdekat dengan Matahari-di mana jarak
Bumi dari Matahari adalah 147.072.376 kilometer.
Oleh revolusi Bumi, juga karena sumbu Bumi miring 23,5 derajat terhadap
bidang orbit mengelilingi Matahari, Matahari seolah bergerak ke utara.
Pertama, Matahari akan terlebih dulu mencapai ekuator pada tanggal 21
Maret. Pada titik yang disebut Ekuinoks ini, musim semi pun dimulai
untuk belahan bumi utara, sementara di belahan bumi selatan dimulai
musim gugur. Titik ini juga disebut dengan Ekuinoks Maret, Ekuinoks Musim Semi.
Selanjutnya, Matahari akan mencapai Garis Balik Utara (Solstitium) pada tanggal
21
Juni, saat yang juga dikenal sebagai Solstitium Musim Dingin untuk
belahan bumi selatan. Setelah tiga bulan memberi musim panas di belahan
bumi utara, Matahari bergerak kembali ke selatan, dan mencapai Ekuinoks
Musim Gugur pada tanggal 22 September. Sekitar 2-6 Juli, Bumi akan
mencapai titik terjauh dari Matahari atau Aphelium, yaitu pada jarak
152.060.540 kilometer.
Dari situ, perjalanan Sang Surya pun berlanjut ke selatan dan mencapai
Solstitium Musim Panas pada tanggal 22 Desember. Pada tanggal inilah
hari paling pendek bagi belahan bumi utara, dan terpanjang bagi belahan
bumi selatan.
Demikianlah siklus tahunan yang terjadi bagi Bumi yang disebabkan oleh
pergerakannya mengelilingi Matahari. Dalam siklus yang menghasilkan
musim dan cuaca yang berganti-ganti itu terpola kegiatan manusia dan
juga flora dan fauna.
Oleh sifatnya yang rutin, siklus tersebut bisa dikatakan telah diterima apa
adanya dan jarang merambah alam kesadaran. Manusia lebih akrab dengan
perubahan waktu dan musim sebagaimana tercetak pada kalender.
Tidak terasa memang bahwa manusia dan kehidupan lain di dunia sedang menaiki
kapal angkasa bernama Bumi yang melaju sepanjang tahun mengelilingi
Matahari dengan kecepatan 107.275 kilometer per jam!
Di luar revolusi Bumi mengelilingi Matahari, sebenarnya ada gerakan lain
yang lebih subtil dan lebih tidak terasa. Matahari, bersama Bumi dan
planet-planet lain, mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan
kecepatan 250 kilometer per detik. Para astronom mengamati bahwa tata
surya kini sedang bergerak menuju Konstelasi Lyra. Matahari dan
planet-planetnya akan menggenapi revolusi mengelilingi pusat Galaksi
dalam tempo 200 juta-250 juta tahun. Sungguh kurun yang teramat panjang
untuk ukuran manusia.
Kalau kemakmuran bisa ditingkatkan melalui pengelolaan sumber daya dan
pemanfaatan iptek yang cerdas, kesempatan untuk memelihara kelangsungan
umat manusia di Bumi itu terbuka lebar.
Sebaliknya, kalau dalam setiap resolusi tahunan manusia tidak sedikit pun
terdapat
tekad untuk menyongsong masa depan, maka benih kepunahan itu telah
disemaikan sejak sekarang.
Harapan yang disampaikan oleh sahabat agar 12 bulan di tahun ini berisikan
kebahagiaan, 52 minggunya merupakan sukacita, 365 harinya penuh tawa
ria, 8.760 jamnya merupakan keberuntungan, dan 525.600 menitnya
merupakan sukses, sungguh amat sadar tentang dimensi waktu.
Harapan itu sah saja. Namun, pada sisi lain, setiap elemen waktu yang
disebutkan di atas juga punya makna sendiri. Mungkin saja hitungan
menit, jam, hari, bulan, dan tahun untuk revolusi Bumi yang sudah 4,5
miliar tahun tak banyak artinya (insignifikan). Tetapi tiba-tiba saja
Bumi terasa makin panas, dan cuaca ekstrem sudah jadi realitas di depan
mata.
Dalam perspektif itulah "resolusi dalam (konteks) revolusi" bisa dilihat
sebagai satu agenda dalam penetapan prioritas untuk masa depan untuk
ras manusia dan kehidupan lainnya.
Kompas - 2 Januari 2008
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]