Oleh Edy A Effendi

Mempersoalkan sastra yang bersandar pada peristiwa-peristiwa sejarah
selalu menarik untuk dibincangkan. Sastra yang bersandar pada sejarah
tak ubahnya mengungkap peristiwa-peristiwa kelam dalam realitas
kekinian, yang dikemas dalam dunia fiksi.

Seperti kita tahu, alur cerita-cerita fiksi yang bersandar pada
persoalan sejarah yang disodorkan ke wilayah publik setidak-tidaknya
ikut serta merekonstruksi peristiwa sejarah yang terjadi di ranah publik.

Kritikus George Lukacs pernah mensinyalir, sastra sejarah harus mampu
menghidupkan masa silam; masa silam harus dekat kepada realitas kita
dan kita dapat menyelami kenyataan yang sebenarnya terjadi pada masa
silam. Pernyataan George Lukacs mengundang beberapa pertanyaan
mendasar dan layak dijawab.

Pertanyaan itu merujuk pada klaim, apakah teks-teks sejarah masih
menyimpan ruang-ruang kosong, yang memiliki berbagai ragam dimensi
kebenaran sehingga bisa dihibahkan dalam teks-teks fiksi? Kenapa
hingga kini masih saja sering terdengar perdebatan antara pengetahuan
sejarah dan realitas sejarah yang sejatinya memiliki perbedaan yang
cukup jauh?

Penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah dua hal yang berbeda.

Perihal posisi penulisan sejarah dan peristiwa sejarah, dan memeriksa
kembali kegemparan perdebatan intelektual pada abad ke-19, menjadi
sangat menarik jika kita mengikuti pikiran yang dikembangkan Immanuel
Wallerstein.

Perdebatan intelektual pada abad itu menjurus pada keretakan
epistemologis. Antara pendekatan nomotetik yang berdasarkan pada
hukum-hukum obyektif dan universal yang dikembangkan dalam ilmu alam,
dengan pendekatan idiosinkretik, yang disandarkan pada keunikan
masing-masing kejadian sejarah.

Wallerstein, sejarawan dan Direktur Braudel Center Binghamtom
University, berdiri pada posisi "tengah" di antara gejolak "pertikaian
epistemologis" itu.

Hukum alam dan kreativitas

Wallerstein ingin memperlihatkan ketidakpastian terhadap ilmu-ilmu
alam, akibat dari ketidakpuasan teori-teori ilmiah yang lebih tua. Ini
untuk menawarkan solusi-solusi yang masuk akal terhadap
kesulitan-kesulitan yang muncul ketika para ilmuwan mencoba memecahkan
fenomena yang jauh lebih kompleks. Ia mencoba melakukan pembenaran
terhadap statement-nya dengan mengambil garis pikiran yang
dikembangkan Ilya Progogine.

Menurut ilmuwan terakhir itu, ketika dunia disemarakkan dengan
berbagai gejolak, maka dibutuhkan penjelasan yang lebih kompleks:
sebuah dunia yang harus dideskripsikan secara agak berbeda. Dari
sinilah secara sadar, Wallerstein ingin menawarkan solusi bahwa
ilmu-ilmu sosial dapat menjadi "kendaraan" untuk memecahkan masalah
realitas yang ada.

Kondisi semacam ini tidak berarti menafikan asumsi-asumsi yang telah
dikembangkan para ilmuwan terdahulu-termasuk di dalamnya Newton.
Tetapi, dalam batas-batas tertentu, sistem-sistem yang dikembangkan
para ilmuwan, seperti sistem-sistem waktu yang reversibel (yang dapat
dibalikkan), hanyalah merepresentasikan suatu segmen realitas yang
khusus dan terbatas.

Dengan demikian, ilmu-ilmu alam membutuhkan keselarasan hukum-hukum
alam yang cocok dengan gagasan tentang peristiwa, tentang sesuatu yang
baru, dan tentu tentang kreativitas.

Di sisi lain, Wallerstein juga berdiri di pihak "komunitas"
idiosinkretik dengan menawarkan perangkat-perangkat ilmu sosial.

Pendekatan yang diterapkan Wallerstein mencoba merekomendasi
pendekatan historis yang sering kali "tertinggal" ketika memunguti
beberapa peristiwa sejarah. Tampaknya Wallerstein ingin memperlihatkan
beberapa tradisi ilmu sosial yang mampu menawarkan peralatan-peralatan
spesifik untuk membangun "ilmu sosial historis", atau "ilmu sosial
kritis".

Sejarah dan sosial

Sebenarnya perkawinan dan kerja sama ilmu sejarah dan ilmu sosial baru
terjadi saat memasuki dekade 1960-an. Para sejarawan mulai
mempertimbangkan apakah beberapa generalisasi yang diusahakan oleh
para ilmuwan sosial nomitetis mungkin tidak membantu menjelaskan
pemahaman mereka mengenai masa lalu. Maka perubahan-perubahan
fundamental di dalam disiplin ilmu sejarah terus-menerus mendapat
dukungan dengan bantuan ilmu-ilmu sosial.

Dalam tataran ini, terlihat keinginan Wallerstein bahwa ada hubungan
dialektis antara pengetahuan dan realitas. Pengetahuan yang
dikonstruksikan dari realitas pada gilirannya memengaruhi realitas itu
sendiri; dan perubahan di dalam realitas akan mampu memberi vibrasi
dalam merekonstruksi pengetahuan.

Pada situasi seperti inilah, sebenarnya, sastrawan memiliki peran.
Sebuah peran yang bisa memberikan kontribusi positif bagi penulisan
sejarah dalam bentuk fiksi. Dan inilah yang antara lain diinginkan
Asvi Warman Adam (Kompas, 22/12).

Salah satu fakta yang bisa diapungkan dalam konteks sastra sejarah
adalah kehadiran sastrawan Nur Sutan Iskandar. Iskandar pada kurun
tahun 1934 memberi bukti mungkinnya penulisan novel sejarah yang
berpijak pada keselarasan antara bahasa dan pikiran, antara realitas
teks sastra dan realitas teks sejarah.

Tengoklah novel Hulubalang Raja dan novel Mutiara yang ditulis Nur
Sutan Iskandar. Atau novel AA Pandji Tisna, I Swasta Setahun di
Bedahulu, yang cukup berhasil mengangkat zaman Udaya yang mengambil
latar lokal Bali. Juga novel Zaman Gemilang dan Cincin Permata dari
Kamboja yang ditulis Matu Mona tentang Raden Wijaya dan sekitar kisah
awal kerajaan Majapahit. Bahkan, cerita yang disodorkan Matu Mona
mampu menjadi pendorong rakyat untuk mengusir bala tentara Kublai Khan.

Pramoedya Ananta Toer juga bisa dicatat sebagai sastrawan yang mampu
melampirkan teks-teks sejarah ke dalam teks-teks sastra. Anak Semua
Bangsa dan Bumi Manusia adalah contoh penting di mana bahasa mampu
berfungsi dalam mendefinisikan kehidupan dirinya dalam dua dunia;
sastra dan sejarah.

Ternyata jawaban untuk konteks sastra sejarah terletak pada kemampuan
mengelola bahasa dan pikiran yang selalu berdiri dalam dua petak yang
berbeda. Fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas
keselarasan antara bahasa dan pikiran. Pada titik inilah sebagian
sastrawan Indonesia yang menulis fiksi yang bersandar pada realitas
sejarah tak cukup cermat mengawinkan kedua faktor penting itu.

Edy A Effendi Pengajar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta; dan Direktur Eksekutif Lab Teater Syahid 

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/05/humaniora/4125857.htm


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke