Mengapa Kita Berbeda dari Malaysia

Ada pengalaman sejarah yang berbeda antara republik ini dan kerajaan di 
seberang itu dalam hal memperjuangkan kemerdekaan.

***-
HUBUNGAN antara Indonesia dan Malaysia belum pernah seburuk sekarang sejak 
ASEAN berdiri. Dan keadaan yang tak baik itu tak banyak ditolong oleh 
pembesar dan politikus di Kuala Lumpur.

Pekan lalu, di Bali, Datuk Seri Zainudin, Menteri Penerangan Malaysia, 
mengatakan bahwa media Indonesia "terlampau bersemangat" dengan kebebasan 
"yang diberikan" (granted) semenjak jatuhnya Orde Baru. Menteri itu 
mengecam media di Indonesia karena menyiarkan pendapat pemimpin partai 
oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim.

Kritik Datuk Seri Zainudin tampaknya tak akan punya dampak yang serius 
dalam kehidupan media di Indonesia; para tokoh pers kita telah menangkis 
pendapat itu, terutama karena mudah ditertawakan. Apalagi sang Datuk toh 
tak punya kuasa apa pun di wilayah republik ini. Tetapi kita, orang 
Indonesia, dengan itu dapat membandingkan beberapa hal dasar di antara 
kedua negeri.

Malaysia memang punya ekonomi yang lebih maju ketimbang Indonesia. Di sana 
tak banyak korupsi. Tak ada teroris--meskipun dua tokoh teroris di 
Indonesia datang dari Malaysia, yang dulu membiarkan organisasi seperti 
Jamaah Islamiyah hidup sampai para pemimpinnya kembali ke Indonesia. 
Sementara itu, Malaysia aman, makmur, beres.

Tetapi di belakang beda itu ada sejarah. Malaysia tak pernah mengalami 
revolusi kemerdekaan seperti Indonesia, dengan senjata dan amarah. Revolusi 
itu seperti gempa besar; ia bisa bergetar panjang dalam waktu.

Karena getar revolusi itu Indonesia, misalnya, pernah menerapkan sistem 
"ekonomi terpimpin" yang "anti-Barat"--yang akhirnya meletakkan birokrat 
dan jenderal dalam posisi mengontrol produksi dan distribusi barang dan 
jasa. Akibatnya, ekonomi berantakan pada 1958-1966 dan satu kesempatan 
besar hilang.

Bukan cuma itu: dari jejak "ekonomi terpimpin" itulah sistem perizinan 
dalam dunia bisnis merajalela hingga sekarang, yang memberikan peluang bagi 
korupsi yang meluas.

Namun getar revolusi itu tak selamanya buruk. Ia memberi bangsa ini 
pengertian bahwa kemerdekaan itu mahal; kita telah merebutnya dengan 
korban. Getar revolusi itu pula yang menggerakkan para pemuda Indonesia 
pada 1998 bersedia mati untuk cita-cita reformasi--di antaranya untuk 
mempunyai pers Indonesia yang tak dikekang.

Dengan menganggap kemerdekaan pers Indonesia sebagai sesuatu yang 
"diberikan", Datuk Seri Zainudin menunjukkan betapa jauhnya ia dari 
pengalaman Indonesia. Hak asasi bukanlah anugerah. Hak asasi di republik 
ini ditebus dengan darah, air mata, dan nyawa--termasuk nyawa Munir.

Dalam hak asasi itu termaktub hak untuk bertentangan pendapat politik. Juga 
hak untuk menyatakannya di jalan.

Sampai hari ini, Malaysia belum menjamin hak-hak itu. Kita tak usah 
memarahinya. Negeri itu tak pernah mengenal usaha merebut hak dengan 
pengorbanan diri yang radikal, dipenjara, dibuang, atau dibunuh. Sebab itu 
dengan mudah Kerajaan Malaysia membungkam pers dengan surat izin yang harus 
diperbarui tiap tahun, menahan lawan politik tanpa diadili sampai waktu tak 
terbatas--bahkan melarang orang yang bukan muslim menyebut Tuhan dengan 
"Allah", seakan-akan Kerajaan Malaysia bisa menunjuk pemegang monopoli 
kata-kata.

Tetapi, seraya memaklumi itu, tak salah kita berbangga di celah-celah 
kemiskinan kita: Republik Indonesia adalah sebuah demokrasi yang hidup dan 
ditegakkan dari bawah--bukan sebuah akuarium yang cantik tetapi hanya 
dihuni ikan-ikan yang bisu.
***-/**

(Opini Majalah TEMPO, 7 Januari 2008)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke