HARIAN KOMENTAR
14 Januari 2008
Begitu mendengar kondisi mantan Presiden Soeharto sudah parah, para rohania-wan
berdatangan ke Cendana untuk mendoakan mantan penguasa Orde Baru tersebut.
Tidak hanya para kyai, para pendeta pun sengaja datang ke kediaman Soeharto itu
untuk berdoa.
Namun sayang, keinginan itu tak dapat dilakukan. Rombongan 5 pendeta dari
Gereja Rehoboth Paracletos itu, ditolak oleh pihak keamanan yang menjaga rumah
Soeharto. Rombongan yang dipimpin oleh Pendeta Johannes Feri itu tiba di Jalan
Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (13/01) pukul 20.50 WIB.
Setelah minta izin petugas, ternyata keinginan mereka ditolak. "Kami ditolak
untuk berdoa di dalam rumah. Pihak keamanan membatasi pengunjung yang datang,"
kata Johanes kepada wartawan. Johanes pun mengaku kecewa dengan penolakan itu.
Akhirnya, Johanes dan rombongan meninggalkan Jalan Cendana.
PELUKIS
Sementara itu, ada cerita menarik lainnya pasca kritisnya Soeharto. Seorang
pelukis dari Semarang, Jawa Tengah, dilaporkan mendatangi kediaman Pak Harto.
Ia mengaku datang untuk mengikhlas-kan lukisan Bu Tien yang digarapnya 12 tahun
silam.
Menurut Adi Krisdianto, si pelukis itu, lukisan yang dibuat atas keinginannya
itu belum dilunasi. Ketika meninggalkan kediaman Pak Harto di Jalan Cendana,
Jakarta, Minggu (13/01), ia menceritakan asal usul perkaranya. Pada 1996, ia
mengaku membuat lukisan berjudul "Hajjah Siti Hartinah Soeharto". Sudah bisa
ditebak, yang dilukis tentulah mendiang istri mantan Presiden Soeharto, Ibu
Tien.
Ia melukisnya pada hari yang sama Ibu Tien meninggal hingga 100 hari
setelahnya. Namun sayang, ketika rampung, lukisan 'diambil paksa' oleh seorang
pejabat yang menurut Adi setingkat menteri. Adi hanya tahu lukisannya diambil
untuk Pak Harto.
Apalagi, lukisan itu ternyata belum dibayar. Namun Adi menolak untuk
memberitahu berapa nominal harga lukisan tersebut. "Wah, mahal pokoknya,"
tandasnya di depan kediaman Pak Harto. Meski saat itu tak ikhlas lukisannya
diambil, ia tak bisa berbuat apa-apa. Hingga empat tahun silam, keluarga
Soeharto meminta Adi mengikhlaskan lukisan tersebut, tapi Adi menolak.
Baru sekarang, setelah mengetahui kondisi Pak Harto yang sangat kritis, ia pun
sanggup merelakannya. Kemarin, dia datang untuk bertemu Maliki, Sekretaris Pak
Harto. Tapi sayang, Maliki sedang tidak ada. Ia pun hanya menitip pesan pada
petugas. "Sekarang saya menyampaikan kalau saya mengikhlaskan lukisan itu,"
katanya. Lukisan berukuran 1,2 x 1,5 meter itu kini dipajang di MuSeum Purna
Bakti Pertiwi, TMII.(dtc/z
[Non-text portions of this message have been removed]