Tiap-tiap tahun Tempo menggodok sejumlah nama yang diyakini menyumbangkan
sesuatu bagi dunia seni dan arsitektur. Tahun ini, tradisi ini menelurkan
nama-nama dengan gagasan segar, sanggup menembus kejumudan-kelatahan berkreasi,
dan orisinal. Khusus untuk arsitektur, kami tambahkan kriteria baru: kesadaran
lingkungan.
Dari dapur seni majalah ini yang sederhana dan memiliki banyak keterbatasan,
akhirnya muncul sosok-sosok ini: Ugo Untoro, Deddy Mizwar, Zen Hae, Tri
Rismaharini, Amran Nur, Romo Johannes M. Hammerle, Laretna, dan kelompok Pusaka
Yogya Bangkit.
(Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 - 6 Januari 2008)
* * *
Tentang Kuda, Naga, dan Paus
Kebon Pala I, Tanah Abang. Hujan tumpah pada pertengahan Desember lalu. Kisah
1.001 Malam mengalir di rumah almarhum Teguh Karya. Aktor-sutradara Slamet
Rahardjo dan seorang sutradara Australia, Robert Draffin, mempresentasikan
hasil latihan mereka dengan cara menyajikan sebuah cerita dari Bagdad bersama
mahasiswa-mahasiswi Institut Kesenian Jakarta. Malam itu, suasana rumah Teguh
Karya bak sebuah pertunjukan tradisi di rumah-rumah Bali. Antara penonton dan
pemain saling berdekatan, akrab dan intim.
Tatkala Putri Shahrazad (diperankan penari Ratna Listi) tenggelam dalam
kemurungan dan dongengnya menjadi gelap, Slamet Rahardjo tiba-tiba muncul
menjadi jin. Dengan dada yang telanjang, perut buncit, rambut awut-awutan dan
tangan yang bergerak seperti penari legong, Slamet membuat suasana terasa hidup
dan kuat. Diiringi perkusi yang dimainkan Inisisri dengan bagus, malam itu,
yang sebetulnya merupakan bagian dari lokakarya, tetap terasa sebagai sebuah
proses pencarian yang tak pernah padam.
Gairah ingin melahirkan karya yang "lain" adalah sebuah prasyarat utama menjaga
elan kesenian. Hal-hal demikian yang menjadikan majalah ini setiap tahun tetap
berusaha menyediakan halaman untuk mencatat karya-karya yang dianggap terbaik.
Tiap tahun kami senantiasa menantikan kejutan-kejutan baru, gagasan-gagasan
yang bernas di lapangan kesenian.
Yang menjadi patokan utama adalah kesegaran sekaligus kematangan dalam mengolah
karya. Seperti edisi-edisi tahun sebelumnya, untuk memilih karya-karya tahun
ini kami banyak meminta pertimbangan pengamat seni dan sastra, misalnya
kritikus seni rupa Bambang Bujono yang sudah lama kami kenal karena dia juga
mantan wartawan senior Tempo, dosen filsafat Universitas Indonesia Doni Gahral
Ardian, kritikus sastra Arief Bagus Prasetyo.
Selain itu, kami sendiri di redaksi, yang biasa sehari-hari bertugas melakukan
peliputan dan editing seni dan film, antara lain Seno Joko Suyono, Yosrizal
Suriaji, Leila S. Chudori, R. Fadjri, Idrus F. Shahab, Akmal Nasery Basral juga
menyelenggarakan diskusi internal menyeleksi sejumlah tokoh di bidangnya
masing-masing. Pada akhir November kami sudah memiliki nama dan karya-karya
yang kami anggap layak yang kemudian kami perdebatkan dengan para tamu kami
itu.
Setelah serangkaian diskusi yang panas, kami akhirnya membuat pilihan. Untuk
seni rupa, kami memilih pameran tunggal Poem of Blood karya Ugo Untoro yang
pernah diselenggarakan di Galeri Nasional sebagai karya terbaik seni rupa 2007.
Dibanding bidang seni lain, seni rupa bisa disebut sebagai bidang yang paling
menyerap isu-isu global terbaru dan kesenian yang paling luwes menggunakan
teknologi media yang tercanggih.
Seni rupa adalah bidang yang juga menjadi bagian utama dari pasar. Balai-balai
lelang di Hong Kong, Singapura, Jakarta menjadi forum yang mengejutkan bagi
karya perupa muda Indonesia. Tiba-tiba, sebuah karya, tanpa diduga, bisa dibeli
dengan harga sedemikian tinggi. Itu memperlihatkan pasar seni rupa kita tak
bisa diprediksi. Turun-naiknya harga penuh anomali. Kami menganggap di tengah
suasana mutakhir yang menempatkan karya-karya seni rupa sebagai obyek dan
permainan investasi harus ada sebuah pameran alternatif; pameran yang kokoh dan
tidak kompromistis sama sekali.
Karya Poem of Blood adalah karya yang sangat provokatif. Ugo menggunakan medium
yang belum pernah digunakan siapa pun di negeri ini: bangkai kuda.
Potongan-potongan bagian tubuh kuda ini menjadi obyek dan materi pamerannya.
Dan siapa pun yang menyaksikan pameran ini akan merasakan bahwa Ugo bukan orang
yang asing dengan kuda. Dari kecil ia memang penyayang kuda. Kini pun di
rumahnya di kawasan Dusun Kersan Tirtonimolo, Kasihan, Bantul, ia memiliki tiga
ekor kuda.
Orang bisa mengatakan pameran itu sebuah pameran yang sadistik, sebuah fragmen
pembantaian dan penjagalan. Tapi pameran ini mengingatkan kita akan sebuah
cerita bagaimana suatu hari saat menyaksikan seorang sais kereta berkali-kali
mencambuk kudanya yang tak mau berjalan. Dari pinggir jalan Nietzsche tiba-tiba
berlari, memeluk leher kuda itu erat-erat seraya berlinang air mata,
merenungkan betapa kejamnya manusia. "Mungkin ini pameran seni rupa terbaik
selama 10 tahun terakhir," kata Bambang Bujono.
Dunia film adalah dunia yang masih saja penuh dengan perseteruan dan
perkelahian. Di antara riuh rendah para sineas dan birokrat perfilman, tahun
ini produksi film Indonesia menunjukkan jumlah yang cukup menggembirakan.
Tercatat lebih dari 50 buah film Indonesia yang beredar. Jadi, bisa dikatakan
setiap pekan ada satu film Indonesia yang baru. Pemain seperti Lukman Sardi
atau Shanty kerap memegang peran penting dalam dua atau tiga film berbeda.
Meski demikian produktifnya dunia sinema kita, masih terlihat betapa minimnya
tema yang disodorkan. Tahun 2007 bisa dikatakan sebagai tahun film horor.
Di tengah film-film horor yang menjadi tema terlaris untuk tahun ini, masih ada
produser dan sineas yang menghasilkan film-film serius yang tetap menghibur
seperti Nagabonar Jadi 2 (Deddy Mizwar), 3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza),
The Photograph (Nan T. Achnas), Get Married karya Hanung Bramantyo, Maaf, Saya
Menghamili Istri Anda (Monty Tiwa), dan Kala karya Joko Anwar. Keenam film
inilah yang kami pilih sebagai film-film yang layak tonton, layak Tempo, dan
layak dibicarakan dan bahkan dimasukkan sebagai nominasi film terbaik
seandainya Festival Film Indonesia tahun ini diikuti oleh semua produser dan
sineas (maksudnya jika tak ada heboh boikot dan lain-lain itu).
Nyatanya, FFI sudah sulit untuk dijadikan barometer film kita karena tidak
semua sineas berpartisipasi. Maka, Tempo meneruskan tradisi tahunan kami untuk
memilih Film Terbaik pilihan kami. Hal-hal yang menjadi parameter penilaian
kami adalah penyutradaraan, sinematografi, seni peran, dan skenario. Setelah
menyaksikan semua film-film itu, kami menganggap film Nagabonar Jadi 2 yang
mendapat nilai tertinggi. Kami menganggap meski sosok Nagabonar versi Musfar
Yasin (penulis skenario) dan Deddy Mizwar masa kini sudah berbeda dengan konsep
Nagabonar yang lahir dari Asrul Sani sebagai kreatornya, misi utama Asrul tetap
terjaga, yaitu satire terhadap realitas sosial.
Kekuatan Deddy Mizwar sebagai aktor dan sutradara dalam film ini sulit untuk
tak membuat film ini sebagai yang terbaik tahun ini. Film ini memiliki skenario
dengan plot cerita yang jelas, lancar, bermisi, dan jenaka, dan dimainkan oleh
aktor yang menampilkan seni peran yang terbaik.
Untuk sastra, buku kumpulan puisi tahun ini, Paus Merah Jambu karya Zen Hae,
kami tahbiskan sebagai karya sastra terbaik 2007. Pesaing terdekat buku ini
adalah kumpulan puisi Mardi Luhung berjudul Ciuman Bibirku yang Kelabu dan
Galigi kumpulan cerpen karya Gunawan Maryanto.
Paus Merah Jambu karya Zen kami anggap menarik karena beberapa hal. Mantan
wartawan majalah Tiras ini mampu menyuguhkan citra alam dengan kebisingan kaum
urban. "Citra alamnya tidak lagi romantik," kata Arief Bagus Prasetyo. "Itu
sebuah pencapaian." Zen bisa keluar dari tradisi imajinasi warisan penyair
senior yang selalu menampilkan alam sebagai sesuatu yang romantis, sendu, dan
syahdu. Imajinasi Zen tentang ikan-ikan, sungai, jukung, boneka, selalu rimbun
dengan citra. Aku percaya orang kidal itu jelmaan arwah raja ikan /datang dari
kampung orang berlidah pedang/ ia akan mabuk: tangannya kejang, ekornya
bergetar, perpusaran.
"Selain itu, Zen lebih dari pada itu. Ia sesungguhnya juga mampu menampilkan
maut tak seperti pada citra umum ," demikian Arief Bagus Prasetyo menambahkan.
Kami menganggap, tahun ini, seni pertunjukan (tari-teater) dan musik, belum ada
yang benar-benar menyodok . Semakin banyak penari kita yang terlibat dalam
pertunjukan besar bertingkat internasional, namun setiba di Tanah Air belum
melahirkan karya-karya yang betul-betul kuat. Beberapa dari dunia tari yang
tercatat cukup menonjol adalah Hartati atau Fitri Setyaningsih. Sementara dalam
teater, pertunjukan Teater Kosong: 1 Hari 11 Mata di Kepala pimpinan Radhar
Panca Dahana cukup mencuri perhatian. Beberapa adegan pertunjukan ini
menampilkan benda, gelas, meja yang bergerak sendiri mengikuti emosi aktor.
Sayang, pertunjukan ini belum optimal; sementara pertunjukan 1.001 Malam di
atas juga masih sebuah lokakarya. Semoga, bila drama ini terealisasi tahun
depan, pertunjukan itu akan menjadi pertunjukan yang tangguh.
Ketika kami menurunkan edisi ini, pesta besar Festival Teater Jakarta masih
berlangsung. Semoga ada dari penampil-penampil yang mampu menyuguhkan gebrakan,
sehingga akan menumbuhkan semangat bagi pelaksanaan festival tahun depan yang
punya kemungkinan akan diperluas menjadi festival teater nasional. Di dunia
film, kami juga menyampaikan doa (yang belum juga dikabulkan). Mudah-mudahan
film-film tahun depan jauh lebih bervariasi hingga euforia film horor sudah
memiliki "kawan" dari genre lain, misalnya drama, thriller, komedi, atau bahkan
film sejarah atau politik.
Demikianlah pembaca, tiga yang terpilih dari kami tahun ini adalah mereka yang
terbaik: kuda, naga, dan paus..
Pengirim: Akmal N. Basral
[Non-text portions of this message have been removed]