Surat dari Montmartre:
MEMBACA ULANG "SELASAR KENANGAN" Kumpulan Cerpen Srikandi Apsas Tebal:95 hlm + xx. Penerbit:Akoer, Jakarta, Juni 2006 [Turut Menyambut Ulta Ke-3 Milis Apresiasi Sastra] Hal lain yang di sini ingin kucatat adalah suatu kenyataan bahwa milis apresiasi sastra [apsas], walau pun tidak luput dari kekurangan ini itu, tapi ia senantiasa berusaha melakukan sesuatu yang serius seperti mengorganisasi pembahasan tentang tokoh-tokoh pengarang Indonesia dan dan dunia. Tokoh-tokoh itu misalnya yang dari Indonesia adalah Budi Darma, Goenawan Mohamad, Nh. Dini, dan lain-lain..., sedang dari negeri-negeri lain, untuk menyebut beberapa nama saja: Pablo Neruda, Karl May, Yukio Mishima, Rabindranath Tagore, Gabriel Garcia Marquez, Shakespeare, F.Kafka, Yukio dan lain-lain.... Kegiatan sastra terorganisasi dengan memanfaatkan fasilitas internet, ditambah dengan "temu darat" para anggota komunitas, agaknya tidak banyak dilakukan oleh milis-milis lain. Milis yang sekaligus membentuk diri sebagai suatu komunitas. Terbitnya "Selasar Kenangan" yang menghimpun 9 cerpen dari 21 cerpen yang masuk dalam lomba khusus untuk para penulis perempuan anggota apsas, sesungguhnya menunjukkan kesungguhan milis apsas guna mencoba memberikan sumbangan bagi perkembangan sastra Indonesia. Dilihat dari segi ini, maka sungguh bukan mustahil bahwa sastra dunia maya secara umum bisa memberikan sumbangan besar bagi perkembangan sastra. Publikasi sastra akhirnya melampaui kesempitan monopoli media cetak. Maksimalitas kemungkinan ini lebih banyak tergantung pada prakarsa, kesungguhan dan wacana serta metode kerja "owner"[pemilik] dan moderator milis. Sumbangan kongkret suatu milis sastra kepada khazanah sastra negeri ini pun tergantung pada moderator dan "owner" mengerahkan prakarsa dan kreativitas seluruh anggota komunitasnya. Kucerpen "Selasar Kenangan", kulihat tidak lain dari kesungguhan usaha untuk maju bersama-sama. Hal ini menjadi penting di tengah-tengah kegarangan kepungan dominasi, hegemoni dan mencoba memonopoli, yang secara umum memang ada di masyarakat kita yang makin individualis dan narsistik dan sering mendorong kita menjadi pengikut ide "survival of fitest", mendekati hukum rimba. Di hadapan kenyataan yang kudapatkan di Indonesia, aku sering berpikir, apakah benar Indonesiaku sebuah rimba raya. Untuk hidup di negeri sendiri kita dituntut berakal di hadapan perbuatan akal-akalan narsistik. Kegarangan hidup dan masyarakat kita, ketika membaca ulang kucerpen "Selasar Kenangan" ini memang bisa terlihat walau pun para penulisnya mengungkapkannya dengan lembut dan berhati-hati. "Selasar Kenangan", yang kubaca pertama ketika berada di Indonesia , dan kemudian November lalu kubaca ulang, membawaku sampai pada tiga hal, yaitu: hubungan sastra dengan masyarakat, peran edukatif sastra lalu kemudian aku sampai pada tekhnik pengungkapan. Tekhnik bercerita. Hubungan Sastra & Masyarakat: Sekalipun sembilan cerpen yang terpilih di kumpulan ini, mengusung tema "masa kecil", masa berharga berpengaruh dan tak pernah kembali, tapi dari tuturan para penulis, aku bisa membayangkan keadaan masyarakat pada masa kecil para penulis. Barangkali benar, bahwa apa yang dituturkan campurbaur dengan imajinasi, daya khayal dan diramu dengan bahan-bahan dari "tempat dan rupa-rupa sumber", tapi tetap imajinasi itu mempunyai akar sosial dan alur pemikiran dominan yang nyata. Adakah imajinasi murni bebas dari kehidupan nyata dan pengalaman serta pengamatan? Rendra dalam nasehat pribadinya padaku ketika masih remaja di Yoyga, sangat menekankan arti penting pengamatan cermat terhadap apa saja. Sementara Dorothea Rosa Herliany, ke mana-mana selalu membawa buku catatan, untuk mencatat hal-hal yang dirasakannya penting, sadar bahwa ia bisa gampang diusik lupa. Sedangkan Mochtar Loebis menggarisbawahi arti penting "catatan harian". Betapa pun narsistiknya, imajinasi, betapa pun narsistik, dan keadaan masyarakat agaknya tidak lepas dari saling hubungan sebagaimana yang dikatakan oleh Lu Sin, panglima sastra Tiongkok tahun 1930an. Melalui karya-karya sastra, termasuk dari "Selasar Kenangan" ini, aku membaca keadaan masyarakat di suatu zaman, mengenal permasalahannya, tradisi, pola pikir, psikhologis yang berlangsung. Untuk mengambil beberapa contoh saja dari "Selasar Kenangan" bisa kusebutkan cerpen Riris Yuliyanti, "Sesuatu Yang Bernama Kenangan" yang bercerita tentang Tragedi Mei 1998 yang oleh Riris diistilahkan dengan "Kerusuhan Mei 1998". Sedangkan Anindita dalam cerpennya "Jemputan Sepeda Mama", aku menangkap psikhologis masyarakat pada waktu itu, dan beratnya kehidupan. Hal yang sama kudapatkan dari cerpen Ita Siregar, "Sedikit Kenangan Tersisa" atau cerpen Mindo Hutagaol, "Segi Empat Bukan Segitiga". Dari kucerpen "Selasar Kenangan", aku melihat jelas kompleksnya masyarakat dan kehidupan, dan adanya soal ketidakterdugaan. Bahwa masyarakat manusia penuh kejadian yang tak bisa diduga pasti. Ada soal kebetulan dan ketidakterdugaan. Untuk mencoba menjawab "ketidakterdugaan"dan kompleksnya masyarakat manusia, maka sosiolog Perancis, Edgar Morin dari L'Ecole des Hautes en Sciences Sociales [L'EHESS], atas dasar pemahamannya tentang keadaan demikian , menawarlan suatu pendekatan masalah yang disebutnya sebagai "teori kompleksitas". Adanya kompleksitas masyarakat yang digambarkan, lebih tepatnya, yang kudapatkan dalam "Selasar Kenangan", barangkali bisa dipahami sebagai adanya hubungan antara karya sastra dan masyarakat, dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan dan komplesitasnya, merupakan sumber ilham dalam bersastra. Paris, Musim Dingin 2008 ------------------------------- JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris. [Berlanjut..] -------------------------------------------------------------------------------- [Non-text portions of this message have been removed]

