Kronik Dokumentasi Wida:
TAHUN INI IA 102
Ada detik atau saat di mana kita sangat tak tertahan ingin menulis. Perasaan
dan pikiran kita penuh warna pada detik atau saat itu . Saat itu bisa muncul
setelah kita mendengar sebuah musik, melihat suatu keadaan, membaca sebuah kata
dan pikiran yang sangat inspiratif. Momen inspiratif begini oleh alm. Subagio
Sastrowardojo dinamakan "bayangan batin" [lihat:Subagio Sastrowardojo, in
"Keroncong Motinggo", Pustaka Jaya, Jakarta, 1975, hlm 105]. "Bayangan batin"
atau momen inspiratif ini akan segera hilang entah ke mana jika tak segera
dipenuhi. Kayak orang ngambeg. Desakannya kayak orang kebeled.
Hari ini ketika memandang almanak di dinding, pandangku melekat pada angka
tahun 2008. Aku semakin tua saja. Rambutku pun sudah putih tiga perempat.
Anak-anak yang dahulu kukenal masih bayi, sekarang sudah pada bekerja dan
seperti enggang mengepakkan sayap mengembarai hidup sendiri. Entah kenapa,
tiba-tiba aku teringat akan seorang pelukis yang sejak usia remaja sudah berada
di Paris. Sebelum berangkat dari Paris, aku menjumpainya bersama Mbak Yuli
Mumpuni, Atase Pers KBRI Paris pada masa Dubes Adian Silalahi. Mbak Yuli
[kabarnya sekarang sudah menjadi Dubes RI di Aljazair] . Mbak Yuli mendesakku
ikut dia untuk mengunjungi Pelukis Salim, demikian nama pelukis itu, di
rumahnya di kartir elite di pinggiran Paris.
Terakhir kali aku bertemu Pak Salim , demikian aku memanggil beliau, ketika
beliau menyelenggarakan pameran tunggal di Kotapraja Paris VI. Pameran ini
dibuka oleh Julia Rustam, sekarang Dubes RI di Swiss. [Julia Rustam adalah
tokoh membanggakan sebagai perempuan Indonesia. Penuh kemampuan dan percaya
diri. Ketika membuka Pameran Salim, ia mengucapkan pidato dalam bahasa Perancis
yang lancar. Menyaksikannya, aku berkata pada diri sendiri : Lihat, Kusni,
sebenarnya bangsamu bukanlah bangsa "tempe", bukan bangsa koeli tapi bangsa
potensial!].
Di jumpa ini, aku melihat ia sudah agak bongkok digerogoti usia yang waktu
itu mencapai 99 tahun. Tangannya memegang sebuah tongkat untuk membantunya
berjalan. Aku hanya meliriknya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Juga
tak berniat memapahnya. Sebab aku ingat benar, saat aku, Santento Yuliman alm,
Buyung Tanisan dari KBRI sering datang ke rumahnya, ia ingatkan kami, agar
jangan sekali-kali memperlakukan dirinya dengan rasa kasihan. "Aku tak mau
dikasihani. Mengasihaniku sama dengan menghinaku", ujarnya.
Aku yang pernah dia panggil sebagai "anak emas", pada waktu itu menjawab:
"Siapa yang mengasihani Bapak? Kami menyayangi Bapak. Kasihan dan sayang itu
berbeda". Ia memandangku sejenak dalam diam, lalu ketawa gembira. "Kau memang
anak emasku", ujarnya menyambung ketawa girang di bawah kepakan dan suara
kawanan burung piaraannya dan yang leluasa terbang di seluruh ruang. Iya, dia
memelihara burung-burung di apartemennya dan burung-burung itu dibiarkan
leluasa. Barangkali melalui burung ini , ia ingin memperlihatkan kedekatan dan
keterikatannya pada alam sebagaimana ia melukis katedral sebagai hutan rimbun.
Dilihat dari konteks konteks sekarang, di mana terjadi pemanasan global bumi
hingga melelehkan es di kutub utara, mencairkan sungai-sungai rumah kediaman
beruang putih kutub, aku menarik lukisan katedral Pak Salim dan burung-burung
di apartemennya, sebagai pandangan lingkungan menjangkau jauh dari seorang
seniman. Dugaan begini kubangun karena aku tahu persis bahwa Pak
Salim adalah seorang pelukis berkesadaran politik, tahu politik, belajar
filsafat dan ilmu-imu sosial lainnya. Ia adalah sahabat dekat para pemimpin
nasional pada zaman Soekarno, termasuk Soekarno sendiri, di samping Sutan
Sjahrir, Soebandrio, dan lain-lain... Sekali pun ia berpikir dengan bahasa
Perancis, tapi hatinya masih seorang Indonesia, demikian ia nyatakan di depan
publik pada pamerannya di Kotapraja Paris VI beberapa tahun lalu. Salim adalah
seorang seniman berwawasan sehingga bukan kemustahilan jika ia berhasil meraih
berbagai hadiah internasional untuk karya-karya lukisnya. Mengapa tidak ,
seandainya Indonesia membangun Museum Salim di Indonesia misalnya. Ia tokoh
seniman lukis yang langka. Unik bahkan! Perjalanannya sebagai pelukis adalah
kisah seorang anak manusia panarung yang memandang hidup dan pencarian sebagai
"perjalanan tak punya sampai". Ia juga merupakan salah satu saksi perjuangan
menegakkan dan membela Republik Indonesia. Ia hidup dari melukis.
Kukatakan hidup karena ketika menjawab Presiden Soekarno yang memeluknya di
dekat lapangan Concorde, berkata: "Aku di Paris bukan untuk mati, tapi untuk
hidup!". Waktu itu, menurut Salim, begitu melihatnya Presiden Soekarno yang
sedang melakukan kunjungan resmi, tanpa menghiraukan protokol, mengejar dan
memeluknya serta memintanya pulang . Padahal Salim dan Soekarno tidak selalu
sejalan dalam pemikiran. Adegan yang sering ia tutur ulang. Kau lihat Rara,
betapa seorang seniman bisa berbicara dengan seorang politisi dengan bobot
bicara yang padan. Apa artinya ini? Apakah sosok Salim bukannya mengatakan
bagaimana jalan tempuhan seorang seniman dan bagaimana menjadi seniman guna
menjawab status kesenimanan yang ia pilih? Seniman adalah sebuah predikat sarat
makna dan tanggungjawab manusiawi. Seniman dan menjadi seniman bukanlah iklan
dan narsistik yang oleh anak perempuanku disebut sebagai "cara ngibul dan
membujuk untuk meraup duit kita, karena jauh dari sesungguhnya".
Selain alasan emosional, barangkali arti sejarah Pelukis Salim inilah yang
melahirkan "bayangan batin" atau desakan inspiratif, muncul di diriku ketika
melihat angka tahun 2008. Tahun ini Pelukis Salim, saksi sejarah, seniman lukis
yang berwawasan manusiawi dan bebas serta setia pada wacananya, berusia 102
tahun.
"Bayangan batin" ini muncul di diriku oleh adanya hormat dan kerinduan khusus
pada beliau. Hormat dan kerinduan khusus ini mengajakku membaca ulang puisi
Chairil Anwar "Cintaku Jauh Di Pulau", yang kurasakan gambaran dari cinta dan
mimpi Salim juga:
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tiak 'kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan selalu melaju
Ajal bertakhta , sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja".
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yangh bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri
[Chairil Anwar, "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jakarta, 1993, hlm. 44].
"Gadis manis" dan "si pacar" barangkali hanyalah metafora bagi Indonesia dan
nilai-nilai manusiawi yang senantiasa ingin "dipeluk" dan diberikan "ole-ole"
indah kemilau oleh seorang seniman. Malangnya seniman dikutuk menempuh
"perjalanan yang tak punya sampai" . Mimpi dan cinta bagai absurditas Sysiphus
memburu puncak. Absurditas tapi juga keperkasaan anak manusia yang
"dikutuk-sumpahi Eros" .***
Paris, Musim Dingin 2008.
------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Kopersi Restoran Indonesia, Paris.
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
[Non-text portions of this message have been removed]