Menjawab Kebohongan Ahmadiyah

Rabu, 16 Januari 2008

*Berbagai penganut "aliran sesat" sudah terbiasa menggunakan kiat-kiat 
untuk
mengelabui dan membohongi masyarakat dalam menyebarluaskan paham-pahamnya 
*

Oleh: *H.M. Amin Jamaluddin **

Berbagai aliran sesat sudah terbiasa menggunakan kiat-kiat untuk 
mengelabui
dan membohongi masyarakat dalam menyebarluaskan paham-pahamnya. Berbagai
kebohongan, pengaburan, dan tipu daya juga seringkali dimunculkan dalam
kasus seputar Ahmadiyah. Pada tanggal 3 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah
Indonesia berkirim surat berupa "Ringkasan Penjelasan tentang Jemaat
Ahmadiyah Indonesia" kepada Azyumardi Azra di kantor Sekretariat Wakil
Presiden.

Tulisan ringkas berikut ini merupakan jawaban-jawaban ringkas dan jitu 
untuk
meluruskan beberapa penjelasan kaum Ahmadiyah, seperti dalam surat mereka 
ke
Azyumardi Azra di kantor Wapres tersebut. Berikut ini beberapa penjelasan
Ahmadiyah dan jawaban kita. Ahmadiyah mengatakan:

1. "Syahadat kami adalah syahadat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW 
yang
berbunyi: " *Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar
Rasulullah*."

*Jawab kita:*

Kita perlu berhati-hati dan mencermati pengakuan semacam itu. Sejak
berdirinya, Jemaat Ahmadiyah sudah mengaburkan makna syahadat, meskipun
lafalnya sama dengan syahadat orang Islam. Kaum Ahmadiyah mengklaim bahwa
Mirza Ghulam Ahmad adalah juga Muhammad dan Rasul Allah. Simaklah buku
Memperbaiki Kesalahan ( *Eik Ghalthi Ka Izalah*), karya Mirza Ghulam 
Ahmad,
yang dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Ponto, (terbitan Jamaah Ahmadiyah 
cab.
Bandung, tahun 1993). Di situ tertulis penjelasan terhadap ayat al-Quran
berikut ini:

ãøõÍóãøóÏñ ÑøóÓõæáõ Çááøóåö æóÇáøóÐöíäó ãóÚóåõ ÃóÔöÏøóÇÁ Úóáóì ÇáúßõÝøóÇÑö
ÑõÍóãóÇÁ Èóíúäóåõãú

[48:29] Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama 
dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka.

Dalam buku ini, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, siapa yang dimaksud dengan
"Muhammad" dalam ayat tersebut, yakni: "Dalam wahyu ini Allah SWT 
menyebutku
Muhammad dan Rasul…(hal. 5).

Jadi, inilah perbedaan keimanan yang sangat mendasar antara Ahmadiyah 
dengan
orang Muslim. Sebab, bagi umat Islam, kata Muhammad dalam syahadat, adalah
Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekkah, bukan yang lahir di India. Lebih
jauh lagi, dikatakan dalam buku ini:

"Dan 20 tahun yang lalu, sebagai tersebut dalam kitab Barahin Ahmadiyah
Allah Taala sudah memberikan nama Muhammad dan Ahmad kepadaku, dan
menyatakan aku wujud beliau juga." (Hal. 16-17). "….. Dalam hal ini 
wujudku
tidak ada, yang ada hanyalah Muhammad Musthafa SAW, dan itulah sebabnya 
aku
dinamakan Muhammad dan Ahmad." (Hal. 25)

Dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah *"Sinar Islam*" edisi 1 Nopember 
1985
(Nubuwwah 1364 HS), rubrik "*Tadzkirah*", disebutkan:

"Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah
dikemukakan dalam Brahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku
manifestasi dari semua Nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, Aku 
Seth,
Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, Aku Ismail, Aku Ya'qub Aku Yusuf, Aku 
Musa,
Aku Daud, Aku Isa, dan Aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad
SAW, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul 
Wahyi,
h. 72)." (Hal. 11-12)

Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah bahwa bagi kaum Ahmadiyah, Mirza
Ghulam Ahmad juga mengaku sebagai Muhammad saw, sebagaimana disebutkan
sebelumnya. Bahkan, dalam buku Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
Yayasan Wisma Damai, Bogor, cetakan keenam,1993, disebutkan: "….. di dalam
syariat Muhammad s.a.w akulah Masih Mau'ud. Oleh karena itu aku 
menghormati
beliau sebagai rekanku ….." (Hal. 14)

Ahmadiyah mengatakan;

2. "Kitab Suci kami hanyalah Al Qur'anul Karim." Ahmadiyah juga 
mengatakan,
bahwa "Tadzkirah" bukanlah kitab suci mereka, tetapi merupakan pengalaman
rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta
diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935 (27 tahun setelah
Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia tahun 1908).

*Jawab kita:*

Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam
kitab *Tadzkirah
*yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: "*TADZKIRAH
YA'NI WAHYU MUQODDAS*", artinya *TADZKIRAH *adalah *WAHYU SUCI*. Jadi, 
kaum
Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab *Tadzkirah *adalah "wahyu yang
disucikan". Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya
sebagai Kitab Suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain
al-Quran, yaitu kitab Tadzkirah.

Tentu saja, umat Islam seluruh dunia menolak dengan tegas, bahwa setelah
Nabi Muhammad saw, ada nabi lagi, atau ada orang yang menerima wahyu dari
Allah SWT. Dalam buku Apakah Ahmadiyah itu? Karangan HZ. Mirza Bashiruddin
Mahmud Ahmad disebutkan:

"Hadhrat Masih Mau'ud a.s tampil ke dunia dan dengan lantangnya 
menyatakan,
bahwa Allah Ta'ala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri 
beliau
saja, bahkan Dia bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada
beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan
menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia
Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para 
pengikut
beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh ni'mat serupa itu." (hal.
63-64).

3. "Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan
orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan."

*Jawab kita:*

Pengakuan kaum Ahmadiyah ini pun nyata-nyata tidak sesuai dengan fakta 
yang
ada pada buku-buku dan terbitan mereka. Dalam buku Amanat Imam Jemaat
Ahmadiyah Khalifatul Masih IV Hazrat Mirza Tahir Ahmad Pada Peringatan
Seabad Jemaat Ahmadiyah Tahun 1989 terbitan Panita Jalsah Salanah 2001, 
2002
Jemaat Ahmadiyah Indonesia, disebutkan:

"Saya bersaksi kepada Tuhan Yang MahaKuasa dan Yang Selamanya Hadir bahwa
seruan Ahmadiyah tidak lain melainkan kebenaran. Ahmadiyah adalah Islam
dalam bentuknya yang sejati. Keselamatan umat manusia bergantung pada
penerimaan agama damai ini." (Hal. 6)

"Bilakhir, perkenankanlah saya dengan tulus ikhlas mengetuk hati anda
sekalian sekali lagi agar sudi menerima seruan Juru Selamat di akhir zaman
ini." (Hal. 10)

Bahkan, Ahmadiyah punya istilah sendiri untuk menamai para pengikut
ajarannya, dengan tujuan membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya:

Dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad - Imam Mahdi dan Masih Mau'ud
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah
Indonesia, cetakan kedua, 1995, disebutkan:

"Pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka
Hazrat Ahmad as. menerbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh pengikut
beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim.
Yakni, pada tahun itulah Hazrat Ahmad as. telah menetapkan nama Ahmadi 
bagi
para pengikut beliau as., untuk membedakan diri dari orang-orang Islam
lainnya." (Hal. 47)

Kaum Ahmadiyah juga menyebut, jemaat mereka adalah laksana perahu Nabi Nuh
yang menyelamatkan. Yang tidak ikut perahu itu akan tenggelam. Dalam 
Majalah
Bulanan resmi Ahmadiyah " *Sinar Islam*" edisi 1 Juli 1986 (Wafa 1365 HS),
pada salah satu tulisan dengan judul Ahmadiyah Bagaikan Bahtera Nuh Untuk
Menyelamatkan Yang Berlayar Dengannya, oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad,
Khalifatul Masih IV, dinyatakan:

"Aku ingin menarik perhatian kalian kepada sebuah bahtera lainnya yang 
telah
dibuat di bawah mata Allah dan dengan pengarahanNya. Kalian adalah bahtera
itu, yakni Jemaat Ahmadiyah. Masih Mau'ud a.s. diberi petunjuk oleh Allah
melalui wahyu yang diterimanya bahwa beliau hendaklah mempersiapkan sebuah
Bahtera. Bahtera itu adalah Jemaat Ahmadiyah yang telah mendapat jaminan
Allah bahwa barang siapa bergabung dengannya akan dipelihara dari segala
kehancuran dan kebinasaan.".………….

"Ini adalah suatu pelajaran lain yang hendaknya diperhatikan oleh
anggota-anggota Jemaat. Sungguh terdapat jaminan keamanan bagi mereka yang
menaiki Bahtera Nuh, baik bagi para anggota keluarga Masih Mau'ud a.s.
maupun bagi orang-orang yang, meskipun tidak mempunyai hubungan jasmani
dengannya, menaiki Bahtera itu dengan jalan mengikuti ajaran beliau". 
………….

"Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita untuk melindungi Bahtera ini
dengan sebaik-baiknya, dengan ketakwaan dan ketabahan yang sempurna, dan
dengan kebenaran yang sempurna – Bahtera yang telah dibina demi 
keselamatan
seluruh dunia. Amin!". (Hal. 12, 13, 16, 30)

*Kesimpulan:*

Kita jangan mudah tertipu dengan penjelasan-penjelasan yang tampak indah,
padahal, dunia Islam sejak dulu sudah tahu, apa dan bagaimana sebenarnya
ajaran Ahmadiyah. Intinya, mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai 
Nabi,
Isa al-Mau'ud, dan Imam Mahdi. Mereka juga tidak mau bermakmum kepada 
orang
Islam dalam shalat, karena orang Islam tidak mengimani Mirza Ghulam Ahmad
sebagai Nabi.

Jadi, antara Islam dan Ahmadiyah memang ada perbedaan dalam masalah
keimanan. Oleh sebab itulah, berbagai fatwa lembaga-lembaga Islam
internasional sudah lama menyatakan, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat 
dan
menyesatkan. Kita berharap para pejabat dan cendekiawan kita tidak mudah
begitu saja menerima penjelasan Ahmadiyah, tanpa melakukan penelitian yang
mendalam. Sebab, tanggung jawab mereka bukan saja di dunia, tetapi juga di
akhirat. Kita hanya mengingatkan mereka, tanggung jawab kita masing-masing
di hadapan Allah SWT.

*Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam *



Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke