----- Original Message ----- 
  From: Andreas Harsono 
  To: andreas harsono ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, January 17, 2008 6:33 PM
  Subject: [pantau-komunitas] Barisan Umat Islam Mempertanyakan Organisasi 
Tionghoa di Pontianak


  Pontianak Pos, Selasa, 8 Januari 2008

  Massa BUI Datangi DPRD Kota
  Minta Jawaban Surat Mereka

  Pontianak,- Sebanyak 50 orang yang tergabung dalam Barisan Umat Islam
  Kalbar mendatangi kantor DPRD Kota Pontianak, Senin (7/1) pukul 11.00 WIB.
  Mereka mempertanyakan jawaban dan tanggapan dari surat yang dikirim ke DPRD
  Kota Pontianak pada 2 Januari lalu.

  Kedatangan massa ini dipimpin Ketua Barisan Umat Islam Kalbar, Gusti
  Suryadharma. Kedatangan mereka disambut Wakil DPRD Kota Pontianak, Hartono
  Asas, Ketua Komisi B DPRD Kota Pontianak, Ali Akbar, Ketua Komisi A DPRD
  Kota Pontianak, Idul Adha, dan beberapa anggota DPRD Kota lainnya.

  Saat tiba di gedung DPRD Kota Pontianak, massa langsung dibawa masuk ke
  ruang rapat paripurna DPRD Kota Pontianak. Di sana, massa yang diwakili
  Gusti Suryadharma langsung menyampaikan aspirasi mereka.

  ²Sebelumnya kita telah mengirimkan surat ke DPRD Kota Pontianak. Surat
  tersebut diterima pada 2 Januari. Makanya sekarang kami ke sini untuk
  meminta jawaban,² ujar Gusti Suryadharma.

  Menurut Gusti, surat tersebut berisikan pertanyaan tentang budaya Tionghoa
  di Kota Pontianak. Surat tersebut juga mempertanyakan legalitas Majelis Adat
  Budaya Tionghoa (MABT).

  ²Kami hanya mempertanyakan apakah budaya Tionghoa tersebut berasal dari adat
  budaya tradisional Kota Pontianak? Kami mohon jawaban dari DPRD Kota
  Pontianak,² kata Gusti.

  Pertemuan massa ini sempat tegang. Dikarenakan Gusti Suryadharma sempat
  menggebrak meja. Beberapa anggota dewan yang hadir pun langsung berdiri dan
  meminta Gusti Suryadharma untuk menghormati pertemuan tersebut. Beruntung
  selama beberapa lama situasi pun tenang kembali. Ketua Komisi A DPRD Kota
  Pontianak, Idul Adha pun segera menjawab pertanyaan massa tersebut.

  ²Saya mengharapkan semua yang datang ke sini bisa menghormati lembaga ini.
  Dari awal, Sekwan sudah menyatakan ada surat yang masuk, namun masih dalam
  pengkajian,² ujar Idul Adha.

  Dia mengungkapkan dalam menjawab pertanyaan tersebut, DPRD Kota Pontianak
  tidak berani berandai-andai, karena dikhawatirkan akan salah menjawab. Untuk
  menjawab pertanyaan tersebut, DPRD Kota Pontianak harus meminta pendapat
  orang-orang tertentu yang mengetahui tentang budaya secara pasti.

  ²Pertanyaannya sederhana, tinggal dijawab iya atau tidak. Tapi setiap
  jawaban yang dikeluarkan harus mempunyai dasar. Saat ini kita belum
  mempunyai dasar untuk menjawab pertanyaan tersebut,² ujarnya.

  Akhirnya setelah mendengar jawaban dari Idul Adha dan kata penutup dari
  Wakil DPRD Kota Pontianak, Hartono Asas, pertemuan pun selesai. Walaupun
  sempat tegang, seusai pertemuan, sebelum meninggalkan ruang paripurna
  tersebut, massa dan anggota DPRD Kota Pontianak pun bersalam-salaman.
  (uni/mzr) 

  Equator, Rabu, 14 November 2007

  MUI Cabut Dukungan UJ-LHK

  Pontianak,- Kesepakatan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar
  beserta 21 Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam menuai protes. Pernyataan MUI
  yang sebelumnya mengeluarkan instruksi kepada seluruh pengurus dan anggota
  MUI Kalbar untuk mencoblos UJ-LHK, dibatalkan.
  Ketua Umum MUI, KH Rachim Djafar menyatakan mencabut instruksi tersebut,
  Selasa (13/11) di kediamannya. Keputusan mencabut instruksi itu bertujuan
  untuk menjaga persatuan umat Islam di Kalbar.

  ³Keputusan (Keputusan MUI, Red) itu memang saya tanda tangani. Tapi, untuk
  kalangan 21 organisasi itu (Ormas Islam, Red). Bukan untuk umum. Kita juga
  tidak ada desakan, hanya menganjurkan. Dan kita juga tidak membuat imbauan,²
  kata Rachim Ja¹far kepada sejumlah wartawan.

  Rachim juga mengakui, tidak pernah mengikuti rapat bersama antara 21 Ormas
  Islam itu. Cuma, ada salah satu ketua MUI yang mengikuti rapat tersebut.
  ³Saya tidak pernah hadir dalam rapat itu. Cuma hadir salah satu ketua MUI,²
  katanya.

  Rachim yang terlihat sudah uzur didampingi anaknya, terlihat tegar
  memberikan keterangan pers kepada wartawan. Kemudian, Rachim juga menyatakan
  tidak tahu-menahu mengapa kesepakatan itu justru disampaikan ke publik pada
  saat masa tenang. Sebenarnya anjuran itu untuk disiarkan ke masing-masing
  anggota ormas Islam yang ikut bermusyawarah.

  Sebelum melayani pertanyaan wartawan, Rachim Ja¹far terlebih dahulu
  mendengarkan tuntutan dari Barisan Umat Islam Kalbar yang dipimpin Gusti
  Suryadarma. Di hadapan Rachim Ja¹far, Gusti Surya membacakan pernyataan
  sikap yang meminta MUI jangan melakukan politik praktis karena bisa memecah
  belah umat.

  Mendengar desakan itu, Rachim Ja¹far terlihat tenang. Semua tuntutan itu
  diterima oleh Rachim Ja¹far. Dalam kesempatan itu juga Rachim Ja¹far
  mengeluarkan surat pernyataan menarik semua keputusan MUI yang sebelumnya
  termasuk instruksi coblos UJ-LHK. Rencananya surat tersebut hari ini akan
  diserahkan ke Panwaslu.

  Di tempat terpisah, sebelum Rachim melontarkan pernyataan penarikan itu,
  salah satu Ketua MUI Kalbar M Bachit Nawawi, juga menyatakan mencabut
  dukungannya terhadap pasangan kandidat Usman Jafar-LH Kadir. ³Saya telah
  mencabut dukungan. Surat ini sudah saya tanda tangani dan besok diserahkan
  ke kepada Panwaslu,² kata Bachit Nawawi di kediamannya Sabtu (13/11).

  Dalam kesempatan itu juga Bachit meminta masyarakat Islam Kalbar tidak
  terpancing isu-isu yang berniat memecah belah persatuan dan kesatuan umat
  Islam. Dan dia dengan tegas mengharapkan agar umat Islam memilih calon
  pemimpin sesuai hati nurani.

  Wakil Ketua MUI Kalbar bidang Dakwah Islam, Imam Supangat ketika dihubungi
  tadi malam, tidak tahu-menahu soal dukungan MUI terhadap kandidat nomor 1.
  Selama ini dia tidak pernah dilibatkan dalam rapat pleno MUI. ³Saya sampai
  saat ini tidak pernah diundang untuk rapat. Saya tidak tahu-menahu. Apalagi
  soal pencabutan dukungan itu, saya juga tidak pernah dikasih tahu,²
  katanya..

  Sebelumnya diberitakan bahwa Ketua Harian MUI Pusat Drs.H Amidhan dari
  Jakarta menyatakan MUI tidak boleh berpolitik. ³Sebagai pengurus pusat MUI
  Pusat meminta kepada masyarakat Kalbar untuk mengabaikan seruan MUI Kalbar
  secara lisan dan tulisan, maupun yang telah diterbitkan di media massa. Hal
  itu karena tidak sesuai dengan Munas MUI tahun 2000 yang menyatakan bahwa
  MUI tidak boleh terlibat dalam politik praktis," kata Amidhan.

  Dari Hotel Mahkota, kubu Oesman Sapta-Lyong menggelar konferensi pers
  menyikapi sikap MUI tersebut. Hadir Ketua Umum Koalisi Mas Yahya Secawiria,
  dan Wakil Ketua Koalisi MAS Hildy Hamid dan Ketua Tim Oesman Sapta Sukses
  (TOSS) Abdul Salam. Pihaknya menyatakan ada pelanggaran terhadap apa yang
  telah disepakati di Polda Kalbar antarkandidat Gubernur dan Wakil Gubernur
  Kalbar beberapa waktu lalu. Pelanggaran ini dianggap serius karena telah
  menyinggung posisi dan keberadaan kandidat lain.

  Hal yang dianggap telah melanggar adalah, adanya upaya memperdayai Ketua MUI
  Kalbar dan menyeret lembaga agama itu untuk mendukung sebuah calon. Padahal
  MUI adalah lembaga yang bertugas memberikan imbauan dan bimbingan serta
  pengawasan terhadap keberagamaan Islam serta tidak boleh berpolitik praktis.

  ³Kesepakatan MUI Kalbar yang telah menyakiti hati umat Islam di Kalbar,
  karena MUI hanya meminta umat Islam untuk memilih salah satu calon gubernur
  Kalbar saja. Padahal dalam Pilkada Kalbar kali ini ada 3 calon gubernur
  Kalbar yang beragama Islam,² papar mereka.

  Dari kubu Akil-Mecer melalui salah satu anggota Media Centre (MC) nya,
  Kasiono juga merasa risih dengan keluarnya imbauan MUI tersebut. MUI
  sepertinya terjebak dalam ranah politik yang bisa membuat umat
  terpecah-belah. Namun, karena adanya pencabutan dukungan itu, pihaknya
  merasa lega.

  ³MUI berarti cepat merespons sikap umat. Dengan adanya pencabutan itu
  tentunya MUI sudah kembali pada jalurnya. Kita meminta, persoalan seperti
  ini jangan terjadi lagi di kemudian hari,² kata Kasiono.

  Dari Kubu Cornelis-Christiandy juga ikut nimbrung mengomentari sikap MUI
  tersebut. Melalui salah satu anggota tim suksesnya, Salimansyah menyatakan,
  pernyataan MUI mendukung salah satu kandidat bisa mengundang gejolak umat
  Islam di Kalbar. Mereka menilai bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan
  nilai-nilai demokrasi. (ros/evi)



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.4/1226 - Release Date: 15/01/2008 
18:19


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke