Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri



Kamis, 17 Januari 2008

Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak Harto,
kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar dan mau, saya
menulis di sebuah harian terkenal dengan judul "Seandainya Pak Harto Kerso".
Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak Harto *kerso*, mau, jadi Ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat saja.


Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat, tapi
malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi mandat. Sekaligus
siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang merupakan tokoh terkuat
Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada wakil-wakil rakyat yang
diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula, sebagai Ketua MPR, Pak Harto
masih bisa "mengatur".


Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa--sebagaimana umumnya orang--bahwa MPR ketika
itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan menduduki kursi
yang bekas diduduki kacungnya. Atau--ini yang lebih mungkin--Pak Harto tidak
membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto benar-benar mau menjadi Ketua
MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya waktu itu, mungkin sampai sekarang
masih selamat. Tidak dijadikan bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh
mereka yang kemarin bergelung nikmat di balik ketiak kekuasaannya.


Allahu Akbar! *Wolak-walik*-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang
berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat tidak
mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar untuk hanya
mengatakan "ya" atawa diam. Pers pun semuanya tiarap. Bahkan membela sesama
tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan orang banyak.


Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini berbalik.
Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap hari memamerkan
gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini seperti sudah lama
bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling akhir; dari menjilat Pak
Harto berbalik--sedetik kemudian--meludahinya.


***

Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika "burung
baru saja terlepas dari sangkar", ketika euforia keterbukaan melanda negeri,
dan pers nasional seperti *kemaruk* setelah sekian lama tiarap.


Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali "membangunkan"-nya justru dari
rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini seolah-olah Pak
Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman kejayaannya, hanyalah
boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali menunggu sabdanya. Diamnya
pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira sama dengan diamnya dulu waktu
masih berkuasa. Diam yang membuat orang sekelilingnya deg-degan dan
ketar-ketir.


Untuk meramaikan suasana "kebangkitan" arsitek Orde Baru itu, dagelan soal
status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau dimaafkan.
Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan. Seolah-olah di
negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah kita semua bukan
santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad Soeharto.


Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin agung
kita itu: *mikul dhuwur mendhem jero*, mengangkat martabat orang tua
setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai orang tua
kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha mengangkat
martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak.


Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya selalu
hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh Pak Harto
sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari pengadilan
dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai "anak-anak"-nya yang
percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada pengadilan. Pengadilan yang
pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang pasti steril dari
korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?


Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak Harto
mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak Harto di
akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan dosa-dosanya diampuni
oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil.


Untuk itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke
arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang lebih
penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini tidak cukup
hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada dosa manusia yang
berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan diampuni oleh Allah sebelum
yang bersangkutan menyelesaikannya di dunia ini.


Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya, saudaranya itu
harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak orang lain, ya,
harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang yang bersangkutan
mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada lagi ganjalan terhadap
sesama.


Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan sesama
mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan demikian Bapak
Pembangunan kita itu *husnul khaatimah*, tidak hanya bahagia ketika hidup di
dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.


*) A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh Pesantren


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke