Sebujur Sajak di Peti Mati




Di batu nisan, Zen Hae meletakkan sebujur sajak. Ia tak menulis tentang 
kematian yang hening atau perkabungan yang murung. Ia justru bicara tentang 
berisik kota. Tentang aneka macam suara di jalan-jalan, di saluran-saluran 
radio dan televisi, di terminal, di rumah-rumah perempuan penggoda, di 
obrolan-obrolan kafe. Juga, di rumah-rumah kita yang penuh sumpah serapah: Hai, 
anak jadah! Sampai berjumpa lagi di neraka! (sajak "Taman Kanak-kanak").




Ya, di peti mati, penyair 37 tahun itu membaringkan sepotong sajak. Dan 
arwah-arwah bergentayangan akan merawikannya begini: la haula wa la quwwata/ 
sajak si anjing gila ("Sebujur Sajak").




Maut. Inilah tema yang menonjol dalam buku puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu 
(Akar Indonesia, Mei 2007). Imaji-imaji kota. Ini pula yang riuh muncul di 
sekujur sajaknya. Sebanyak 44 sajak yang dituangkan selama 15 tahun (1992-2006) 
pekat dengan idiom, imaji, dan ekspresi kekerasan. Khas kehidupan urban. Maut 
dan sensasi-sensasi kekerasan itu menyerbu pembaca puisinya tanpa henti. 




Pembaca, misalnya, disuguhi ungkapan seperti: "Kami menyiram kubur mereka 
dengan api, cuah!", "tidurlah, buyung setelah kuletuskan pistol ini!", "Kurindu 
taring runcing, liur asin, daging koyak.", "idih, eyang kayak robocop". 
Kekerasan dan kebisingan dalam puisi-puisinya itu terasa memantulkan pengalaman 
sang penyair yang lahir, tinggal, dan besar di Jakarta. Kota-kota di kumpulan 
puisi ini muncul sebagai kota ramai, tapi dengan mobilitas hampa.




Tema ini memang bukan hal baru dalam sejarah puisi Indonesia, tapi yang menarik 
adalah bagaimana Zen Hae tak menampilkan "alam" sebagai antipoda "kota". Ia tak 
menunjukkan citraan-citraan tentang kampung yang pastoral sebagai lawan dari 
gebalau kota. Panorama kabut yang ia saksikan terakhir kali pada 1988 di 
Kembangan, kampung Betawi tempat ia tinggal, misalnya, tak muncul sebagai 
sesuatu yang melankolik, tapi justru mematikan. Begitu pula dengan "hujan", 
"malam", "laut", "ombak", "angin". 




Alam dalam puisi Zen, kata kritikus sastra Arif B. Prasetyo, sama jahanamnya 
dengan kota. Mereka keranjingan tindak kekerasan: malam jatuh dengan ubun 
terluka, hujan menombaki senja, ombak bagai kelebat mandau. Ini kelebihan Zen. 
Ia telah keluar dari bayang-bayang tradisi puisi lirik Indonesia yang dibangun 
sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, hingga Sapardi Djoko Damono yang tak beranjak 
dari alam yang pastoral. "Ini sebuah prestasi dan kontribusi penting untuk 
sastra Indonesia," kata Arif.




Zen memang mengakui tak lagi terpesona menampilkan alam yang "indah, permai, 
damai" dalam puisi-puisinya. Alam dan kampung baginya adalah "alam dan kampung 
yang porak-poranda." "Aku lirik dalam puisi saya juga sepenuhnya tersedot oleh 
kehidupan kota," ucapnya.




Ketika mengusung tema maut pun Zen memilih menampilkan sisi lain dari kematian. 
Bila sajak Subagio Sastrowardoyo Dan Kematian Makin Akrab menyuguhkan episode 
maut sebagai sesuatu yang khidmat, tenang, mengendap-endap pelan, atau penuh 
persiapan, sebaliknya Zen tak peduli. Mati boleh datang diam-diam atau 
bergegas. Surga atau neraka bukan soal. Bagi Zen, mati, sebagaimana hidup, juga 
sebagaimana kota, penuh hiruk-pikuk. Seperti sebuah karnaval atau permainan, 
penuh warna-warni. Meriah, kadang tragis, tak jarang pula begitu jenaka.




Panorama lain dalam sajak-sajak Zen adalah menyelinapnya fiksi dalam puisi. 
Muatan-muatan kisah itu muncul dalam citra-citraan kota yang kental. Melalui 
metafora-metafora tentang pemburu paus, misalnya, Paus Merah Jambu "bertutur" 
tentang pengembaraan sebuah sajak. Kitab Pelarian "berkisah" tentang Yunus yang 
bersemayam di mulut ikan besar. Pohon-pohon Fredy "terinspirasi" dari kisah 
Fred Krueger, hantu bermuka kisut dalam film A Nightmare on Elm Street (1984) 
karya Wes Craven.




Puisi-puisi "naratif" itu tak terjebak menjadi sebuah "cerita". Ia bukan cerpen 
dalam kemasan simbolik yang pendek. Kilatan-kilatan imaji tetap tampil dominan. 
Tapi memang nalar fiksi dalam puisi Zen dibangun dengan ketat. Ia membuat riset 
yang mendalam tentang kehidupan para pemburu paus. Ia membuka seluruh kitab 
suci sebelum menuangkan kisah Yunus dalam Kitab Pelarian. 




Ini menjelaskan mengapa pemilik nama lengkap Nur Zain Hae ini begitu "irit" 
menulis puisi. Selama 15 tahun, Zen cuma punya 60 puisi. Tahun lalu, ia bahkan 
hanya menulis dua puisi. Tak seperti penyair lain yang gampang menangkap sebuah 
suasana, kata Zen, "saya perlu waktu lama untuk merekonstruksinya menjadi 
sebuah bangunan puisi yang utuh."




Paus Merah Jambu merupakan buku puisi tunggal pertama Zen. Tiga tahun lalu ia 
menerbitkan kumpulan cerpen Rumah Kawin (Kata Kita). 




Di sebujur sajak Zen Hae itu kita menemukan "alam jahanam", "suara-suara riuh 
kota", juga "fiksi dalam puisi". Kita pun menemukan "si anak jadah" yang 
menyalakan neraka untuk ibu-bapaknya.

(Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008)





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke