Kekerasan adalah istilah yang seringkali bias, yang mestinya berkonotasi 
negatif, lalu dibuat sedemikian rupa menjadi positif. Dalam perspektif 
universal, kekerasan tidak ada bedanya dengan istilah kekejian, kelaliman, 
sadis, dsbnya. Kata kekerasaan dalam bhs inggris adalah violence/violent, kata 
ini selalu disepadankan dengan kata cruel, harsh, despotic, tyranical, rigor, 
force, dll.

Dalam nomenclature peradaban yunani, setiap peristilahan dimunculkan secara 
bipolar (2 kutub): kutub baik-kutub jelek, positif-negatif, keras-lembut, 
dsbnya. Dalam kebudayaan cina juga dikenal YIN dan YANG (baik dan buruk). 

Kata parabiazomai (keras dan memaksa) sering digunakan oleh Plato dalam 
karyanya REPUBLIC untuk menggambarkan bahwa kekerasan itu bertentangan dengan 
hati nurani. Kata ini dipakai plato sebagai tanggapan terhadap sikap-sikap 
prajurit yang selalu berusaha membinasakan musuh/lawan. Bagi plato suatu 
perlawanan tidak harus membinasakan (musuh tidak harus dibunuh). Membinasakan 
(biates) bukan sifat keagungan (divine nature), kata plato. 

Aristotle menggunakan istilah: tobdelygma tes eremoseos (kekerasan yang 
memusnakan secara total), dalam bhs inggris: abomination of desolation. Menurut 
Aristotle, sumber setiap kekerasan ialah suatu kekuatan vital yang DEMI 
MEMPERTAHANKAN DIRI berusaha membinasakan hidup di sekelilingnya. Menurut 
Aristotle, Bagaimanapun juga munculnya kekuasaan-kekuasaan (partai, aliran, 
gerakan, kerajaan,-pen) selalu menghidupkan kekuatan-kekuatan kekerasan juga.

Tragisnya, kata perjuangan (sttrugle) yang sebenarnya berkonotasi positif, 
dikaitkan juga dengan kekerasan. Sehingga, jika seorang berhasil membunuh 
lawan, sang pembunuh selalu mengatakan demi perjuangan. Bahkan membakar, 
merusak, menghancurkan (yang jelas-jelas vandalisme) juga selalu disebut 
perjuangan. Kedua kata ini menjadi bias, karena sudah menjadi terminologi bahwa 
tidak ada perjuangan tanpa kekerasan.

Demokrasi juga mulai bertunangan dengan kekerasan. Asal kata demos=rakyat telah 
diartikulasikan secara kuantitatif, bahwa yang banyaklah yang berkuasa. 
Demokrasi bukan bersifat plural lagi, tetapi akhirnya juga bersifat homogen. 
Istilah single-majority adalah juga kekuatan yang meledakkan kekerasan, yaitu 
ketika yang minor tidak menurut pada yang mayor....! Demokrasi telah mencabut 
hak yang minor, dan hak itu sepenuhnya berada dalam genggaman sang mayor!

Istilah demokrasi, perjuangan dan kekerasan menjadi sebuah lingkaran yang 
saling bersambut demi sebuah kekuasaan, ambisi, dan superlative-syndrome 
(merasa yang paling benar). 

Salam

Lukas Kristanto


      Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the 
boot with the All-new Yahoo! Mail.  Click on Options in Mail and switch to New 
Mail today or register for free at http://mail.yahoo.ca 

Kirim email ke