Sebelum mencap Ahmadiyah sebagai aliran sesat, sebaiknya Bung Hariss dan 
orang-orang MUI berkonsultasi lebih dahulu kepada Allah, guna memohon 
petunjukNya. Minta pancarkan cahaya Illahi di langit, mana Islam yang sesat 
mana yang bukan. Jadi tidak ada istilah tebak-tebak buah manggis.

Jangan-jangan yang mencap aliran ini sesat aliran itu sesat justru merekalah 
yang sesat.

Sudah biasa itu tindakan mau menang sendiri




  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, January 10, 2008 12:48 PM
  Subject: [ppiindia] Fwd: “Antara Islam dan Ahmadiyah”


  Antara Islam dan Ahmadiyah 

  Oleh : KH A Cholil Ridwan
  Ketua Majelis Ulama Indonesia

  Akhir-akhir ini, masalah Ahmadiyah terus menjadi pembicaraan. Masalah
  ini sudah sangat lama menjadi duri dalam daging dalam tubuh umat
  Islam. Kasus demi kasus yang menimpa jemaat Ahmadiyah terus terjadi.
  Sering ada pertanyaan, mengapakah umat Islam sangat keras
  resistensinya terhadap Ahmadiyah? Mengapakah MUI menetapkan Ahmadiyah
  adalah aliran sesat. Hal-hal inilah yang seringkali tidak dipahami
  oleh banyak orang, sehingga ada yang salah paham, bahkan meminta MUI
  dibubarkan segala macam. 
  Karena banyaknya pertanyaan semacam itu dari kalangan masyarakat
  kepada saya, maka semoga tulisan singkat berikut ini dapat
  menjelaskannya. Salah satu kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI
  dalam Rakernas bulan November 2007 yang lalu ialah, ''Mengingkari Nabi
  Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir''. Dengan kriteria ini,
  maka Ahmadiyah secara otomatis masuk kategori aliran sesat, sebab
  mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Ahmadiyah juga mempunyai
  Kitab Suci sendiri, di samping Alquran, yaitu Tadzkirah, yang isinya
  banyak berupa "pelintiran" dari ayat-ayat Alquran. MUI sudah meneliti
  "kitab suci" kaum Ahmadiyah ini dengan cermat.
  Pokok masalah
  Masalah utama yang menjadi perbedaan antara umat Islam dan kaum
  Ahmadiyah adalah keyakinan tentang status kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
  Bagi Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi dan menerima
  wahyu dari Allah, sehingga mereka menambahkan sebutan 'alaihis salam'
  (as) pada namanya. Dia pun diyakini sebagai Isa dan Imam Mahdi
  sekaligus. Baru-baru ini, seorang tokoh Ahmadiyah menerbitkan buku
  dengan judul Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa
  (2007). 
  Dijelaskannya di dalam buku ini tentang kepercayaan kaum Ahmadi,
  yaitu, '''Imam Mahdi dan Isa yang dijanjikan adalah seorang nabi yang
  merupakan seorang nabi pengikut atau nabi ikutan dengan ketaatannya
  kepada YM Rasulullah SAW yang akan datang dan mengubah masa kegelapan
  ini menjadi masa yang terang benderang. Dan apabila Imam Mahdi itu
  sudah datang, maka diperintahkanlah umat Islam untuk menjumpainya,
  walaupun harus merangkak di atas gunung salju.'' (halaman 69). 
  Kenabian Mirza Ghulam Ahmad merupakan ajaran pokok dalam aliran
  Ahmadiyah. Ditulis di dalam buku tokoh Ahmadiyah tersebut, ''Dalam
  perkembangan sejarah, pada tahun 1879 Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis
  buku Braheen Ahmadiyya. Pada saat itu Mirza Ghulam Ahmad a.s. belum
  menyampaikan pendakwaan. Namun ketika menulis kitab itu, sebenarnya
  sudah menerima wahyu. 'Kamu itu nabi, kamu itu nabi!' dan
  diperintahkan mengambil baiat, tapi masih belum bersedia.'' (halaman 70). 
  Ahmadiyah memandang orang yang tidak mengimani kenabian Ghulam Ahmad
  sebagai orang yang sesat. Berkata Mirza Ghulam Ahmad, ''Maka
  barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima imam yang
  dijanjikan (Ghulam Ahmad), maka sungguh ia telah sesat,
  sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah, dan ia
  mengutamakan keraguan atas keyakinan.'' (Mawahib al-Rahman).
  Oleh sebab itulah, di dalam shalat, orang Ahmadiyah tidak boleh
  bermakmum kepada orang-orang Muslim, karena mereka dipandang ''belum
  beriman'' kepada Imam Zaman, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dalam shalat
  jamaah, orang Ahmadiyah-lah yang diharuskan menjadi imam. Tentang
  masalah shalat ini dijelaskan di dalam buku Syarif Ahmad Saitama
  Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa tadi, ''Dasar pemikiran mengapa
  kalangan mereka harus yang menjadi imam, yaitu bagaimana mungkin
  berma'mum pada orang yang belum percaya kepada Imam Zaman, utusan
  Allah.'' (halaman 79-80). 
  Bahkan, menurut kepercayaan Ahmadiyah, musibah demi musibah, bencana
  demi bencana yang menimpa umat ini, juga disebabkan karena mereka
  menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Dikatakan, ''Dalam keyakinan
  Ahmadi, berbagai bencana alam yang terjadi merupakan peringatan dari
  Tuhan. Satu-satunya cara menghindari bencana menurut mereka adalah
  dengan mengenal Tuhan lebih dekat dengan cara mengenal seseorang yang
  sudah diangkat oleh Allah SWT. sebagai Imam Zaman.'' (halaman 73).
  Perbedaan keimanan
  Dengan keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, maka kaum
  Ahmadiyah kemudian menafsirkan ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits
  Rasulullah SAW sesuai dengan keyakinan mereka. Inilah perbedaan yang
  mendasar dalam masalah keimanan antara Islam dan Ahmadiyah. Muslim
  tidak boleh menjadi imam shalat bagi orang Ahmadiyah. Padahal semua
  Muslim memahami bahwa mazhab apa pun dalam Islam, boleh saling menjadi
  imam satu sama lain. 
  Bagi umat Islam, sudah jelas kedudukan kenabian Muhammad SAW sebagai
  nabi terakhir. Sepeninggal beliau sudah tidak ada lagi nabi. Meskipun
  banyak sekali yang mengaku sebagai nabi, tetap saja, mereka tidak
  diakui oleh umat Islam, bahkan mereka jelas-jelas sebagai pendusta.
  Dalam keputusan tahun 1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengutip
  hadits Rasulullah SAW, ''Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta,
  semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.''
  (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban). 
  Sikap tegas umat Islam dalam soal ''nabi palsu'' ini selalu
  dilakukan sejak dulu, demi menjaga kemurnian Islam. Para ulama dan
  pemimpin negara tidak berkompromi dalam masalah ini. Sayyidina Abu
  Bakar As-Shidiq RA yang dikenal sangat lemah lembut, berani bersikap
  tegas terhadap nabi palsu bernama Musailamah Al-Kadzzaab. Sebab,
  apabila dibiarkan, akan menimbulkan kekacauan dalam agama dan
  masyarakat. Apabila Mirza Ghulam Ahmad dibenarkan, maka juga harus
  dibenarkan pula ''pengakuan kenabian'' Lia Eden, Ahmad Mushaddeq, dan
  lain lain. Padahal Ahmad Mushaddeq dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyah-nya
  telah dinyatakan sesat dan melakukan pidana penodaan agama. 
  Dalam menghadapi kelompok seperti Ahmadiyah dan Lia Eden, sikap umat
  Islam dan dunia Islam sudah jelas, yaitu bahwa semua itu adalah aliran
  sesat. Seluruh dunia Islam juga tidak berbeda. MUI dan berbagai
  lembaga Islam internasional sudah menyatakan hal yang sama bahwa
  Ahmadiyah adalah aliran sesat yang berada di luar Islam. Fatwa MUI
  tentang Ahmadiyah tahun 2005, menjadikan keputusan Majma' al-Fiqih
  al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang diputuskan tahun
  1985. Oleh sebab itu, Menteri Agama Maftuh Basyuni pernah menyarankan
  agar Ahmadiyah membuat agama baru, di luar Islam. 
  Umat Islam Indonesia sudah lama dibuat resah dengan statemen
  Kholifah Ahmadiyah yang ke-4, yang datang ke Indonesia, pada bulan
  Juli 2000, yang membuat pernyataan bahwa, ''Indonesia pada akhir abad
  baru ini akan menjadi negara Ahmadiyah terbesar di dunia.'' Kalau MUI
  memfatwakan sesat terhadap Ahmadiyah, sebenarnya MUI sekadar
  menjalankan tugas dalam melindungi umat dari ajaran luar Islam yang
  akan merusak Islam. 
  Tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia (HAM), MUI sama
  sekali tidak memasung siapapun untuk memeluk agama apapun, kebebasan
  beragama adalah hak asasi setiap manusia. '''Laa ikrooha fiddin,'' 
  tidak ada paksaan dalam urusan agama. ''Lakum diinukum waliyadin,''
  bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jangan menanam alang-alang di kebun
  keluarga, tanamlah di lahan kosong yang masih sangat luas. Kebebasan
  memeluk agama bukan kebebasan merusak agama orang lain.
  Ikhtisar
  -Masalah utama penunjuk kesesatan Ahmadiyah adalah keyakinan akan
  kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
  -Ahmadiyah menafsirkan Alquran dan hadits sesuai keyakinan mereka.
  -Ahmadiyah menganggap sesat orang yang tak mengimani Mirza dan tak
  mengizinkannya sebagai imam shalat.
  -Umat Islam dan dunia Islam dari dulu bersikap tegas terhadap
  kesesatan semacam ini.
  -Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok yang merusak
  agama orang lain.
  http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=319032&kat_id=16 

  ---------------------------------

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.0/1216 - Release Date: 09/01/2008 
10:16


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke