Berikut opini dari kyai NU, klik: http://zamanku.blogspot.com/2005/01/agama-dan-spiritualitas.html
Oleh: Said Aqiel Siradj GAIRAH untuk mengedepankan spiritualitas dibanding agama, tampak sedemikian meruyak dewasa ini. Agama formal (organized religion) kembali diacak-acak, dipandang ringkih, dan tidak mampu membawa kenyamanan hidup, bahkan hanya menimbulkan konflik dan terorisme. Merebaknya sekte-sekte atau okultisme agaknya menguatkan fenomena itu. Kenyataan itu terutama sudah terjadi di Barat-yang lebih dulu mengalami proses transmutasi peradaban-dan menjalar ke wilayah Asia termasuk Indonesia. Selama beberapa dasawarsa terakhir, gerakan-gerakan agama berusaha keluar dari konteks agama formal. Pernyataan Nietzsche, "Tuhan telah mati" telah mendatangkan eforia masyarakat Barat untuk mencari sandaran spiritual baru, bahkan lepas sama sekali dari agama formal. Agama dan keberagamaan Dalam perspektif apa pun, tidak ada yang mempertentangkan, manusia adalah makhluk beragama (homo religius). Perbedaannya terletak pada motivasi, alasan, dan dasar beragama. Keberagamaan merupakan sesuatu yang fitri atau-seperti hasil telisikan Rudolf Otto-ada dalam numinous. Kalaupun seseorang mencari kemudian menemukan agama baru dalam akumulasi pengalaman aktual-sosialnya, lalu terjadi peralihan atau apostasi, maka hakikatnya manusia tidaklah meninggalkan agama. Manusia yang telah meninggalkan agama yang semula dianutnya bukan orang yang meninggalkan agama, tetapi ia mencari agama lain yang baru. Pada tahapan paling awal, keberagamaan adalah bersifat individual-personal. Agama adalah persoalan pribadi yang melibatkan akal, perasaan, dan kehendak. Al Quran menyatakan, agama atau keberagamaan memang sesuatu yang pribadi, namun kemudian dimiliki secara obyektif oleh masyarakat dan mengakumulasi dalam realitas sosial (QS 33;5, 60;8, 8;72, 110;2). Artinya, pengalaman religius sebagian besar ada dalam bentuk kognitif. Bila hal itu tidak dikomunikasikan, tidak akan diketahui orang lain. Dari sinilah terbentuk komunitas agama. Terbentuknya masyarakat agama bukan sengaja diadakan, tetapi ada dengan sendirinya. Faktor utama yang mendasari terbentuknya adalah adanya kesamaan "bahasa agama" yang digunakan. Dari sudut pandang ini, misi dalam agama bertujuan untuk menyamakan "bahasa agama" itu. Menurut Sigmund Freud, orang beragama semata-mata didorong untuk menghindari bahaya yang akan menimpanya dan berharap mendapat rasa aman. Untuk keperluan itu, manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya. Bagi Freud, "ontologi" agama adalah keadaan ketidakamanan manusia sendiri. Hal ini sama dengan mengatakan, agama adalah sesuatu yang dibangun oleh manusia sendiri untuk menjaga dirinya dari malapetaka. Adanya Tuhan adalah karena ada bahaya yang mengancam manusia. Maka logikanya, jika tidak ada bahaya, tidak ada Tuhan dan agama. Bagi penganut Freudian, ilmu pengetahuan misalnya, bila dapat memberi rasa aman pada manusia, ia dapat mengganti peran agama dan menjadi agama baru. Pada tahapan paling awal, teori Freud ini menegaskan, tidak ada orang yang sehat. Semua manusia mengalami neurosis, hanya derajatnya yang membedakan. Karena itu, agama diperlukan sepanjang manusia mengalami hal ini. Dari tilikan agama, teori Freud ini amat determinis dan tidak mengakui akal, kalbu, apalagi wahyu. Teori perilaku beragama ala Freud itu bisa disimpulkan, keberagamaan seseorang berawal dari aneka kesulitan, baik dalam tatanan lingkungan yang lingkupnya kecil atau besar. Berbagai corak semangat politik dan sosial atau apa pun namanya bisa disebut agama, selama bisa mengatasi kesulitan yang dirasakan manusia. Atau minimal jika hal itu tidak disebut agama, tetapi secara fungsional sama dengan agama. Empat faktor Secara psikologis, ada empat faktor yang menghasilkan sikap keagamaan, yaitu pengaruh sosial, pengalaman, kebuntuan, dan proses pemikiran. Di antara empat faktor utama yang jelas menjadi sumber keyakinan agama adalah adanya aneka kebutuhan yang tidak terpenuhi secara sempurna. Kebutuhan itu meliputi kebutuhan akan keselamatan, cinta, memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul akibat adanya kematian. Secara fungsional, apa yang diuraikan oleh Freud maupun psikologi mengenai tujuan dan sumber sikap keagamaan, ada kemiripan dengan apa yang terdapat dalam agama wahyu. Dalam Kristiani misalnya, dikenal ada doktrin Extra Eccelesia Nulla Salus (Tidak ada keselamatan di luar gereja), dan klaim yang sama juga ada dalam agama-agama lain. Klaim-klaim seperti ini merupakan sesuatu yang harus ada dalam tiap agama. Sebab tanpa hal itu agama tidak mempunyai daya tarik lagi. Yang ingin ditegaskan di sini, pemahaman apa pun terhadap agama, tampaknya tidak ada yang menyangsikan, dalam apa yang disebut agama tersedia apa yang ingin diraih manusia. Agama tumbuh dari kemauan manusia untuk hidup atau dari kemauan untuk menyempurnakan dan memenuhi kehidupannya. Ia merupakan bagian dari kesadaran manusia akan adanya sesuatu yang lebih ideal dan memberi arti serta makna kepada kehidupannya. Di dalam agama terkandung harapan-harapan, sehingga apabila hal itu tidak tersedia, maka manusia akan meninggalkan dan mencari yang baru. Bedanya, jika dalam agama wahyu, beragama bukan karena aspek fungsionalnya saja, tetapi juga panggilan ilahi. Dengan beragama, manusia bisa melakukan transendensi diri untuk mencapai apa yang ada di luar kemampuan dirinya. Sehingga agama adalah "sebuah dunia", dimana manusia memenuhi hasrat atau keinginannya. Berawal dari itulah, kemudian lahir ritus-ritus atau amalan baik yang bersifat lahir maupun batin. Said Aqiel Siradj - Rais Syuriah PBNU CATATAN : Extra Eccelesia Nulla Salus (Tidak ada keselamatan di luar gereja) adalah doktrin Gereja Katolik sebelum Konsili Vatican II th 1962. Doktrin barunya : Extra Christus Nulla Salus (Tidak Ada Keselamatan di Luar Kristus). Implikasinya : Agama lain tetap ada keselamatan, asal memiliki moral dan tindakan seperti Yesus. Sphere: Related Content di 7:21 PM Label: said aqiel siradj mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

