putra_semarapura <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
di TV Jerman saya banyak lihat mereka menayangkan karet, rotan,
kopi, coklat di impor dari indonesia. mungkin untuk sementara produk
bumi itu bisa di jadikan produk unggulan Indonesia.
++++Tayangan TV itu romantis, tetapi semu. Dalam percaturan niaga komoditi
dunia, kita tak berkutik samasekali. Harga bukan kita tentukan. produk ini di
zaman Hindia belanda adalah unggulan dan merupakan sumber pembiayaan
pemerintahan. Sejak kita merdeka, anehnya, produk produk ini tak lagi
memerankan sumber devisa utama. ketergantungan dari soft commodity mematikan
perekonomian kita dalam pasar dunia!
-----------------------------------
begitu juga dalam mempersiapkan globalisasi, masing-masing individu
kembali ke kompetensinya masing-masing untuk bisa memberikan
kontribusi buat negara. selama ini banyak politisi praktis yang
bukan berlatar belakang sospol, melainkan berlatar belakang lintas
jalur. teknokrat, ekonom dan malah mahasiswa semua terjun menjadi
pengamat dan praktisi politik. begitu juga yang bukan ahli agama
banyak memberikan penyebaran pengetahuan keagamaan yang bukan
kompetensinya.
++++++ dalam menghadapi globalisasi, bukan pertukaran peran DALAM negeri yang
penting, namun LUAR negeri, antara kita dengan mitra niaga internasional. Bukan
individu yang harus tukar tempat yang menentukan nasib bangsa ini, tetapi daya
saing produk kita. China mampu mengundang investor asing untuk mengalihkan
production plant kesana, misalnya BMW. Mercedes dan lain lainnya. Tidak untuk
di assembling! Untuk diproduksi seutuhnya.
kalau orang kita mau terus tukar tempat monggo saja, tokh tak ada dampaknya
bagi daya tahan kita dalam globalisasi.
By trhe way, akhli agama, tukar tempatkah atau tidak, tidak menaikkan daya
saing global bangsa ini.
--------------------
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]