Boleh nimbrung niyeee?
   
  "Sejati" dalam hal ini, kalau saya lho, saya artikan seperti dalam bahasa 
Inggres: "real", dan tentu saja ini menempel pada individu, bukan organisasi. 
Lalu "pemimpin",  saya sandarkan dalam bahasa Inggres lagi: leader", 
kepemimpinan: "leadership".
   
  Menurut ilmu managament, pemimpin yang real atau ideal, adalah yang memenuhi 
persyaratan ini:
   
  + mengetahui arah yang dituju, target yang ingin dicapai
  + menguasai piranti alias tehchology pencapaian tujuan itu, kalau tidak, tahu 
pasti, dimana technology itu bisa diakses
  + mampu men-sosialisasikan tujuan/target pada kelompok yang dipimpinnya
  + mampu meng-ada-kan (providing) semua sarana, piranti yang dibutuhkan 
kelompok
  + mampu meng-evaluasai proses pencapaian target (strength-weakness anylisis)
  + memiliki kharisma yang menjadi kekuatan agar didukung (bukan dtakuti, 
tetapi disegani), melalui contoh atau tauladan.
   
  Apakah real leader sering senyum atau tidak, entahlah, yang utama, dia mampu 
memancarkan optimisme pada kelompok yang dipimpinnya.
   
  Untuk men-seleksi bakat bakat leadership, di banyak perusahaan besar 
dilakukan penilaian di assessment centre, dimana selain diberikan masukan, para 
calon manager (leader) juga dimonitor ketat.
   
  Dalam falsafah Jawa. gambaran seorang pemimpin adalah:
   
  pertama, ing ngarso sung tulodo, yaitu tiap pemimpin itu harus selalu menjadi 
contoh/teladan dalam setiap sepak terjang, kiprah dan langkah-langkah dalam 
kehidupannya. 
  Kedua, ing madyo mangun karso, yaitu pemimpin harus ada di tengah rakyatnya 
untuk memberikan semangat. 
  Ketiga, tut wuri handayani, yaitu seorang pemimpin harus selalu memberikan 
motivasi dan dorongan dari belakang.
   
  Mungkin, pak HM Suharto, tidak memenuhi kriterium pertama,selalu menjadi 
contoh/teladan dalam setiap sepak terjang, kiprah dan langkah-langkah dalam 
kehidupannya. Beliau lebih perfer di-TAKUT-i, daripada disegani dan dicintai. 
Juga seorang pemimpin masyarakat (bukan pemimpin disebuah perusahaan), harus 
selalu mampu me-NGAYOMI warga. Ini juga tidak terjadi dalam kepemimpinan 
beliau, setidaknya bagi sebagian warga yang tak sehalauan atau sekepentingan 
dengan beliau.
   
  Tetapi, dalam sebagian tugas kenegaraan, banyak yang beliau penuhi dengan 
mantap, yang tak dicapai oleh kepala negara sebelum dan sesudahnya. Pembangunan 
prasarana ekonomi Sayangnya, ini tidak tuntas, jalan berikutnya buntu, yakni 
menciptakan perekonomian yang bersih, transparan, demokratis dan good 
governance.
   
  Ini pendapat saya pribadi lho. Bagaimana bias penilaian manusia, kita lihat, 
bahwa sebagian besar umat Islam mendoakan beliau, sebagian menuntut beliau 
diadili.
   
   
   
  

agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          mas radityo yang budiman,

kayaknya saya jadi serius nich menanggapi Mas radityo..
pertama jangan panggil saya pak, panggil mas aja. saya kan lebih muda
dari mas radityo, kalo nggak seumuran lah..

soal kata sejati, sejati artinya yang hakiki, tidak struktural dan
tidak dalam bentuk lembaga atau organisasi. kalo pengertian pemimpin
sejati yang saya maksud Pak Harto bukanlah pemimpin sejati. pemimpin
sejati itu adalah mereka, orang-orang dipinggiran jalan yang melayani
dengan hati, dengan berbagai kesulitan hidup masih juga mampu
tersenyum untuk orang lain, ikhlas mencintai sesama.

Buat saya merekalah pemimpin sejati.

Wassalam,
agussyafii

--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menurutku? Yah tergantung memaknai arti kata sejati itu sendiri.
Makanya saya nanya ke penulisnya dulu, bagaimana Pak Agus memaknai
istilah sejati. Baru nanti saya bisa mereka-reka arahnya kemana.
> 
> 
> 



                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke