"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas 
jalan yang benar dari pada jalan yang sesat." (Al Baqarah: 256)

bsugih2001 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          
Sanfrancisco, Houston, Denver, Los Angles, Washington, New York, 
Chicago, adalah nama kota2 yang terletak di Negara " Kafir ". Untuk 
neningkatkan Iman dan Taqwa dari anak2 Muslim maka dilakukan 
kegiatan " Sunday School ". Itu adalah hal yang sangat baik.

Di Indonesia, Negara " Non-Kafir ", juga ada kegiatan serupa oleh 
orang2 Kristen. cuma kegiatan ini akhir2 ini agak terganggu karena 
dengan adanya SKB, sehingga bisa dianggap sebagai gereja liar. 
Karena " keterbatasan dan Ketidakmampuan " Aparat sehingga 
diperlukan FPI atau MUI yang turun tangan. Kalau perlu Gebuk, Bakar 
sambil memuji kebesaran Allah.

Kembali ke Negara " Kafir ". apakah disana ada SKB 2 Menteri tentang 
Membangun rumah ibadah yang mana harus mendapat persetujuan warga 
disekelilingnya ??? atau ada Front Pembela Kristen, Majelis Pendeta 
Kristen, atau Aliansi Anti Permutratan ??? yang merazia orang2 
Muslim yang melakukan kegiatan Pengajian keluarga ??? apakah 
kegiatan tersebut di perlukan Ijin dari Masyarakat disekitarnya ??? 
yang tentunya adalah Non-Muslim.

Cuma disayangkan, oleh penulis tidak disebutkan kegiatan " Sunday 
School " dilaksanakan dimana, Disekolah ???, Di Mesjid ???, atau 
Dirumah Warga Muslim???

Kutipan : " Manusia sampai kapan pun tidak akan pernah bisa 
menghindar dari Islam. Sungguh aku katakan: "Kebutuhan manusia 
terhadap Islam sebenarnya seperti kebutuhan ikan terhadap air. Bila 
manusia tanpa Islam ia pasti mati jiwanya. Ia berjalan tanpa ruh. 
Tidak punya arah. Tidak tahu mau kemana harus melangkah". Allahu 
a'lam bish shawab. "

Demikian juga dengan orang2 Non-Muslim, Mereka memerlukan Tuhannya 
bagaikan Ikan membutuhkan Air.

--- In [EMAIL PROTECTED], sFe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kaifa Ihtadaitu
> 2/1/2008 | 23 Dzulhijjah 1428 H | Hits: 6
> Anak-Anak Muslim Yang Cerdas Oleh: DR. Amir Faishol Fath 
> ---------------------------------
> 
> Udara malam itu di Sanfrancisco masih sangat dingin. Kota yang 
indah ini memang terletak di tepi laut yang membentangkan kemaha-
indahan Allah Sang Pencipta. Siapa pun yang datang ke kota ini akan 
terkagum dengan pemandangan alamnya. Sayangnya banyak orang yang 
diam di dalamnya tidak tahu cara mensyukuri keindahan tersebut. 
Mereka mengira bahwa untuk membalas nikmat yang demikian agung itu 
cukup hanya dengan tertawa-tawa, membuka aurat di tepi pantai, 
berfoto-foto, mabuk-mabukan dan lain sebagainya. 
> 
> Mereka mengira bahwa gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka 
bangun itu sudah cukup sebagai bukti syukurnya kapada Allah. Mereka 
tidak tahu cara mensyukuri nikmat itu, sebab mereka tidak belajar 
tuntunan Allah Sang Pencipta. Mereka mengira itu cara bersyukur yang 
baik. Padahal itu menodai keindahan ciptaanNya. Mereka bingung, 
karena mereka sendiri tidak mau belajar bagaimana seharusnya hidup 
yang benar menurut Sang Pencipta. Sungguh Allah mempunyai tujuan 
yang sangat mulia dalam segala ciptaanNya. Tidak ada maksud Allah 
dalam menciptakan segala keindahan di muka bumi ini untuk kesia-
siaan. Tidak mungkin Allah menciptakan alam yang sedahsyat ini, 
dengan tujuan agar manusia berfoya-foya dengan dosa-dosa.
> 
> Perhatikan di malam itu, ternyata aku menyaksikan kenyataan yang 
sangat luar biasa. Di sebuah rumah tempat aku bersinggah, aku 
mendengar suara seorang ibu sedang mengajarakan anaknya membaca Al 
Qur'an. Padahal ibu itu baru saja kembali dari tempat kerja. Dari 
wajahnya nampak rasa lelah yang masih belum hilang. Ibu itu telah 
mensyukuri keindahan kota dengan cara seperti yang Allah ajarkan. 
Ibu itu tidak suka kalau anaknya nanti tidak tahu tuntunan Allah. 
Dalam sebuah obrolan ibu itu berkata: 
> 
> "Aku tidak mau anakku seperti mereka yang bodoh itu. Aku takut 
kalau anakku nanti tersesat jalan. Karenanya akau harus bersungguh-
sungguh mengejarkan anakku Al Qur'an".
> 
> Memang kekhwatiran akan masa depan anak dari segi moral dan agama 
sering kali aku dengar dari beberapa keluarga muslim Indonesia di 
Amerika. Benar, secara pendidikan umum anak-anak mereka tidak akan 
kehilangan masa depan. Tetapi dari sisi moral dan agama mereka 
sangat khawatir. Karena itu mereka selalu berusaha untuk mengikutkan 
anak-anak mereka dalam program sekolah agama setiap hari Ahad " 
Sunday School". 
> 
> Kegiatan ini hampir merata. Tidak saja di kalangan umat Islam 
Indonesia, tetapi juga di kalangan umat Islam Amerika secara umum. 
Di beberapa kota yang sempat aku kunjungi seperti Houston, Denver, 
Los Angles, Washington, New York, Chicago dan Sanfrancisco, selalu 
aku temui penampilan anak-anak kecil membaca Al Qur'an. Mereka 
ternyata bisa tampil dengan sangat mengagumkan. Bahkan di sebagian 
kota seperti Denver ada anak-anak yang menampilkan lagu nasyid. 
Penampilan itu menambah cerah suasana malam Ramadhan. 
> 
> Di Houston ada perlombaan menulis artikel Islam tentang 
Ramadhan. Hasilnya memuaskan. Di Washinton anak-anak mereka sangat 
kritis. Ketika dibuka pertanyaan, ada yang bertanya: "Mengapa Allah 
mengutus nabi dari laki-laki saja kok tidak perempuan?"
> Anak-anak kecil di Amerika memang dididik kritis dan berani. 
Karena itu, setiap mereka ditegur selalu bertanya: why? Karenanya 
orang tua mereka harus pandai memberikan alasan. Jika tidak, mereka 
tidak mau menerima teguran begitu saja. 
> 
> Memang banyak pengakuan dari orang tua: bahwa mereka seringkali 
sangat kerepotan untuk menjawab. Terutama jika masalahnya berkenaan 
dengan agama. Karena itu para orang tua di Amerika banyak yang 
semangat belajar ilmu agama. Mereka terdorong bukan saja karena 
harus menjawab pertanyaan sang anak yang sangat kritis, tetapi juga 
mereka harus memberikan contoh yang baik sesuai dengan tuntunan 
Islam. Contoh dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Bagi para orang 
tua, Islam memang harus dipelajari. Tidak sedikit dari mereka yang 
menyesal mengapa dulu ketika masih muda tidak belajar Islam dengan 
sungguh-sungguh.
> 
> Memang semasa di Indonesia tantangan untuk belajar Islam tidak 
sedahsyat di Amerika. Di Indonesia mereka masih mendengar adzan, 
masih banyak orang berjilbab, masih banyak orang Islam, masih banyak 
pesantren dan sekolah Islam. 
> 
> Tetapi setelah mereka di Amerika, tidak bisa tidak mereka harus 
belajar Islam, tidak saja untuk diri mereka tetapi lebih dari itu 
untuk anak-anak mereka. Inilah gambaran bahwa Islam tidak boleh 
disepelekan. Bagaimana pun Islam tetap agama fitrah. Islam kebutuhan 
fitrah manusia. 
> 
> Manusia sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menghindar dari 
Islam. Sungguh aku katakan: "Kebutuhan manusia terhadap Islam 
sebenarnya seperti kebutuhan ikan terhadap air. Bila manusia tanpa 
Islam ia pasti mati jiwanya. Ia berjalan tanpa ruh. Tidak punya 
arah. Tidak tahu mau kemana harus melangkah". Allahu a'lam bish 
shawab. 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Send instant messages to your online friends 
http://uk.messenger.yahoo.com
>



                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke