Ketika Dewa-dewa turun ke Bumi Kehadiran benda-benda terbang luar Bumi beserta makhluk yang dibawanya, dipercaya oleh sebagian kalangan telah berkunjung ke Bumi sejak masa prasejarah. Hal ini terlihat pada sejumlah lukisan gua yang menunjukkan bentuk-bentuk yang oleh manusia abad ini disebut sebagai UFO. Tidak hanya itu, sebagian kalangan pun mempercayai kehadiran dan alien yang dibawanya tersebut turut memberi andil dalam proses evolusi kehidupan yang berlangsung di planet ini.
Menurut pakar sejarah seni, Daniela Giordano, dalam publikasinya yang berjudul "Do UFO's Exist in the History of Arts?" banyak dijumpai lukisan dari abad pertengahan yang menggambarkan objek-objek angkasa tak lazim yang sulit untuk diinterpretasi. Dalam lukisan-lukisan tersebut ditampilkan bentuk-bentuk menyerupai pesawat udara dan kubah terbang yang justru baru berabad-abad kemudian banyak dilaporkan oleh para saksi mata melalui sejumlah penampakan yang terjadi. Dalam kurun waktu yang lebih tua, di gua yang sekarang menjadi wilayah Lascaux di Prancis Selatan juga dapat dijumpai lukisan purba berusia sekitar 13.000 tahun SM yang mengesankan kehidupan "benda terbang" di antara mastodon. Pemerhati seni lukis paleolitik percaya bahwa para pemburu purba tersebut melukiskan hewan-hewan buruannya untuk menambah kekuatan magis guna keperluan perburuan mereka, meski makna simboliknya tetap menjadi bahan perdebatan. Sementara itu, di Abydos, kota kuno di Mesir yang menjadi "kota pemakaman" bagi sebagian besar raja-raja Mesir dari dinasti pertama dan kedua (2920-2649 SM), terdapat kuil besar Abydos yang dibangun pada masa kepemimpinan Seti I (1306-1290 SM). Di dalam kuil dijumpai hieroglif yang menampilkan bentuk helikopter, kapal selam, dan mesin-mesin terbang lainnya yang oleh kita, manusia abad teknologi, diklaim sebagai produk modern. Keyakinan sebagian kalangan bahwa planet ini telah disinggahi oleh makhluk cerdas luar Bumi (extraterrestrial intelligent being) sejak zaman dulu bercermin pada fakta-fakta berupa kehadiran sejumlah konstruksi raksasa yang memerlukan pengetahuan dan tekhnologi yang dipandang sebagian orang mendahului zamannya, seperti Stonehenge di dataran Salisbury Inggris barat daya, susunan arca di Pulau Paskah di selatan Samudra Pasifik (berukuran tinggi 3-12 m dengan bobot tidak kurang dari 12,5 ton dan jumlah mencapai lebih dari 880 buah), piramida di Giza Mesir yang formasinya diyakini sebagai proyeksi tiga buah bintang (Alnitak, Alnilam, Mintaka) di rasi Orion (Pemburu), maupun Machu Picchu di Peru dan Baalbek di Lebanon timur. Gagasan bahwa makhluk cerdas luar Bumi telah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan ras manusia melalui serangkaian kunjungannya jauh pada masa lalu, yang dikenal sebagai Paleocontact Theory, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1919 dengan pendukung utamanya kala itu Charles Fort dan Erick von Daniken. Hingga kini teori di atas terus disebarkan melalui publikasi buku-buku hasil karya para penulis seperti Robert K. G. Temple dan Zecharia Sitchin. Menurut von Daniken, hadirnya ilustrasi kendaraan angkasa dan makhluk berpakaian ala astronot masa kini dalam seni lukis purba dapat menjadi bukti kehadiran mereka sekaligus kontak yang telah dilakukan dengan penduduk Bumi. Masih menurut von Daniken, bukti adanya kesamaan tema dalam sejarah dan budaya meskipun secara geografis terpisah jauh juga dapat menjadi petunjuk tentang asal muasal yang sama. Argumen von Daniken mungkin ada benarnya. Bila kita perhatikan, candi Sukuh yang berada di lereng gunung Lawu, Jateng, memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya menyerupai piramida bangsa Maya di Amerika Tengah. Apakah ada hubungan kebudayaan di antara kedua bangsa ini? Dari manakah datangnya inspirasi pembuatan candi tersebut? Bagaimanapun, sejak dulu gunung Lawu memang dikenal memiliki banyak misteri dankeanehan sehingga dikeramatkan oleh penduduk yang berdiam di sekitarnya. Candi Hindu yang dibangun pada masa antara 1416-1456, ketika Majapahit berada di bawah pemerintahan Suhita (putri dari Wikramawardhana) yang menganut aliran Hindu Tantrayana ini, memiliki sejumlah arca berupa makhluk bersayap. Dua arca dengan ukuran lebih besar daripada manusia namun dengan bagian kepala yang telah hilang, memiliki detil relief yang berbeda meski sama-sama berbadan manusia dan dalam keadaan mengembangkan sayap. Satu arca diketahui memiliki kaki menyerupai bentuk kaki unggas lengkap dengan tajinya, sementara arca lainnya dengan kaki manusia dan diilustrasikan sedang memanggul buah-buahan. Arca manusia bersayap yang sedang memanggul buah-buahan tersebut sepintas mirip dengan relief yang dijumpai di Mesopotamia kuno meski dengan penggayaan (stilasi) yang berbeda, yaitu manusia berkepala burung dan bersayap yang sedang memetik buah-buahan dari pohon kehidupan yang membuat para dewa dapat hidup abadi. Legenda warga di sekitar lereng gunung Lawu menyebut candi Sukuh sebagai tempat untuk berjumpa dengan roh orang yang sudah meninggal. Relif di Mesopotamia kuno tersebut sepintas juga mirip dengan mitos Garudeya (Garuda) yang mengambil air kehidupan dan harus bertarung dengan makhluk serupa naga. Lagi-lagi ini pun menyerupai legenda Timur Tengah yang menyebutkan adanya makhluk bersayap yang bertempur dengan seekor naga. Apakah semua kemiripan yang terjadi hanya kebetulan belaka? Menariknya, ilustrasi tentang mesin-mesin terbang juga dapat dijumpai dalam teks-teks kuno, seperti dalam epik dari India dengan sebutan "vimana". Dalam kitab Mahabharata disebutkan bahwa Bhima terbang bersama vimananya yang setengah Matahari dengan suara menggelegar laksana guntur. Lebih jauh, tulis von Daniken dalam buku larisnya According to the Evidence, dalam kitab Mahabharata pula dapat ditemukan informasi tentang senjata mematikan yang dimiliki oleh para dewa. Disebutkan bahwa senjata tersebut memancarkan cahaya dan membuat tubuh-tubuh menjadi tak dapat dikenali lagi, sementara yang lolos dari maut akan kehilangan rambut dan kuku-kuku mereka. Tembikar pun pecah tanpa sebab dan burung-burung menjadi pucat pasi. Bahkan dalam waktu singkat makanan menjadi beracun. Keadaan yang semula terang menjadi gelap gulita dan yang tersisa hanyalah abu. Demikian gambaran kedahsyatan senjata para dewa. Apakah ini ilustrasi untuk senjata pemusnah massal semacam senjata nuklir yang sekarang kita kenal? Sebagian orang bahkan percaya bahwa kisah nabi Yehezkiel di dalam Alkitab merupakan ilustrasi peristiwa yang berkaitan dengan "penerbangan" yang dialami nabi bangsa Israel tersebut ke suatu tempat yang diduga kuat sebagai wilayah Kashmir saat ini. Beranjak ke daratan Amerika, tepatnya di sebuah gurun di dataran tinggi Peru, dapat dijumpai lukisan-lukisan di tanah yang dibuat oleh indian Nazca Lines tersebut digoreskan di atas tanah yang berada di bawah lapisan batuan gurun dan mengambil bentuk hasil stilasi yang menggambarkan hewan, manusia, dan anggota tubuh tertentu. Menariknya, meski telah berusia lebih dari ratusan tahun, garis-garis tersebut tetap bertahan akibat iklim yang sedemikian rupa sehingga meniadakan erosi. Wajarlah bila para pakar arkeologi dan antropologi memberi acungan jempol kepada para "pelukis alam" tersebut berkenaan dengan pemilihan lokasi. Hal menarik lainnya adalah untuk dapat mengesani bentuk- bentuk yang tergambar di permukaan Bumi tersebut, pengamat harus berada di ketinggian yang cukup mengingat gambar-gambar yang ada memiliki ukuran raksasa. Menggores batu-batu dengan akurasi yang menakjubkan untuk menggambarkan bentuk-bentuk berukuran raksasa, yang para pemahatnya belum tentu dapat menikmati bentuk utuh karya mereka sendiri, telah menarik perhatian para ahli dan menjadi salah satu misteri yang belum terpecahkan. Wajar bila secuil misteri yang telah disampaikan di atas mengusik sisi kemanusiaan kita karena berkaitan dengan silsilah kita sendiri sebagai manusia modern (homo sapiens) yang baru muncul untuk pertama kali di muka Bumi 130.000 tahun yang lalu. Dalam kerangka ilmiah jawaban atas suatu pertanyaan tidak dapat hanya didasarkan pada dugaan-dugaan semata, walaupun pada awalnya kita berhak untuk mengajukan usulan sebagai pijakan untuk membantu melangkah lebih jauh. Meski kadang kala suatu fakta yang hadir di hadapan kita dapat ditafsirkan dengan banyak cara, pada akhirnya penjelasan yang berlaku umum, sederhana, dan tidak bertentangan dengan fakta-fakta lain yang ada, itulah yang akan dipilih sebagai jawaban. Walau klaim Paleocontact Theory belum tentu benar adanya, kita tetap harus bersikap terbuka dengan segala macam kemungkinan solusi. Bagaimana pun, sejarah masa lalu manusia sendiri memang selalu menyimpan banyak misteri.*** Dading H. Nugroho, M. Si. (Bergiat dalam popularisasi sains pada Najmascience [EMAIL PROTECTED]) Pikiran Rakyat - 3 Januari 2008 mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

