Kabar Indonesia. 

            
Oleh : Redaksi-kabarindonesia 

            
29-Des-2007, 07:17:39 WIB - [www.kabarindonesia.com]

           
            Bagaimana kenampakan alam semesta sesaat setelah 
dentuman besar? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan 
inti bintang atau planet? 

            Pertanyaan klasik dalam astro-fisika ini, sekarang 
hendak dijawab oleh ilmuwan Jerman menggunakan pemercepat partikel 
terbaru, yang pembangunannya dimulai belum lama ini di Darmstadt. 
Instalasinya diberi nama FAIR, yang merupakan singkatan dari 
fasilitas penelitian anti-Proton dan Ion. Walaupun FAIR berada di 
kota Darmstadt, tapi merupakan proyek bersama Eropa, yang melbatkan 
2.500 ilmuwan dari 15 negara. Dengan pemercepat partikel raksasa 
ini, inti atom dipacu hingga mendekati kecepatan cahaya dan saling 
ditabrakkan atau ditumbukkan dengan obyek lainnya.

            Kondisi awal alam semesta sesaat setelah Dentuman Besar 
serta perkembangannya masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum 
terjawab. Pada detik atau menit pertama setelah dentuman besar, 
seluruh materi di alam semesta masih terhimpun dalam apa yang 
disebut Big Bang Nucleosynthesis, yang panasnya milyaran derajat 
Celsius dengan kerapatan materi amat luar biasa. Baryon yakni 
pasangan Proton dan Neutron yang dilepaskan pada fase itu, terutama 
membentuk ikatan Hidrogen-1 dengan inti atom terdiri dari satu 
Proton, serta Helium-4 yang memiliki inti atom dengan dua Proton dan 
dua Neutron. Beberapa menit setelah dentuman besar, alam semesta 
mengembang dengan cepat dan membentuk elemen yang lebih berat. 
Pemercepat partikel di Darmstadt-FAIR, dibangun untuk membuat 
simulasi kondisi alam semesta pada detik-detik pertama setelah 
dentuman besar. Dengan mempercepat partikel mendekati kecepatan 
cahaya, yakni sekitar 300 ribu km per detik dan saling 
menabrakannya, diciptakan suhu tinggi dan kondisi seperti pada saat 
Big Bang Nucleosynthesis. 

            Pimpinan proyek FAIR prof. Hans Gutbrod 
menjelaskan; "Dengan FAIR kita harapkan berhasil mempercepat 
sirkulasi milyaran partikel dan merekayasanya untuk bergerak saling 
mendekat dan dalam waktu 50 nano-detik seperti sebuah palu kami 
tumbukkan ke sebuah blok."

            Dengan itu dapat disimulasikan situasi ekstrim seperti 
yang terjadi pada inti bintang atau inti planet. Bahkan para pakar 
fisika berharap, mereka juga dapat membuat simulasi seperti pada 
saat awal mula terciptanya alam semesta. 

            Simulasi sekitar 15 milyar tahun lalu, ketika terjadi 
dentuman besar yang melahirkan alam semesta yang kita huni, hendak 
diamati menggunakan kamera besar yang disebut sebagai detektor oleh 
para peneliti Astro-Fisika Eropa. Lebih lanjut pimpinan proyek FAIR, 
Prof. Hans Gutbrod menjelaskan ; "Ini sebuah perangkat, dimana di 
dalamnya inti atom saling bertabrakan. Perangkat ini panjangnya 25 
meter dan tingginya 10 meter, dilengkapi dengan jutaan kanal 
elektronik."

            Misteri Unsur Berat

            FAIR diharapkan memberikan jawab terhadap berbagai 
misteri astro-fisika yang selama ini hendak dipecahkan para 
peneliti. Antara lain, dari mana datangnya inti atom unsur berat di 
alam semesta kita? Demikian diungkapkan Reinhard Stock, pakar fisika 
dari Universitas Frankfurt. Sebab pada saat dentuman besar hanya 
tercipta materi ringan, terutama Hidrogen dan Helium. Unsur kimia 
yang lebih berat lainnya, seperti oksigen, belerang dan besi 
terbentuk beberapa milyar tahun kemudian di dalam inti bintang atau 
inti planet. Tapi elemen super berat seperti Uranium, diyakini hanya 
dapat terbentuk dalam bencana kosmis. 

            Pakar fisika dari Universitas Frankfurt, Reinhard Stock 
menegaskan; "Terdapat bencana astro-fisika yang eksotis, misalnya 
supernova atau tabrakan bintang neutron. Dan FAIR hendak mengujicoba 
proses penciptaan elemen berat yang ada di alam semesta, dimana 
sejumlah elemen berat yang langka dibuat sintesisnya dan diteliti 
sifat-sifatnya. Ini merupakan tema yang merupakan titik berat 
rekayasa dari instalasi baru tsb."

            Para pakar fisika juga mengharapkan FAIR dapat 
menciptakan kondisi Big Bang Nucleosynthesis, yang panasnya milyaran 
derajat Celsius dengan kerapatan materi amat luar biasa. 

            Materi Hadron

            Dengan memanfaatkan perangkat pemercepat partikel 
berukuran amat besar FAIR, para ahli fisika hendak mempercepat inti 
atom hingga mendekati kecepatan cahaya dan saling menabrakannya. 
Sejauh ini para ahli fisika masih menghadapi misteri besar 
menyangkut materi Hadron, dimana bagian elementar dari Proton dan 
Neutron yang disebut Quarks terikat oleh gaya amat kuat. Gaya kuat 
atau Hadron ini memiliki sifat paradox. Semakin rapat Quarks semakin 
kecil gayanya, dan semakin membesar seiring dengan pertambahan 
jarak. Setelah itu jika mencapai jarak tertentu besarnya gaya akan 
konstan. 

            Pakar fisika dari Universitas Frankfurt, Reinhard Stock 
menjelaskan lebih lanjut; "Inti atom itu semacam gelembung yang 
berisi Proton dan Neutron. Jika saya menabrakkan dua gelembung 
semacam itu, berarti saya memampatkan materi di dalam gelembung. Di 
titik tabrakkan kerapatan materi menjadi amat tinggi. Dengan itu 
terbentuk kondisi yang tidak mengikuti hukum inti atom yang normal, 
dan diliuar semua hukum fisika yang dapat diamati di Bumi. Tercipta 
semacam dentuman besar dalam bentuk mini."

            Selain membuat simulasi dentuman besar, FAIR juga hendak 
membuat simulasi kondisi yang terjadi di inti planet Saturnus dan 
Yupiter. Dengan itu hendak dilacak rincian, bagaimana bagian 
terkecil dari materi berinteraksi. Selain itu juga hendak diujicoba 
komponen terbaru untuk membuat pesawat ruang angkasa dan satelit. 
Instalasi pemercepat partikel di Darmstadt itu memiliki diameter 
sekitar satu kilometer persegi, dan diharapkan mulai dapat digunakan 
tahun 2012 mendatang. 

            Sejauh ini, penelitian Hadron yakni gaya kuat di inti 
atom, yang mengikat Quarks menjadi Proton dan Neutron yang membentuk 
inti atom, masih berada pada tahapan awal. Bagaimana mekanismenya 
sebagian besar belum diketahui dengan pasti. Yang sudah diketahui 
adalah, gaya kuat di inti atom mempengaruhi secara mendasar struktur 
materi serta evolusi alam semesta. Sejauh ini, penelitian elemen 
berat juga terus dipacu. Seperti diketahui, elemen paling berat di 
alam adalah Uranium yang memiliki 92 proton. Akan tetapi para pakar 
kimia dan fisika dapat menciptakan 20 unsur lebih berat dari 
Uranium, dengan sintesa di laboratorium. 

            
Elemen berat di alam, menurut pengetahuan paling aktual, 
tercipta dalam proses amat rumit di inti bintang berukuran besar 
atau dari ledakan Supernova. Instalasi penelitian FAIR dengan 
perangkat anti-Proton dan pancaran ion-nya, diharapkan juga dapat 
menjelaskan lebih rinci pembentukan elemen berat di alam ini.


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke