Agama Hindu tidak pernah menganjurkan penghukuman terhadap mereka yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Dapatlah dikatakan bahwa sejarahnya bersih dari hal-hal yang demikian. Dia sanggup mempersatukan bersama di dalam kedamaian berbagai kelompok manusia.
Apakah Hindu Agama Misi? Di dalam satu segi Agama Hindu dapat dianggap sebagai contoh pertama dari agama misionaris. Hanya saja sifat misionarisnya berbeda dengan yang diasosiasikan dengan kepercayaan-kepercayaan yang menarik orang-orang untuk masuk dan menjadi pemeluk. Agama Hindu tidak menganggap sebagai panggilan untuk membawa manusia kepada suatu kepercayaan. Sebab yang diperhitungkan adalah perbuatan dan bukan kepercayaan. Penyembah dewata yang berlainan dan pengikut dari upacara yang berlainan dibawa ke dalam lingkungan Hindu. Sri Krishna menurut Bhagavad Gita menerima sebagai bagian dari diriNya bukan saja golongan yang tertindas, perempuan dan para buruh, tetapi bahkan juga keturunan dari orang-orang yang tidak bersih (papayonayah) seperti para Kirata dan Hunaa. Praktik kuno vratyastoma yang dijelaskan secara rinci di dalam Tandya Brahmana menceriterakan bahwa bukan saja perseorangann bahkan satu bangsa diserap kedalam Agama Hindu. Ketika di dalam saat-saat kemenangan mereka terhadap lawan-lawan yang mereka kalahkan, mereka tidaklah menghina kepercayaan mereka yang kalah. Penduduk asli India Utara memberikan busana kepada kekuatan alam yang telanjang dengan hiasan mewah dari khayalan dongeng dan menemukan dewa-dewi, hantu, dedemit dari pergantian alam dan orang Arya yang Veda menerima mereka semua dan menempatkan mereka semuanya sejajar dengan penghuni langit dan surga yang memang disembah oleh orang Arya. Adalah cukup bagi mereka bahwa objek-objek yang kasar itu dianggap oleh pengikutnya sebagai sumber dari berkah yang paling tinggi dari hiidup dan sebagai pusat kekuatan yang bisa dimanfaatkan. Dewata di dalam Rg Veda dan hantu di dalam Atharva Veda melebur dan bergabung di dalam satu adonan falsafah yang kuat dan menjadi satu kenyataan yang maha tinggi dan sesuai dengan kwalitas fikiran kita diberi nama. ini dan itu. Itihasa dan Purana menghubungkan penerimaan bangsa-bangsa baru ini serta dewa dewa mereka ke dalam lingkungan keluarga yang lama. Pertentangan kepercayaan dan hubungan kebudayaan sebagai hukumnya tidaklah menghasilkan dominasi dari yang satu kepada yang lainnya. Di dalam hubungan yang sesungguhnya, pastilah ada pertukaran unsur-unsur, walaupun (bekas) unsur asing diberikan tempat layak oleh mereka yang menerimanya. Sikap emosional yang melekat kepada bentuk-bentuk lama dirubah dan dialihkan kepada hal baru, yang ditempelkan kepada latar belakang yang lama. Berbagai bangsa dan ras memiliki binatang pujaan dan ketika mereka memasuki masyarakat Hindu, binatang pujaan itu menjadi kesdaraan dan sahabat dari para dewata. Salah satu dari mereka berkendaraan burung merak, yang lainnya angsa, sapi jantan, kambing. Penempatan Hanuman yang mengabdi kepada Sri Rama memperlihatkan pentingnya titik temu antara penyembah alam yang permulaan dengan theisme yang belakangan. Tarian Sri Krishna di atas Kaliya menunjukkan penempatan yang lebih bawah (kalau bukan penghapusan) dari penyembahan ular. Dipatahkannya gendewa Siva oleh Sri Rama memperlihatkan pertentangan antara gagasan Veda dengan penyembah Siva, yang segera menjadi Dewata Se1atan (Dhaksinamurti). Ada berbagai kisah di dalam Purana dan Ithihasa yang menggambarkan rekonsiliasi antara kepercayaan Veda dengan yang bukan. Leluhur yang disembah, orang orang suci lokal, pengaruh planet-planet dan dewa-dewa-nya suku bangsa, semuanya diterima di dalam jajaran dewata-nya Hindu, walaupun mereka itu semuanya ditempatkan di bawah Yang Nyata Yang Tunggal, dimana selanjutnya mereka menganggapnya sebagai aspek-aspeknya saja. Politheisme-nya diorganisir di dalam jalan yang monistik. Hanya saja ini bukanlah monotheisme yang kaku, yang tidak memberikan kepada para pengikut mereka toleransi terhadap mereka-mereka yang memiliki fikiran yang berlainan. (Paham ketuhanan Hindu adalah pantesitik, bukan monoteistik, pen) Penyembahan pratima yang merupakan bagian terpenting dari kepercayaan Dravida diterima oleh bangsa Arya. Cita cita mengenai vegetarian dan ahimsa dikembangkan. Methode Hindu tentang reformasi agama pada dasarnya adalah demokratis. Dia membiarkan setiap golongan untuk memperoleh kebenaran melalui tradisi mereka sendiri, melalui jalan disiplin fikiran dan moral. Sedang kita tetap diberikan kesempatan untuk mempergunakan nama yang sarna, kita dianjurkan untuk lebih memperdalam maknanya. Agama Hindu tidak memiliki kepercayaan mengenai pembawaan keseragaman yang bersifat mekanis dari kepercayaan dan sembah, dengan pemaksaan penghilangan semua yang tidak sesuai dengan suatu kepercayaan tertentu. Dia juga tidak percaya kepada jalan pembebasan yang diundangkan. Skema pembebasannya tidaklah terbatas kepada mereka yang memiliki pendapat tertentu tentang sifat Tuhan atau sembah. Kemutlakan menyendiri seperti itu adalah tidak sesuai dengan Tuhan yang memiliki cita- cita semesta. Adalah tidak adil kepada Tuhan atau manusia bahwa satu orang adalah yang dipilih Tuhan, agama mereka menempati kedudukan utama di dalam perkembangan keagamaan seluruh umat manusia dan bahwa semuanya harus meminjam dari mereka atau menghadapi pengucilan rohani. Lebih dari pada itu yang pokok bukanlah kepercayaan melainkan tindakan. Melalui buahnya kita akan memahaminya dan bukan dari apa yang mereka percayai. Agama bukan saja kepercayaan yang benar melainkan juga hidup yang benar. (Bandingkan dengan pendapat Spinoza : Agama adalah universal di dalam ras manusia; apabila keadilan dan kedermawanan memiliki kekuatan hukum dan peraturan, ,maka inilah yang dinamakan kerajaan Tuhan."). Mereka yang sungguh-sungguh saleh tidak pernah khawatir tentang kepercayaan orang orang (lain). Pembaru sesungguhnya memurnikan dan meluaskan warisan dari umat manusia dan bukan mengecilkannya dan tentu saja pasti bukan menyangkalnya.Mereka yang menguasai sekte atau agama mereka melebihi kebenaran pada akhirnya akan mencintai diri mereka sendiri ketimbang sekte atau agama mereka. Agama Hindu tidaklah membantu sophisme yang sering dituduh bahwa dengan memaksa seseorang untuk memiliki pendapat yang benar adalah sah . saja, bagaikan membebaskan seseorang dengan paksa dari kemauannya untuk bunuh diri ketika berada di dalam keadaan mabuk. Tiadanya toleransi di dalam monotisme yang sempit telah ditulis dengan darah sepanjang sejarah manusia, sejak ketika suku pertama bangsa Israel meri1asuki daerah Canaan. Penyembah dari satu Tuhan yang cemburu melakukan peperangan terhadap mereka yang memiliki kepercayaan lain. Mereka menjatuhkan "hukuman Tuhan" atas kekejaman yang diderita oleh mereka yang dikalahkan. Semangat dari Israel lama diwarisi oleh Kristiani dan Islam. Perang antar agama yang adalah hasil dari fanatisme yang membenarkan pembunuhan dari orang orang yang berbeda kepercayaannya hampir-hampir tidak dikenal di dalam budaya Hindu. Memang disana sini terjadi letupan fanatisme, tetapi Agama Hindu tidak pernah menganjurkan penghukuman terhadap mereka yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Dapatlah dikatakan bahwa sejarahnya bersih dari hal-hal yang demikian. Dia sanggup mempersatukan bersama di dalam kedamaian berbagai kelompok manusia. Buddhisme yang mengklaim pengikutnya sebanyak seperlima dari umat manusia selalu menghormati kepercayaan yang lain dan tidak pernah mencoba mempengaruhi mereka dengan kekerasan. Pustaka Buddha permulaan menceriterakan bagaiman Buddha mengutuk kecenderungan dari berbagai kelompok untuk memamerkan ajaran mereka dan menjelek-jelek-an ajaran lain (Suta Nipata, 782, Angukara Nikaya, 57,1., dimana Buddha menganjurkan pemberian hadiah dari pengikutnya juga kepada yang non-Buddhist). Dia mengakui hak dari yang non-Buddhist untuk naik ke sorga. Di dalam Mijjima Nikaya beliau menyebutkan Ajivaka memperoleh surga karena kepercayaannya atas karma. Buddha sangat menghargai para brahmin yang sungguh-sungguh menjalani hidup yang bermoral. Buddha meminta para pengikutnya untuk menghindari diskusi yang membuahkan ketidak senangan di antara sekte yang berbeda: Penguasa Hindu dan Buddha di India bertindak dengan menggunakan azas ini dan sebagai akibatnya, mereka yang dihukum karena alasan agama dan pelarian dari berbagai agama menemukan perlindungan di burmi India. Yahudi, Kristiani dan Parsi diberikan kebebasan untuk mengembangkan kepercayaan mereka. Yuan Chang melaporkan bahwa di dalam festival besar Prayaga, Raja Harsa meresmikan pada hari pertama area Buddha, satunya lagi area Dewa Matahari, dewata kesukaan ayahnya pada hari kedua dan Siva pada hari ketiga. Prasasti Kottayam di Sthanuravi dan prasasti Cochin dari Vij ayaragadeva menj elaskan bukti bahwa raja-raja Hindu bukan saja mentolerir Kristiani tetapi memberikan konsesi khusus kepada seorang guru besar dari kepercayaan terse but. Seorang Pangeran dari Mysore menyampaikan sumbangan untuk pembangunan kembali gereja Kristiani di negaranya. Sekarang dunia menjadi tempat yang lebih kecil karena petualangan dan muzizat yang dibawa oleh ilmu pengetahuan. Negara-negara luar menjadi tetangga sebelah kita. Berbaumya penduduk membawa saling pertukaran fikiran. Secara pelahan kita menyadari bahwa dunia ini adalah kelompok kerjasama yang tunggal. Agama~gama lain sudah menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan dan kita mencari segenap jalan supaya kita bisa hidup di dalam harmoni. Kita tidak mungkin memiliki persatuan agama dan kedamaian selama kita menekankan bahwasanya kitalah yang memiliki sinar dan yang lain bergumul di dalam kegelapan. Penekanan ya~g demikian adalah tantangan suatuperkelahian. Cita-cita politis tentang dunia bukanlah suatu kekuasaan tunggal dengan peradaban yang seragam dan kemauan bersama yang tunggal, melainkan persaudaraan dari negara-negara yang merdeka, yang berbeda di dalam cara hidup dan cara berfikir, kebiasaan dan institusinya, berada bersama sama di dalam keteraturan dan perdamaian, harmoni dan koperasi dan masing masing menymbang kepada dunia hal hal terbaik dan unik, yang tidak bisa dikurangi oleh hal hal yang dipunyai oleh negara linnya. Ketika dua atau tiga kepercayaan yang berbeda menyatakan bahwa mereka mengandung wahyu yang merupakan inti dan pusat kebenaran dan penerimaan dari hal ini adalah jalan satu-satunya ke surga maka pertentangan sudah pasti tidak bisa dihindarkan. Di dalam pertentangan yang demikian satu agama tidak akan membiarkan yang lain untuk menang dan tidak ada satupun yang akan mencapai ketinggian sampai seI?uanya berubah n:enjadi abu dan pumg. Semangat demokrasi dengan kepercayaan yang dalam kepada kebebasan untuk memilih tujuan akhir dari setiap orang dan arah dari jalur seseorang di dalam usahanya untuk realisasinya sendiri menjadikan hal ini realistis. Tiada sesuatupun adalah baik kalau bukan merupakan pilihan sendiri ; tidak ada penentuan nasib yang berharga kalau bukan penentuan nasib sendiri. Agama yang berlainan seharusnya secara tulus belajar untuk mengulurkan tangan persahabatan di antara mereka di seluruh dunia. [Kutipan dari HINDU DHARMA Karangan Sarvapali Radhakrishnan, terjemahan Agus S. Mantik] - www.mediahindu.net mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

