Nahhh bung Irwan? Sudah jelas? Lukas Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kekerasan adalah istilah yang seringkali bias, yang mestinya berkonotasi negatif, lalu dibuat sedemikian rupa menjadi positif. Dalam perspektif universal, kekerasan tidak ada bedanya dengan istilah kekejian, kelaliman, sadis, dsbnya. Kata kekerasaan dalam bhs inggris adalah violence/violent, kata ini selalu disepadankan dengan kata cruel, harsh, despotic, tyranical, rigor, force, dll.
Dalam nomenclature peradaban yunani, setiap peristilahan dimunculkan secara bipolar (2 kutub): kutub baik-kutub jelek, positif-negatif, keras-lembut, dsbnya. Dalam kebudayaan cina juga dikenal YIN dan YANG (baik dan buruk). Kata parabiazomai (keras dan memaksa) sering digunakan oleh Plato dalam karyanya REPUBLIC untuk menggambarkan bahwa kekerasan itu bertentangan dengan hati nurani. Kata ini dipakai plato sebagai tanggapan terhadap sikap-sikap prajurit yang selalu berusaha membinasakan musuh/lawan. Bagi plato suatu perlawanan tidak harus membinasakan (musuh tidak harus dibunuh). Membinasakan (biates) bukan sifat keagungan (divine nature), kata plato. Aristotle menggunakan istilah: tobdelygma tes eremoseos (kekerasan yang memusnakan secara total), dalam bhs inggris: abomination of desolation. Menurut Aristotle, sumber setiap kekerasan ialah suatu kekuatan vital yang DEMI MEMPERTAHANKAN DIRI berusaha membinasakan hidup di sekelilingnya. Menurut Aristotle, Bagaimanapun juga munculnya kekuasaan-kekuasaan (partai, aliran, gerakan, kerajaan,-pen) selalu menghidupkan kekuatan-kekuatan kekerasan juga. Tragisnya, kata perjuangan (sttrugle) yang sebenarnya berkonotasi positif, dikaitkan juga dengan kekerasan. Sehingga, jika seorang berhasil membunuh lawan, sang pembunuh selalu mengatakan demi perjuangan. Bahkan membakar, merusak, menghancurkan (yang jelas-jelas vandalisme) juga selalu disebut perjuangan. Kedua kata ini menjadi bias, karena sudah menjadi terminologi bahwa tidak ada perjuangan tanpa kekerasan. Demokrasi juga mulai bertunangan dengan kekerasan. Asal kata demos=rakyat telah diartikulasikan secara kuantitatif, bahwa yang banyaklah yang berkuasa. Demokrasi bukan bersifat plural lagi, tetapi akhirnya juga bersifat homogen. Istilah single-majority adalah juga kekuatan yang meledakkan kekerasan, yaitu ketika yang minor tidak menurut pada yang mayor....! Demokrasi telah mencabut hak yang minor, dan hak itu sepenuhnya berada dalam genggaman sang mayor! Istilah demokrasi, perjuangan dan kekerasan menjadi sebuah lingkaran yang saling bersambut demi sebuah kekuasaan, ambisi, dan superlative-syndrome (merasa yang paling benar). Salam Lukas Kristanto Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot with the All-new Yahoo! Mail. Click on Options in Mail and switch to New Mail today or register for free at http://mail.yahoo.ca --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. [Non-text portions of this message have been removed]

