Bung, tengok negara negara makmur yang kemakmurannya merata: mereka 
membangun berdasarkan: MORAL KERJA yang tinggi, KEPERDULIAN sosial 
yang tinggi, KETAATAN hukum yang tinggi, B U K A N menunggu ayat ayat 
memerintahkannya.

TEPAT seperti mas Lukas catat: "Ironisnya, semangat keagamaan yang 
sekarang semarak dimana-mana,dengan frekuensi kegiatan agama yang 
tinggi ternyata tidak berdampak apa-apa pada kehidupan masyarakat 
kecil. Agama masih menjadi wilayah otonomi (untuk diri sendiri), 
tidak heteronom (berdampak pada orang lain)....."

Ingat bung, bangsa kita sudah ber agama RIA (Muslim) sejak walisongo 
masuk ke Nusantara, sampai kini (juga Kristen masuk ikut ikutan). 
Pernahkah agama MENDORONG pembangunan NATION BUILDING? Never, bung. 
never

Simaklah



--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Lukas,
> Seharusnya memang ada kesepakatan di semua agama bahwa
> segala ketidak adilan harusnya dilawan, minimal dengan
> jalan damai seperti pemikiran.
> 
> Sebagai contoh bagaimana 94,6 juta hektar tanah negara
> ternyata hanya diserahkan kepada 652 pengusaha
> sementara puluhan juta petani tanahnya kurang dari 0,4
> hektar atau bahkan tak punya sama sekali hingga cuma
> jadi buruh tani merupakan satu ketidak adilan.
> 
> Ini perlu reformasi di bidang tanah agar tanah bisa
> dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat Indonesia.
> Minimal proyek transmigrasi seperti zaman ORBA harus
> dihidupkan jika perlu diperbaiki sehingga para petani
> jadi makmur.
> 
> Saya yakin di semua agama ada nilai2 positif yang bisa
> disebar untuk mengurangi kemiskinan struktural atau
> pun kultural.
> 
> Sebagai contoh dalam Islam disebut bahwa "Manusia
> berserikat dalam tiga hal yaitu air, rumput, dan api.
> (HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah). Artinya
> migas, tanah, dan air tidak boleh dimonopoli oleh
> segelintir orang, tapi harus jadi milik bersama. 
> 
> Atau tanah yang ditelantarkan selama lebih dari 3
> tahun otomatis kepemilikannya dipindahkan kepada orang
> yang mau mengelolanya.
> 
> Disebut juga bahwa orang yang tidak mau membantu fakir
> miskin sebagai pendusta agama (meski ibadahnya tekun).
> Sebaliknya orang yang mampu tapi memilih jadi pengemis
> dicela oleh Allah SWT.
> 
> Saya yakin jika nilai2 positif seperti di atas
> disebarluaskan baik dari agama Islam, Kristen, Budha,
> dsb niscaya ketidak-adilan bisa diberantas.
> 
> Tapi banyak pemuka agama yang cenderung mengabaikan
> ketidak-adilan di bidang ekonomi. Padahal ini
> sebenarnya cukup penting agar kita tidak disebut
> sebagai pendusta agama.
> 
> --- Lukas Kristanto <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> 
> > Pak Nizami, kemiskinan itu banyak penyebabnya,
> > tetapi kalau disederhanakan ada 2 macam: kemiskinan
> > struktural dan kemiskinan kultural. Kemiskinan
> > struktural penyebabnya bukan karena orang itu malas,
> > tidak produktif tidak mempunyai keinginan untuk maju
> > (need for achievement) tetapi disebabkan oleh
> > struktur ekonomi dan politik yang menyebabkan dia
> > miskin, karena tertutupnya semua peluang dan
> > kesempatan untuk berkompetisi. Sistim kapitalisme
> > (yang terjadi di Indonesia) memunculkan
> > praktek-praktek monopoli, oligopoli dan ketamakan
> > (greedy) yang telah dikuasai beberapa gelintir
> > orang, memberikan andil dalam pemiskinan ini. Yang
> > kuat menindas yang lemah.
> > Sedangkan kemiskinan kultural lebih berkaitan dengan
> > etos sosio-budaya, seperti tidak mau maju, skeptis,
> > statis dan stagnan dalam bekerja dan berusaha. Tidak
> > memiliki obsesi untuk maju, dan terjebak dengan
> > rutinitas, kemarin, hari ini dan besok sama saja (no
> > furtherance).
> > 
> > Kemiskinan struktural seringkali menimbulkan adanya
> > kemiskinan kultural, karena terhimpit, tertekan
> > situasi, dan terdesak beban kehidupan yang kian
> > merongrong, lalu orang nekat berbuat apa saja asal
> > bisa hidup dan makan, seperti: mengemis, mengamen,
> > melacurkan diri, bahkan mencuri dan merampok.
> > Kondisi ini dalam interval waktu yang lama akan
> > menciptakan kultur, maka tidak heran mengemis
> > sekarang sudah menjadi kultur, bahkan mulai
> > kakek-nenek, anak dan cucu-cucunya terjebak dalam
> > situasi ini. Mereka sudah masuk lingkaran tak
> > berubah (zero-growth circle), istilah Johan Galtung,
> > yang sampai kapanpun terus begitu dan malah enjoy
> > dengan kehidupan semacam itu...! 
> > 
> > Mereka korban situasi, baik politik dan ekonomi,
> > bahkan renggangnya kepedulian kita semua. Ironisnya,
> > semangat keagamaan yang sekarang semarak
> > dimana-mana, dengan frekuensi kegiatan agama yang
> > tinggi ternyata tidak berdampak apa-apa pada
> > kehidupan masyarakat kecil. Agama masih menjadi
> > wilayah otonomi (untuk diri sendiri), tidak
> > heteronom (berdampak pada orang lain).
> > 
> > Para elite politik pun pada mabuk dengan perannya di
> > panggung politik...., sampai tak sadar kalau mereka
> > sudah menjadi badut-badut politik (politic
> > clown)....!
> > 
> > Salam,
> > Lukas Kristanto
> > 
> > A Nizami wrote: 
> > >             Kemiskinan, Bencana, dan Banyaknya
> > Korban 
> > > Mungkin banyak yang tidak menyadari. Tapi
> > sesungguhnya 
> > > ketiga hal tersebut saling berhubungan. 
> > > Banyaknya korban gempa yang jatuh di Yogyakarta 
> > > sebanyak 5000 orang lebih tak lepas dari
> > kemiskinan. 
> > > Rumah jadi lemah dan gampang hancur dan menimpa 
> > > penghuninya karena tidak dibangun dengan baik.
> > Tidak 
> > > ada kawat baja sebagai rangka beton, serta campun 
> > > pasir dan semen tidak 1:2, tapi bisa 1:4 atau
> > lebih 
> > > sehingga adukan semennya tidak kuat. Kenapa banyak
> > 
> > > penduduk tidak membeli kawat baja sebagai rangka
> > dan 
> > > mencampur pasir dengan semen sesuai aturan? Karena
> > 
> > > perlu biaya tinggi untuk membeli kawat baja dan
> > semen 
> > > yang banyak. Karena miskin, mereka tidak punya
> > cukup 
> > > uang untuk itu. 
> > > Karena miskin pula mereka jadi tidak terdidik dan 
> > > sulit mendapat informasi bagaimana membangun rumah
> > 
> > > yang aman dari gempa. Toh untuk mendapat informasi
> > 
> > > tesebut secara mencukupi juga perlu biaya. 
> > > Ketika warga yang kebanjiran ditanya kenapa tidak 
> > > pindah saja? Kan rumah mereka kebanjiran terus
> > tiap 
> > > tahun. Para warga umumnya menjawab, ”Bagaimana
> > ya? 
> > > Dari dulu sudah tinggal di situ dan cari makan
> > juga di 
> > > situ.” 
> > > Ketika ditanya apakah bersedia jika direlokasi
> > oleh 
> > > pemerintah, mereka menjawab, ”Kalau gratis sih
> > ya mau” 
> > > Mereka tak bisa pindah karena tak punya cukup uang
> > 
> > > untuk membeli tempat tinggal baru yang lebih baik.
> > 
> > > Kemiskinan membuat mereka terjebak di wilayah
> > banjir. 
> > > Paling tidak sebagian warga mengalami hal seperti
> > itu. 
> > > Jika mereka tidak miskin dan punya cukup uang,
> > tentu 
> > > mereka bisa pindah ke daerah yang bebas banjir. 
> > > Jadi Kemiskinan, Bencana, dan Banyaknya Korban
> > bencana 
> > > memang sedikit banyak ternyata saling berkaitan. 
> > > === 
> > > Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS 
> > > Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 
> > > Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap
> > hari 
> > > Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252.
> > Sementara hanya dari Telkomsel 
> > > Dapatkan tulisan-tulisan tentang Islam di: 
> > >  http://www.media- islam.or. id 
> > > ____________ _________ _________ _________
> > _________ _________ _ 
> > > Looking for last minute shopping deals?  
> > > Find them fast with Yahoo! Search.  http://tools.
> > search.yahoo. com/newsearch/ category. php?category=
> > shopping 
> > >      
> > 
> > 
> > 
> >       Looking for a X-Mas gift?  Everybody needs a
> > Flickr Pro Account.
> > 
> >  
> > 
> > http://www.flickr..com/gift/
> > 
> > 
> > 
> 
> 
> ===
> Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS
> 
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
> Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 
> 
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari 
Telkomsel 
> 
> Dapatkan tulisan-tulisan tentang Islam di:
> http://www.media-islam.or.id
> 
> 
>       
______________________________________________________________________
______________
> Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
> http://www.yahoo.com/r/hs
>


Kirim email ke