Sabtu, 05 Januari 2008
  Direktur Itu Bersyahadat
   
  Akhirnya, ”wanita menyebalkan”  dengan tertawanya yang lepas dan bersuara 
keras  itu mengucapkan dua kalimah syahadat dan memeluk Islam
   
  Oleh: M. Syamsi Ali
  Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini cukup 
menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali tertawa lepas, 
bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan dirinya secara blak-blakan. 
Bahkan tidak jarang di tengah-tengah keseriusan belajar atau berdiskusi dia 
tertawa terbahak. Hal ini tentunya bagi sebagian peserta dianggap kurang sopan.
   
  Theresa, demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam 
menyampaikan pandangan-pandangan nya. “From what I’ve learned I do believe 
Islam is the best religion”, katanya suatu ketika. “but why women can not 
express themselves freely as men?, lanjutnya.
   
  Dalam sebuah diskusi tentang takdir dan bencana alam, tiba-tiba Theresa 
menyelah “wait..wait…what? I don’t think God will allow people to suffer”. 
Ternyata maksud Theresa adalah bahwa Allah itu Maha Penyayang dan tidak mungkin 
akan menjadikan hamba-hambaNya menderita. Dia menjelaskan bahwa tidak mungkin 
bisa disatukan antara sifat Allah Yang Maha Pemurah dan penyayang dan bencana 
alam yang terjadi di berbagai tempat.
   
  Biasanya saya memang tidak terlalu merespon secara serius terhadap pertanyaan 
atau pernyataan si Theresa tersebut. Saya tahu bahwa dia memang memiliki 
kepribadian yang lugas dan apa adanya, dan sangat cenderung untuk 
merasionalisasi segala hal. 
   
  Belakangan saya tahu bahwa Theresa dengan nama akhir (last name) Gordon, 
ternyata adalah direktur sebuah rumah sakit swasta di Manhattan . Kedudukannya 
itu menjadikannya cukup percaya diri dan berani dalam mengekspresikan dirinya.
   
  Namun dalam tiga minggu sebelum Ramadan lalu, terjadi perubahan drastis pada 
sikap dan cara bertutur kata Theresa. Kalau biasanya tertawa terbahak apa 
adanya, dan bahkan tidak ragu-ragu memotong pembicaraan atau 
penjelasan-penjelas an saya dalam diskusi-diskusi di kelas, kini dia nampak 
lebih kalem dan sopan. 
   
  Hingga suatu ketika dia bertanya: “Is it true that Islam does not allow the 
women to laugh loudly?” Saya mencoba menjelaskan kepadanya: “It depends on its 
context” jawabku.
  “Some women or people laugh loudly for no reasons but an expression of bad 
attitude. But some others do laugh because that is their nature”, jelasku.
   
  Maksud saya dalam penjelasan tersebut, jangan-jangan Theresa sering tertawa 
keras dan apa adanya memang karena tabiatnya. Bukan karena prilaku yang salah. 
Kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tabiatnya, tentu tidak mudah 
merubahanya. Sehingga kalau saya terfokus kepada masalah ketawa, jangan-jangan 
dia terpental dan lari dari keinginannya untuk belajar Islam.
   
  Suatu hari Theresa meminta waktu kepada saya setelah kelas. Menurutnya ada 
sesuatu yang ingin didiskusikan. Setelah kelas usai saya tetap di tempat 
bersama Theresa. “I am sorry Imam” katanya. 
   
  “Why and what is the reason for the apology?”, tanyaku. “I think I’ve been 
impolite in the class in the past”, katanya seraya menunduk. “Sister Theresa, I 
have been teaching in this class for almost 7 years. Alhamdulillah, I’ve 
received many people with many backgrounds. Some people are very quite and some 
others are the opposite”, jelasku. “But I always keep in mind that people have 
different ways of understanding things and different ways of expressing 
things”, lanjutku.
   
  Saya kemudian menjelaskan kepadanya karakter manusia dengan merujuk kepada 
para sahabat sebagai contoh. Di antara sahabat-sahabat agung Rasulullah SAW ada 
Abu Bakar yang lembut dan bijak, tapi juga ada Umar yang tegas dan penuh 
semangat. Ada Utsman yang juga lembut dan sangat bersikap dewasa, tapi juga ada 
Ali yang muda tapi tajam dalam pandangan-pandangan nya. “Even between 
themselves, they often involved in serious disagreement”, kataku. Tapi mereka 
salaing mamahami dan saling menghormati dalam menyikapi perbedaan-perbedaan 
yang ada.
   
  “Do you think I will be able to change?”, tanyanya lagi. Saya berusaha 
menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang perlu dirubah dari cara bersikap dan 
bertutur kata, dan itu adalah bagian esensial dari ajaran agama Islam. Tapi di 
sisi lain, saya ingin menyampaikan bahwa dalam melakukan semua hal dalam Islam 
harus ada pertimbangan prioritas. “I am sure, one day when you decide to be a 
Muslim, you will do so”, motivasi saya. “But don’t expect to change in one 
day”, lanjutku.
   
  Hampir sejam kami berdialog dengan Theresa. Ternyata umurnya sudah mencapai 
kepala 4. Bahkan Theresa adalah seorang janda beranak satu wanita dan sudah 
menginjak remaja.
   
  Hari-hari Theresa memang sibuk Sebagai direktur rumah sakit di kota besar 
seperti Manhattan , tentu memerlukan kerja keras dan pengabdian yang besar. 
Tapi hal itu tidak menjadikan Theresa surut dari belajar Islam. Setiap hari 
Sabtu pasti disempatkan datang walaupun terlambat atau hanyak untuk sebagian 
waktu belajar.
   
  Sekitar dua minggu sebelum Idul Adha, Theresa datang ke kelas sedikit lebih 
awal dan nampak berpakaian rapih. Selama ini biasanya berkerudung untuk sekedar 
memenuhi peraturan mesjid, tapi hari itu nampak berpakaian Muslimah dengan 
rapih. “You know what, I’ve decided to convert”, katanya memulai percakapan 
pagi itu. “Alhamdulillah. You did not decide it Sister!”, kataku. 
   
  “When some one decides to accept Islam, it’s God’s decision”, jelasku.
  Beberapa saat kemudian beberapa peserta memasuki ruangan. Saya menyampaikan 
kepada mereka bahwa ada berita gembira. “A good news, Theresa have decided to 
be a Muslim today”. Hampir saja semua peserta yang rata-rata wanita itu 
berpaling ke Theresa dan menyalaminya. “So the big lady will be a Muslim?”, 
kata salah seorang peserta. Memang Theresa digelari “big lady” karenanya 
sedikit gemuk.
   
  Menjelang shalat Dhuhur, saya meminta Theresa untuk mengambil air wudhu. 
Sambil menunggu adzan Dhuhr, saya kembali menjelaskan dasar-dasar islam secara 
singkat serta beberapa nasehat kepadanya. Saya juga berpesan agar kiranya 
Theresa dapat menggunakan posisinya sebagai direktur rumah sakit untuk 
kepentingan Islam. “Insha Allah!”, katanya singkat.
   
  Setelah adzan dikumandangkan saya minta Theresa untuk datang ke ruang utama 
masjid. Di hadapan ratusan jama’ah, Theresa mempersaksikan Islamnya: “Laa 
ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah”. Allahu Akbar!New 
   
  York, December 24, 2007
  * Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York . Syamsi 
adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York " di www.hidayatullah. com

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke