Oleh Gede Prama


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/05/opini/4134998.htm

Cerita manusia adalah cerita derita, demikian bisik seorang kawan. Di
Pakistan, belum lama Benazir Bhutto menginjakkan kaki di tanah
kelahirannya, lehernya sudah ditembus peluru sampai tewas. Di Kamboja,
pendeta Buddha berkelahi dengan polisi. Amerika Serikat yang menjadi
tauladan dunia menjadi penghalang kesepakatan untuk mengurangi dampak
pemanasan global. Gempa, tsunami, kelaparan mengunjungi semua pojokan
Bumi.

Di negeri ini serupa. Banyak pemilihan kepala daerah berakhir rusuh.
Kekerasan di kalangan remaja amat mengkhawatirkan. Di Bali, kadang
kekerasan muncul bahkan ketika upacara dilaksanakan.

Membaca tanda-tanda seperti ini, ada yang mengeluh, bila demikian,
bukankah hidup manusia sama dengan neraka? Entahlah, yang jelas wajah
kehidupan yang terlihat bergantung pada siapa diri kita di dalam. Bila
di dalamnya cinta, manusia berjumpa cinta di mana-mana. Jika di
dalamnya kebencian, manusia menemukan kebencian di mana-mana.

Membangun rumah cinta

Dilihat dari segi bahan, manusia berbahankan cinta. Orangtua
berpelukan penuh cinta ketika manusia dibikin. Disusui ibu penuh
dengan pelukan cinta. Banyak ayah yang tidak jadi memasukkan makanan
ke mulut hanya karena mau berbagi cinta dengan anak. Makanan dan
minuman manusia datang dari alam yang berlimpah cinta.

Ada yang mengandaikan kehidupan sebagai hujan cinta yang tidak pernah
berhenti. Cuma sebagian memayungi dirinya dengan keangkuhan sehingga
badannya kering dari hujan cinta. Dengan bahan seperti itu, bila
output-nya kebencian, mungkin kita perlu merenungkan prosesnya.

Perilaku kehidupan serupa Matahari. Bila sudah waktunya terbit, ia
terbit. Jika saatnya terbenam, ia terbenam. Dan di dalam pikiran yang
dipenuhi rasa cinta, Matahari akan disebut menerangi, memberi energi.
Dalam pikiran yang penuh keluhan, ia diberi judul panas, sumber
kekeringan, awal paceklik.

Berdiri di atas kesadaran seperti inilah kemudian banyak guru sepakat,
fondasi awal membangun rumah cinta adalah pikiran yang terawasi secara
rapi. Ketika senang diawasi, tatkala sedih juga diawasi. Persoalan
dengan banyak manusia, terlalu melekat dengan hal-hal yang
menyenangkan, menolak yang menjengkelkan, bosan dengan hal-hal biasa.
Karena yang menyenangkan berpasangan dengan hal-hal yang menjengkelkan
(seperti malam berpasangan dengan siang), maka berputarlah kehidupan
dalam siklus tanpa akhir: senang, sedih, bosan, dan seterusnya. Inilah
awal dari banyak kelelahan emosi.

Sadar dengan akibat kelelahan inilah, kemudian sejumlah orang
mengakhiri siklus terakhir hanya dengan mengamatinya. Being a
compassionate witness, demikian saran seorang penulis meditasi. Lihat
emosi dan pikiran yang naik turun seperti seorang nenek penuh cinta
sedang melihat cucu-cucunya berlari ke sana kemari. Semuanya sudah,
sedang, dan akan baik-baik saja. Atau lihat keseharian yang digerakkan
senang, sedih, bosan seperti melihat aliran air di sungai. Kesenangan
mengalir berlalu, kesedihan mengalir berlalu.

Di atas siklus yang terawasi rapi ini, kemudian dibangun tiang-tiang
keseharian yang banyak membantu. 'Bila tidak bisa membantu cukup
jangan menyakiti', demikian pesan sejuk seorang Lama. Atap rumah cinta
kemudian bernama kaya karena rasa berkecukupan.

Dalam bahasa seorang bapak yang amat mencintai anaknya: 'dalam rasa
berkecukupanlah letak kekayaan teragung'. Sebagai hasilnya,
terbangunlah rumah- rumah cinta yang sejuk dan teduh.

Agar rumahnya tidak pengap, ia memerlukan pintu dan jendela. Pintunya
bernama deep listening. Jendelanya berupa loving speech. Sebagaimana
sudah menjadi rahasia banyak terapis, kesediaan untuk mendengarkan
adalah sebuah penyegar banyak kepengapan jiwa di zaman ini. Tidak
sedikit pasien yang sudah mendapatkan sebagian penyembuhan hanya
dengan didengarkan. Dan bila harus berbicara, berbicaralah dengan
bahasa-bahasa cinta.

Seorang sahabat dengan kata-kata yang berkarisma pernah ditanya,
kenapa kata-katanya demikian berkarisma. Dengan tangkas ia menjawab,
gunakan kata-kata hanya untuk membantu, bukan untuk menyakiti.
Kombinasi antara kesediaan mendengar dan kata-kata yang penuh cinta
inilah yang membuat rumah cinta dipenuhi udara segar.

Meminjam hasil kontemplasi orang suci, bila ada waktu merenung,
renungkanlah kekurangan-kekurangan Anda. Jika ada waktu berbicara,
bicarakanlah kelebihan-kelebihan orang lain. Mendengar penjelasan
seperti ini, ada yang bertanya, kalau demikian, apa itu cinta? The
Book of Mirdad menulis: 'cintamu adalah dirimu yang sesungguhnya'.
Dengan kata lain, di luar cinta adalah kepalsuan-kepalsuan. Laksanakan
cinta, kemudian lihat bagaimana ia membuka keindahan dirinya.
Kata-kata hanya penghalang pemahaman.

Rumah cinta berjalan

Di Pulau 0kinawa, Jepang, pernah ada guru karate yang disegani. Di
suatu latihan, muridnya bertanya, apakah karate itu? Dengan tersenyum
ia menjawab: 'karate means keep smiling in all situations'. Karate
berarti tersenyum di semua keadaan. Dan tentu muridnya bingung. Hanya
karena segan, kemudian ia diam.

Sepulang latihan, murid ini menemui tentara Amerika mabuk yang mau
membuat keributan di jalan. Murid karate ini panas. Begitu siap
berkelahi, tiba-tiba gurunya muncul dengan penuh senyuman menyambut
tentara-tentara tadi: 'selamat datang di 0kinawa, Anda pasti sudah
menikmati keindahan 0kinawa'. Dan selanjutnya tidak saja perkelahian
bisa dihindarkan, persahabatan dengan tentara Amerika juga berjalan
baik-baik saja.

Ini mungkin yang disebut dengan rumah cinta berjalan. Ia menjadi
contoh nyata cerita di awal: 'bila di dalamnya cinta, maka manusia
berjumpa cinta di mana-mana'. Berkaitan dengan momentum pergantian
tahun, kebanyakan orang bertanya seberapa tua umur sekarang. Jarang
yang mau bertanya, seberapa indah rumah cinta sekarang.

Melalui tatapan mata suami, kesetiaan istri, rasa hormat putra/putri,
perlakuan atasan, senyuman tetangga, jabat tangan bawahan, bantuan
teman atau keluarga, senyuman orang-orang yang pernah menyakiti, kita
sedang melihat rumah cinta kita. Adakah ia lebih baik atau lebih buruk
dari tahun lalu?

Perhatikan apa yang ditulis Thich Nhat Hanh dalam The Diamond that
Cuts through Illusion: 'If you die with compassion in mind, you are a
torch lightening our path.' Ia yang meninggal dengan cinta kasih
menjadi lilin penerang banyak perjalanan. Mungkin ini yang membuat
Yesus Kristus tidak pernah berhenti menerangi banyak sekali
perjalanan. Selamat hari Natal tahun 2007 dan Selamat Tahun Baru 2008.

Gede Prama Bekerja di Jakarta dan Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke