Saya sangat hormat pada pak Siradj. namun bagaimanapun, kalimat 
beliau ini sangat menggelitik untuk saya kritik:



"Dengan beragama, manusia bisa melakukan transendensi diri untuk 
mencapai apa yang ada di luar kemampuan dirinya. Sehingga agama 
adalah "sebuah dunia", dimana manusia memenuhi hasrat atau 
keinginannya. Berawal dari itulah, kemudian lahir ritus-ritus atau 
amalan baik yang bersifat lahir maupun batin"

Khususnya kata kata "untuk mencapai apa yang ada di luar kemampuan 
dirinya", ini sebuah contradictio in termini! Manusia atau siapapun, 
TAK mungkin mencapai apa yang ada di luar kemampuannya. KARENA, 
begitu dia mencapai sesuatu, ini ada DALAM kemampuannya.

Transendensi hanyalah sekedar upaya untuk membuat indra kita peka 
terhadap hal hala yang spiritual, yang biasanya berada diluar akal 
dan nalar kita. Tetapi maniusia harus hati hati, karena mudah 
terjerumus kedalam halunisasi. ". Namun tepat sekali yang beliau 
katakan:

"Agama formal (organized religion) kembali diacak-acak, dipandang 
ringkih, dan tidak mampu membawa kenyamanan hidup, bahkan hanya 
menimbulkan konflik dan terorisme. Merebaknya sekte-sekte atau 
okultisme agaknya menguatkan fenomena itu..."

Mungkin jugakah, bahwa motor yang mendorong manusia menuju 
spiritualisme adalah keadaan yang belum/tidak memuaskan dalam 
kehidupan nyata, seperti kesulitan hidup, kegagalan, penderitaan, 
musibah yang terus menerus, dsb? Makin manusia merasa tidak 
mendapatkan konfirmasi atas keberhasilan mengatasi hidup se-hari-
hari, makin ia mengeloni spiritualitas.

Nah, seperti pak Siradj sebutkan, apabila manusia tak juga menemukan 
kepuasan bathin dalam "organized religion", larilah manusia kebentuk 
spiritualitas lain, yakni okkultisme dll. Ini kita lihat di Eropa 
pada paruh pertama tahun 60an, dimana ribuan generasi muda kulitputih 
dari AS dan Eropa berbondong ke India untuk menjadi murid Hare 
Krishna ("Flower-Power-Generation").

Mungkin, ini juga yang mendorong kefanatikan generasi muda kini untuk 
memperdebatkan soal surga dan neraka, meng-claim kepercayaan sendiri 
yang ter-benar, karena tak ada kaitannya dengan hidup se-hari hari, 
yang mungkin jauh lebih pahit. Apabila harapan nampak tipis dialam 
nyata, maka harapan digeser kepintu surga...

Salam

danardono










--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berikut opini dari kyai NU, klik:
> 
> http://zamanku.blogspot.com/2005/01/agama-dan-spiritualitas.html
> 
> 
> 
> 
> 
> Oleh: Said Aqiel Siradj
> 
> GAIRAH untuk mengedepankan spiritualitas dibanding agama, tampak 
sedemikian meruyak dewasa ini. Agama formal (organized religion) 
kembali diacak-acak, dipandang ringkih, dan tidak mampu membawa 
kenyamanan hidup, bahkan hanya menimbulkan konflik dan terorisme. 
Merebaknya sekte-sekte atau okultisme agaknya menguatkan fenomena itu.
> 
> Kenyataan itu terutama sudah terjadi di Barat-yang lebih dulu 
mengalami proses transmutasi peradaban-dan menjalar ke wilayah Asia 
termasuk Indonesia. Selama beberapa dasawarsa terakhir, gerakan-
gerakan agama berusaha keluar dari konteks agama formal. Pernyataan 
Nietzsche, "Tuhan telah mati" telah mendatangkan eforia masyarakat 
Barat untuk mencari
> sandaran spiritual baru, bahkan lepas sama sekali dari agama formal.
> 
> Agama dan keberagamaan
> 
> Dalam perspektif apa pun, tidak ada yang mempertentangkan, manusia 
adalah makhluk beragama (homo religius). Perbedaannya terletak pada 
motivasi, alasan, dan dasar beragama. Keberagamaan merupakan sesuatu 
yang fitri atau-seperti hasil telisikan Rudolf Otto-ada dalam 
numinous. Kalaupun seseorang mencari kemudian menemukan agama baru 
dalam akumulasi
> pengalaman aktual-sosialnya, lalu terjadi peralihan atau apostasi, 
maka hakikatnya manusia tidaklah meninggalkan agama. Manusia yang 
telah meninggalkan agama yang semula dianutnya bukan orang yang 
meninggalkan agama, tetapi ia mencari agama lain yang baru.
> 
> Pada tahapan paling awal, keberagamaan adalah bersifat individual-
personal. Agama adalah persoalan pribadi yang melibatkan akal, 
perasaan, dan kehendak. Al Quran menyatakan, agama atau keberagamaan 
memang sesuatu yang pribadi, namun kemudian dimiliki secara obyektif 
oleh masyarakat dan mengakumulasi dalam realitas sosial (QS 33;5, 
60;8, 8;72, 110;2). Artinya, pengalaman religius sebagian besar ada 
dalam bentuk kognitif. Bila hal itu tidak dikomunikasikan, tidak akan 
diketahui orang lain. Dari sinilah terbentuk komunitas agama.
> 
> Terbentuknya masyarakat agama bukan sengaja diadakan, tetapi ada 
dengan sendirinya. Faktor utama yang mendasari terbentuknya adalah 
adanya kesamaan "bahasa agama" yang digunakan. Dari sudut pandang 
ini, misi dalam agama bertujuan untuk menyamakan "bahasa agama" itu.
> 
> Menurut Sigmund Freud, orang beragama semata-mata didorong untuk 
menghindari bahaya yang akan menimpanya dan berharap mendapat rasa 
aman. Untuk keperluan itu, manusia menciptakan Tuhan dalam 
pikirannya. Bagi Freud, "ontologi" agama adalah keadaan ketidakamanan 
manusia sendiri. Hal ini sama dengan mengatakan, agama adalah sesuatu 
yang dibangun oleh manusia sendiri untuk menjaga dirinya dari 
malapetaka. Adanya Tuhan adalah karena ada bahaya yang mengancam 
manusia. Maka logikanya, jika tidak ada bahaya, tidak ada Tuhan dan 
agama. Bagi penganut Freudian, ilmu pengetahuan misalnya, bila dapat 
memberi rasa aman pada manusia, ia dapat mengganti peran agama dan 
menjadi agama baru.
> 
> Pada tahapan paling awal, teori Freud ini menegaskan, tidak ada 
orang yang sehat. Semua manusia mengalami neurosis, hanya derajatnya 
yang membedakan. Karena itu, agama diperlukan sepanjang manusia 
mengalami hal ini. Dari tilikan agama, teori Freud ini amat
> determinis dan tidak mengakui akal, kalbu, apalagi wahyu.
> 
> Teori perilaku beragama ala Freud itu bisa disimpulkan, 
keberagamaan seseorang berawal dari aneka kesulitan, baik dalam 
tatanan lingkungan yang lingkupnya kecil atau besar. Berbagai corak 
semangat politik dan sosial atau apa pun namanya bisa disebut agama, 
selama bisa mengatasi kesulitan yang dirasakan manusia. Atau minimal 
jika hal itu tidak disebut agama, tetapi secara fungsional sama 
dengan agama.
> 
> Empat faktor
> 
> Secara psikologis, ada empat faktor yang menghasilkan sikap 
keagamaan, yaitu pengaruh sosial, pengalaman, kebuntuan, dan proses 
pemikiran. Di antara empat faktor utama yang jelas menjadi sumber 
keyakinan agama adalah adanya aneka kebutuhan yang tidak terpenuhi 
secara sempurna. Kebutuhan itu meliputi kebutuhan akan keselamatan, 
cinta, memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul akibat adanya 
kematian.
> 
> Secara fungsional, apa yang diuraikan oleh Freud maupun psikologi 
mengenai tujuan dan sumber sikap keagamaan, ada kemiripan dengan apa 
yang terdapat dalam agama wahyu. Dalam Kristiani misalnya, dikenal 
ada doktrin Extra Eccelesia Nulla Salus (Tidak ada keselamatan di 
luar gereja), dan klaim yang sama juga ada dalam agama-agama lain. 
Klaim-klaim seperti ini merupakan sesuatu yang harus ada dalam tiap 
agama. Sebab tanpa hal itu agama tidak
> mempunyai daya tarik lagi.
> 
> Yang ingin ditegaskan di sini, pemahaman apa pun terhadap agama, 
tampaknya tidak ada yang menyangsikan, dalam apa yang disebut agama 
tersedia apa yang ingin diraih manusia. Agama tumbuh dari kemauan 
manusia untuk hidup atau dari kemauan untuk menyempurnakan dan 
memenuhi kehidupannya. Ia merupakan bagian dari kesadaran manusia 
akan adanya sesuatu yang lebih ideal dan memberi arti serta makna 
kepada kehidupannya.
> 
> Di dalam agama terkandung harapan-harapan, sehingga apabila hal itu 
tidak tersedia, maka manusia akan meninggalkan dan mencari yang baru. 
Bedanya, jika dalam agama wahyu, beragama bukan karena aspek 
fungsionalnya saja, tetapi juga panggilan ilahi. Dengan beragama, 
manusia bisa melakukan transendensi diri untuk mencapai apa yang ada 
di luar kemampuan dirinya. Sehingga agama adalah "sebuah dunia", 
dimana manusia memenuhi hasrat atau keinginannya. Berawal dari 
itulah, kemudian lahir ritus-ritus atau amalan baik yang bersifat 
lahir maupun batin.
> 
> Said Aqiel Siradj - Rais Syuriah PBNU
> 
> CATATAN : Extra Eccelesia Nulla Salus (Tidak ada keselamatan di 
luar gereja) adalah doktrin Gereja Katolik sebelum Konsili Vatican II 
th 1962. Doktrin barunya : Extra Christus Nulla Salus (Tidak Ada 
Keselamatan di Luar Kristus). Implikasinya : Agama lain tetap ada 
keselamatan, asal memiliki moral dan tindakan seperti Yesus.
> 
> Sphere: Related Content 
> di 7:21 PM    
> 
> Label: said aqiel siradj 
> 
> 
> 
> 
> 
> mediacare
> http://www.mediacare.biz
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke