Mulanya adalah kematian sang kuda. Hewan berkaki empat yang bernama Badai 
Lembut itu pada 2005 sekarat: tersengal-sengal, menggelepar-gelepar, keluar 
dengking dan ringkik dari mulutnya. Hati Ugo tersayat. Sosok jantan itu 
akhirnya menyerah pada pisau-pisau, kekejaman manusia. Dari situ lahirlah pada 
2007 pameran yang membuat jagat seni rupa Indonesia terbelalak: Poem of Blood.

Ugo Untoro, seniman-perupa 37 tahun, menghadirkan horor tentang nasib kuda di 
ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta pada Maret 2007 dan Galeri Nasional Jakarta 
pada April 2007. Tak mengusung keelokan bentuk sosok kuda di atas kanvas, ia 
menghadirkan citraan kuda lewat bagian tubuh kuda setelah dibantai di rumah 
jagal. 

Poem of Blood adalah sajak tentang kuda setelah disembelih secara kejam. Di 
ruang pameran, Ugo menyajikan bagian-bagian tertentu pahanya, menjadikannya 
onggokan tubuh yang menggelembung dan digantung-gantung. 


Yang gila, pada masing-masing "tubuh" itu terlihat ada cap identitas--tanda 
yang dihasilkan oleh cap besi panas. Siapa pun penonton yang menghadiri pameran 
Ugo dapat membayangkan saat para pemilik kuda itu menyelomotkan besi panasnya 
yang berujung tipologi huruf kepada tubuh-tubuh kudanya. Kulit dan sebagian 
daging terbakar, asap mengepul, bau gosong, kemudian lengking, ringkik 
kesakitan. Sebuah penyiksaan terjadi. 


Penonton juga bisa melihat jasad kuda yang teronggok, hanya menyisakan 
bokongnya yang utuh mencuat, ditopang dua kaki kering dan kaku pada lintasan 
pacuan buatan. Sedangkan bagian lainnya hanya tersisa kulit yang layu dan 
kisut. Kepalanya yang tak lagi berisi dengan mata bolong tersuruk dengan 
moncong menghunjam gundukan pasir yang penuh jejak kaki kuda. Penonton akan 
merasakan campur-baur rasa ngeri, jijik, dan kasihan.


Secara keseluruhan, pengunjung lewat pameran Ugo itu bisa merefleksikan betapa 
kuda menjadi korban kehadiran mesin transportasi modern. Sejak munculnya mobil, 
kuda tersingkir dari jalanan. Termasuk menggunakan boneka dan diorama dalam 
karyanya, Ugo menggambarkan kenyataan ini--melalui seonggok sosok kuda yang 
sudah tak jelas lagi bentuknya, terkapar di atas aspal di tengah jalan. 


Bagi Ugo, kuda adalah penemuan yang sangat canggih dalam peradaban. Dan, 
"Kecantikan, kegagahan, kecepatan, kesetiaan, dan kepekaan yang semuanya 
mewakili nafsu manusia," kata lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Seni 
Indonesia, Yogyakarta, ini. Dari hewan liar, kuda dididik untuk tunduk pada 
kebutuhan manusia: dari alat tunggang tradisional, penghela alat pertanian, 
kereta angkut, pos, hingga alat perang. "Dengan kuda, kekejaman manusia lebih 
cepat dan efektif," ujarnya. 


Ironis, keperkasaan kuda itu terbungkus oleh kelicikan dan nafsu membunuh 
manusia, dan manakala makhluk ini tak lagi sanggup membawakan angkara murka 
itu, ia pun dicampakkan. Ada karya Ugo tentang kuda yang tidak berdaya: 
kulitnya keriput, keempat kaki bertopang pada as roda dari kayu. "Kuda menjadi 
saksi bisu kekejaman manusia," katanya. 


Dan terminal dari semua kekejaman ini adalah rumah jagal. Ugo memanfaatkannya. 
Dari rumah jagal di Kecamatan Imogiri, Yogyakarta, misalnya, ia memperoleh 22 
kulit kuda utuh dari ujung kaki hingga moncongnya seharga Rp 200 ribu per ekor. 
Tukang sate di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menghidangkannya menjadi sate 
daging kuda, tapi Ugo memanfaatkannya untuk karya seni rupa. 


Bagian lain yang menarik dari karya Ugo adalah ketika ia menampilkan sejumput 
bulu cokelat tua yang terbenam dalam kekukuhan lima lapis beton masif. Ugo 
bermain-main dengan persepsi visual, seolah di dalam beton itu terkubur tubuh 
kuda. 


Inilah pertama kalinya pameran di Indonesia yang sebagian besar mediumnya 
menggunakan bagian tubuh makhluk hidup dengan efek citraan yang nyaris 
mendekati suasana yang diinginkan kreatornya. Suasana horor. 


(Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008)



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke