Sastra Harus Bicara
   
  Tujuh belas tahun lalu aku tertegun pada tulisan Budi Dharma: Seniman 
Pura-pura. Satu topik yang  ia bahas dalam  bukunya “Solilokui”. 
  Tak banyak yang kuingat dari buku itu. Aku hanya paham, bahwa apa yang matang 
dipikirkan kemudian dituliskan, selayaknya mesti disebarkan.
  Tetapi sebagai apa dan di mana?
  Pemberedelan Tempo; Editor; Detik. Penutupan kekejaman di Indonesia, mulai 
Aceh hingga Papua. Pemalsuan sejarah. Wartawan menjadi banci; menjadi kaki 
tangan penguasa. Tak ada keberpihakan pada rakyat. Lebih dikarenakan ketiadaan 
nyali. 
  Lalu Seno Gumira Adjidarma yang sangat menguasai bahasa menuliskan “Ketika 
Jurnalistik Dibungkam, Sastra (harus) Bicara”.
  Lama sebelumnya, aku telah meyakini bahwa tulisan tak pernah membunuh; kata 
mesti dibalas kata; pemasungan pikiran hanya membasmi peradaban. Kebebasan 
bersyair; berekspresi mesti dijaga.
  Sayang, tak ada kebebasan seperti itu di jurnalistik. Tak memadai kebebasan 
pada ilmu yang kupelajari sejak Desember 1999 hingga sekarang. 
  Tak ada yang mati karena pena; tulisan tak pernah membunuh. Tetapi 
pasal-pasal “jeruji” di KUHP membuatku ngeri. Bahkan seorang Bersihar pun 
terlihat lelah menghadapi para interogator. Peneliti-peneliti bayaran semakin 
menyadarkanku bahwa wartawan terjujur pun bisa terlihat “taik kucing”.  
  Tak ada jalan lain. Seno benar. Sastra harus bicara.
  Lebih  jauh simak www.didikelpambudi.blogspot.com.
   
  Tabik  
  Didik L. Pambudi
   
  Muntah Tahi
              Din tiba-tiba terserang penyakit aneh. Ia merasa selalu ingin 
muntah setiap melihat sosok para penguasa negara baik eksekutif, legislatif, 
dan yudikatif. Penyakit itu menyerangnya kapan saja dan di mana  saja. Tak 
ingat tempat, tak ingat waktu.
              Penyakit itu mulai menyerangnya ketika teve 14 inci yang nonggok 
di kamarnya  menyiarkan berita tentang para anggota dewan kota dan kabupaten 
yang ngamuk-ngamuk karena sebagian tunjangan untuk mereka secara mendadak 
dibatalkan pemerintah. Saat itu, tiba-tiba Din merasakan perutnya terasa amat 
mual, kepalanya mendadak pusing, dan mulutnya penuh dengan ludah. Lantas, tanpa 
bisa ditahan lagi, ia muntah-muntah saat itu juga 
              Ponirah, istrinya, sampai kaget bukan kepalang melihat muntah Din 
yang luar biasa banyak. Bahkan muntah itu seperti mengeluarkan semua isi 
perutnya hingga terlihat sangat menjijikkan dan baunya seperti bangkai.
              “Aduh, Bang, kalau berak ya jangan lewat mulut,” ujar Ponirah, 
setengah mati menahan mualnya karena dia juga yang harus membersihkan muntah 
itu, sementara Din sudah hampir pingsan dan cuma bisa berbaring di bangku 
panjang terbuat dari bambu. 
              “Maaf, Pon. Mau bagaimana lagi, Abang pun tak ingin jatuh sakit,” 
ujar Din sembari mengusap air mata dan membuang ingus yang menyertai 
muntah-muntahnya.
              “Ya sudah, besok Abang berobat saja ke puskesmas.  Siapa tahu 
penyakit Abang parah,” ujar Ponirah setelah ia menanam muntah berbau bangkai 
itu, lantaran tak enak jika sampai mengganggu tetangga, di halaman rumah 
kontrakan mereka yang luasnya tak lebih dari empat meter.
              Menuruti anjuran istrinya, begitu pagi datang, Din segera 
bergegas menuju puskesmas. Din yang tiba pukul 07.00 WIB terpaksa harus 
menunggu karena Ibu Dokter belum datang.
              “Ya, memang biasanya begini, Pak. Bu Dokter baru masuk jam 
sepuluh,” ujar perawat yang merasa takut mengobati Din karena ketika ditanya, 
Din menyatakan, penyakitnya “muntah bangkai”.
              Lama menunggu, akhirnya dokter tiba pukul 10.40 WIB. Din yang 
dari jauh melihat mobil dinas dokter, tiba-tiba merasa perutnya mual lagi. 
Selanjutnya begitu dokter turun dan berjalan ke puskesmas, Din tak dapat lagi 
menahan muntahnya. Muntah Din bahkan makin parah ketika dokter berjalan 
setengah jijik mendekatinya.
              “Pak, jangan muntah di situ!” Teriak Bu Dokter, jijik campur 
marah.
              “Huek! Maaf, Bu Dokter, saya sudah tidak tahan lagi…. Huek!”
              “Aduh, Pak! Muntah bau bangkai begini, siapa yang mau 
membuangnya?!”
              “Huek! Huek!”
              “Muntahnya ditahan, Pak!”
              “Huek!”
              Setengah marah, Bu Dokter segera berlari ke dalam mencari perawat 
agar segera membawa Din ke ruang periksa. Ia sendiri sudah memutuskan untuk 
tidak akan memeriksa Din. Jika perawat nanti menyatakan sakitnya parah maka Bu 
Dokter akan segera mengeluarkan surat rujukan ke rumah sakit negara.
              Orang bau bangkai begitu siapa yang tahan mengobatinya. Lebih 
cepat pergi, lebih baik, pikir Bu Dokter yang merasa lebih baik ia segera 
memeriksa obat paten yang diminta sebuah perusahaan farmasi untuk dijualnya 
bagi para pasien. Ya, untungnya lumayan bisa buat membelikan sepeda motor si 
ragil, pikirnya melupakan penderitaan Din.
              Di ruang tunggu, Din tiba-tiba merasa aneh karena ia tidak muntah 
lagi begitu Bu Dokter menghilang dari pandangannya. Ia juga tidak muntah 
meskipun hidungnya jelas-jelas mencium bau tahi, dari muntahnya. Aneh, 
pikirnya. 
              Sayangnya, Din tak bisa lama-lama memikirkan keanehan itu. Din 
harus segera membersihkan lantai yang penuh dengan muntah. Habis, siapa lagi 
yang mau membuang muntah berbau tahi itu. Din tentu tak enak hati, jika para 
perawat yang harus membersihkan muntahnya. Mereka akan berkata, tidak digaji 
untuk membersihkan tahi, meskipun tahi yang keluar dari mulut. 
              Din pun bekerja secepat kilat. Bukan saja karena ia malu 
dijadikan tontonan para pegunjung puskesmas, juga karena ia mulai merasa ada 
yang aneh dengan penyakitnya. Ia khawatir bakal muntah lagi jika sampai melihat 
wajah Ibu Dokter karena hanya mencium farfum dokter yang sayup-sayup keluar 
dari ruang kerjanya pun Din sudah mulai merasakan mual.
              Selepas membuang mumntah tahinya ke tong sampah, Din segera 
berlari ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Din kerap merasa perutnya tiba-tiba 
mual setiap ia melihat orang-orang berseragam coklat, hijau, coklat muda, biru 
tua, biru muda, kuning, merah… Din bahkan harus kerap menutup matanya agar ia 
tidak bisa melihat wajah orang-orang yang langsung membuat perutnya mual itu. 
              Dalam perjalanannya menuju rumah, Din  mulai tahu bahwa ia telah 
terserang penyakit yang menyerang jika ia berhubungan dengan aparatur negara. 
Satu-satunya cara menghilangkan penyakitnya ialah segera menghindari aparatur 
negara itu untuk bertemu dengannya. Din tak boleh bertemu dengan aparatur 
negara, rt sampai presiden.
              Sesampai di rumah Din segera memanggil Ponirah, bininya. 
              “Bu, gawat, Bapak terserang penyakit aneh. Penyakit tititapan 
malaikat, Bapak enggak boleh lagi berhubungan dengan para koruptor. Orang-orang 
yang makan duit negara,” Din segera mengambil kesimpulan dari penyakit yang 
dideritanya. Kesimpulan yang menurutnya tepat karena begitu tiba di rumah dan 
teve sedang mati, ia malah merasa seperti sedang berada di Kebun Raya Bogor. 
              Din tersenyum puas membayangkan ternyata ia menjadi salah satu 
manusia yang menjadi pilihan Tuhan untuk tidak bisa berhubungan dengan 
orang-orang enggak beres di negaranya. Din pun melangkah dengan riang menuju 
meja makan. Ia membuka tudung saji dan segera mencomot tempe goreng yang 
dimasak Ponirah tadi malam.
              Enggak bakal muntah,  rasanya kayak daging onta, Din membaca 
mantra. Ajaib tempe yang sudah kayak papan kerasnya itu dirasakan Din senikmat 
daging sapi goreng. Ya, mungkin daging onta memang seperti daging sapi, Din 
bersyukur.
              Setelah meminum segelas air putih hangat yang dirasakannya nikmat 
seperti soft drink, Din pun beranjak menuju kamar. 
              “Astaganaga… pantas Bune dari tadi diam saja, ternyata sudah kena 
penyakit muntah tahi juga,” Din pun mencampakan majalah yang cover depannya 
bergambar sang penguasa.
               Ya, sebelum ia muntah lagi. 
  Citeureup 2007 – Depok 2008
   
  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke