(komentar dari milis tetangga) Menayangkan/ memberitakan Soeharto pas menemui "sakaratul mautnya" sih sah-sah saja. tapi ya mbok diinget, mbah-mbah kita yang ikut PKI dulu dibunuhnya dengan rasa humor yang kampungan, kanibal. Kerisauan dicap PKI bahkan masih terasa pada anak cucunya meskipun sudah jadi ta'mir masjid. padahal, antara komunis dengan keimanan gak ada hubungannya, puollll!!!
Soeharto sih masih beruntung, sebelum mati masih sempat mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit pertamina. tidak seperti mereka yang telah menjadi 'korban'nya. jangankan dirawat di rumah sakit, mau dikubur saja harus minta persetujuan orang sekampung, gara-gara steriotipe PKI yang berimbas pada anggapan "najis" pada mayat eks PKI. Beberapa aktifis yang dianggap membangkang dan hilang sampai sekarang, tidak pernah terungkap kasusnya. Kukira, ibu-bapak, saudara-saudara, juga anak-istri aktifis-aktifis tadi sama sediihnya seperti seperti raut mbak Tutut, mbak Mamiek, om Tomy, dan anak-anaknya soeharto yang tertangkap lensa kamera di beberapa tayangan televisi/koran. Harusnya, kita juga tetap menghitung dan mengingat. Gara-gara Soeharto, orang tua kita, kita hingga cucu kita di turunan yang ke tiga belas, harus menanggung hutang ke Bank Dunia. Sekolah jadi mahal, Sakit dilarang, karena rumah sakit juga mahal. Yang lebih menyakitkan, kita menjadi punya budaya korupsi.padahal, kajian antropologi manapun tak ada yang menyebut jika budaya tadi berakar dari budaya Indonesia di belahan manapun. Yang membuat "gerah" adalah ulah dan "jilatan" elit-elit politik yang teriak-teriak agar dosa Soeharto dimaafkan padahal, dia belum menemui ajalnya. elit2 politik itu bahkan mempunyai ide gila dengan mengesampingkan / deponering kasus-kasusnya di mata hukum. Sungguh Ide jitu untuk menutupi kesalahan sendiri kalau-kalau punya kasus korupsi juga. sebab jika Soeharto di"maafkan" tanpa diadili akan menjadi preseden buruk bagi peradilan di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan, waktu di Jember Jatim ada "aksi diam / teaterikal" menolak ide gila pengesampingan kasus soeharto, hanya beberapa media saja yang menayangkan. sebelihnya, hampir semua media menayangkan perkembangan Soeharto dari detik ke detik. Dan, hampir diseluruh daerah malah ikut-ikutan nyambung berita soal Soeharto. Lewat parpol-parpol yang dulu "dekat" dengan soeharto, "Masyarakat" menggelar istighosah dan doa bersama untuk kesembuhan Soeharto. Aku sih sepakat-sepakat saja Soeharto didoakan sembuh. setidaknya berikanlah kesempatan baginya untuk menghadapi peradilan. setidaknya, biar negara ini punya jurisprudensi yang baik soal penegakan hukum. setidaknya biar rakyat yang dikerat selama 30 tahun lebih, bisa "balik modal". Yang lebih memprihatinkan lagi, beberapa kawan wartawan nasional di daerah jadi enggan liputan gara-gara fokusnya ke Soeharto semua. luh de suriyani <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: saya menyimak berita hampir di semua televisi, dan nyaris semua membuat liputan khusus soal soeharto yang manis2. gile, sudah tak terbantahkan, industri televisi memang banyak dimodali cendana. Bahkan, waktu korban HAM (Suciwati dkk) datang ke RSPP, sejumlah televisi kok kayanya melecehkan gitu. aneh banget. barangkali kita, wartawan lapangan, tidak menyadari infiltrasi ini. gayanya emang smooth salam --- bambang wisudo <bambangwisudo@ yahoo.com> wrote: > Saya juga sedih melihat sebagian besar media dan > jurnalis bersimpati pada soeharto. Saya ingat dulu, > betapa wartawan berjaya ketika menyoraki soeharto > saat dirawat di RS Pertamina. Ternyata kita mudah > lupa dan mudah berubah. Saya mengecam media dan > wartawan yang menjadi simpatisan soeharto. > Mudah-mudahan tidak ada anggota AJI yang jadi > simpatisan Soeharto. Soeharto jelas layak meninggal > di ruang tahanan saat menunggu pengadilan atas > korupsi dan pelanggaran ham selama 30 tahun > berkuasa. > > > > > adhie achmad <adhie_achmad@ yahoo.com> wrote: > pertanda Soeharto masih kaya raya untuk > menganeksasi media. hancurkan! > Satrio Arismunandar Producer "Jika Aku Menjadi" (tayang tiap Minggu, pukul 18.00 WIB) - News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com "Berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari, mati tidak diakui...." ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs [Non-text portions of this message have been removed]

