bung asvi telah menjawab secara tegas, bahwa pemerintah sekarang masih represip 
dan suka pameran kekuasaan.

asal tau aja, indonesia masih "dibiayai oleh barat", kelakuan demokrasi 
ecek-eceknya tsb musti diumumkan kepada negara pemberi hutang, supaya barat tau 
jelas bahwa uang yang ditanam di indonesia itu hanya berbunga kepedihan dan 
kesengsaraan buat rakyat doang.

atau barat juga udah tau neeeh.., malah taunya barat itu jangan2 lebih dalam 
lagi, sehingga ada kasus majalah time dituntut soeharto, seakan-akan barat 
"memanaskan" bara api mei 98, setelah itu terserah kepada orang awaklah, apa 
mau mengkoreksi reformasibasi secara total, atau bengong aja. pilihan ada 
banyak, maklumlah, kemiskinan itu sengaja dijaga utk bisa mengemis ke barat...

DENGAN UANG HUTANG RAKYAT DITINDAS!

heri latief
amsterdam, 9 januari 2008 

[EMAIL PROTECTED] wrote: 
Tulisan saya itu untuk koran Jawa Pos yang pembacanya terdiri dari
khalayak berbagai golongan. Bukan untuk milis yang anggotanya lebih
spesifik atau khusus (dalam ideologi atau pengalaman sejarah)
Saya akan tetap berada di tengah-tengah, itu prinsip sebagai peneliti.
Namun tentu tidak seorang pun yang dapat menghalangi saya untuk berempati 
kepada korban. Itu sudah saya perlihatkan dalam tulisan-tulisan di mediamassa 
selama 10 tahun ini.

Namun kita perlu belajar dari kasus Bersihar Lubis yang menulis Kisah
Interogator Dungu yang diperkarakan oleh Kejaksaan. Perlu strategi
penulisan yang dapat lolos dari editor media massa namun tetap kritis. Dan 
sekaligus tidak mudah dibawa ke pengadilan oleh aparat keamanan.

Coba lihat tulisan saya itu, belum ada di Indonesia di media massa ada
tulisan secara terbuka mengungkap keberadaan buku "15 dalil Soeharto masuk 
Neraka". Saya "memasyarakatkan" buku itu, sungguhpun saya berlindung dgn 
kalimat "saya berada di tengah-tengah".

Dalam tulisan itu saya membagi empat golongan sikap terhadap Soeharto. Pada 
golongan yang sangat kritis terdapat tim Komnas Ham yang menyelidiki 
pelanggaran berat Soeharto. Saya menjadi anggota tim itu, sungguhpun dalam 
artikel tidak saya sebutkan.

Salam,
[EMAIL PROTECTED]


> saya teruskan komentar bung don manurung ke bung asvi.
>
> semoga ada reaksi dari bung asvi.
>
> salam, heri latief
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Don Manurung 
> wrote:
>
> Pak Asvi yang budiman,
>
> jawaban responden Denny JA itu sangat singkat, hingga mengundang banyak
> macam interprestasi. Misalnya "pembangun terbesar keluarga dan para kroni
> sekaligus perusak terbesar bangsa dan bumi Indonesia". Terserah
> persepsinya.
>
> Andai Pak Asvi yang jadi presiden jaman itu tentu dengan melimpahnya SDA
> dan tim yang baik juga bisa mengadakan pembangunan fisik. Tanpa main
> gebuk!
>
> Sampai kapan Pak Asvi akan berada ditengah-tengah? Apa para sejarawan kita
> yang mumpuni punya ruang dan nyali untuk menulis apa saja sesuai dengan
> penelitiannya? Atau sedikit banyak tetap mencacat yang dikehendaki
> penguasa?
>
> Tampaknya perlu seorang peneliti antropologi budaya sekaliber C Geertz
> untuk
> menguak level budaya bangsa kita ini mengapa semuanya itu bisa terjadi
> pada empat dasawarsa yang lalu dan kuatnya kekaguman pada sesuatu yang
> oleh bangsa-bangsa lain telah dicampakan, juga dikawasan yang sedang
> berkembang.
>
> Selamat meneliti, hasilnya memang bisa ditulis sepuluh tahun kedepan.
> DM
>
>
> HKSIS  wrote:
>             http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=320517
>   Senin, 07 Jan 2008,
> Polarisasi Opini terhadap Soeharto
>
>
>   Oleh Asvi Warman Adam



      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke