---------- Forwarded message ----------
From: Komite Politik Rakyat Miskin Partai Rakyat Demokratik
<[EMAIL PROTECTED]
>
Date: 18 Jan 2008 12:50
Subject: Reformasi di Tubuh Militer: Bohong! Tangkap Pelaku Penembakan
Anggota SPI Madiun.
To: [EMAIL PROTECTED]

 *REFORMASI DI TUBUH MILITER: BOHONG! *

*Tangkap Aparat Polisi Pelaku Penembakan *

*Anggota Serikat Pengamen **Indonesia** (SPI) Cabang Madiun *

* *

*Kemarin, tanggal 17 Januari 2008, pukul 09:00 WIB, Tri Joko Kuncoro,
seorang anggota Serikat Pengamen Indonesia (SPI) cabang Madiun ditembak
aparat polisi setelah berpidato dan mengamen dua lagu kerakyatan, Negeri
Kami dan Marsinah, di dalam bus **kota**. Oknum polisi tersebut menyuruh Tri
Joko turun dari bus dan menembaknya dari dalam bus. Peluru bersarang di
tangan kirinya, dan hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Karang
Menjangan **Surabaya**.*

Baru saja terjadi  penembakan sipil oleh militer di Karawang, kini terjadi
lagi penembakan sipil oleh (oknum) aparat (kepolisian) di Madiun, setelah
rangkaian kejadian penembakan serupa kerap dilakukan militer terhadap sipil.
Oleh pemerintah SBY-JK beserta aparatus lagislatif dan yudikatifnya,
kejadian tersebut selalu disimpulkan sebagai pelanggaran yang dilakukan oleh
oknum aparat militer (seringkali   prajurit berpangkat rendah), atau dalam
beberapa kasus lainnya (terakhir kasus Alas Tlogo) dianggap sebagai
pembelaan diri. Sehingga jalan yang mereka tempuh hanya sebatas tes
psikologi penggunaan senjata pada aparat; menyerahkan penyelesaiannya pada
mekanisme peradilan militer, dan sejenisnya, yang sama-sama tidak
menghendaki kontrol sipil di ranah militer.

Dwi fungsi tentara/militer adalah ideologi sesat yang masih terus dipelihara
di kepala setiap prajurit militer di Indonesia hingga saat ini; yang dengan
rapi disusun lewat berbagai kurikulum pendidikan Lemhanas; yang pasca
reformasi mulai disambung-sambungkan dengan penegakan HAM (palsu) dan
reformasi tentara. Penghapusan dwi fungsi   tentara, padahal, telah
dikanalisasi/dibatasi hanya pada penghapusan kursi tentara di DPR, tidak
dilanjutkan dengan (i) pembubaran berbagai badan teritorial tentara—termasuk
Muspida dan Muspika; (ii) pembubaran Lemhanas—yang mengajarkan teori
reformasi tentara dari induk semangnya, AS, yang justru pelaku pelanggaran
HAM terbesar di dunia; (iii) perombakan sistem pendidikan ketentaraan; (iv)
pemutusan hubungan kemiliteran dengan AS. Tanpa keempat hal pokok ini,
reformasi tentara sama saja BOHONG. Para prajurit tentara berpangkat rendah
(secara psikologi dan institusional) akan tetap menodongkan senjatanya
sewenang-wenang pada rakyat miskin sebagai musuhnya, dan mencucukkan
hidungnya pada para Jenderal dan partai orang-orang kaya agen imperialis
sebagai tuannya.

Secara politik, berbagai kejadian penembakan tersebut, dapat dilihat sebagai
bentuk-bentuk peristiwa yang menunjukkan bahwa (1) aparat militer terus
bergerak mengendap-ngendap mencari celah untuk menjarah ranah sipil kembali,
bahkan sekarang semakin terbuka untuk bergerak naik, selain karena ruang
politik yang memang dibuka untuk mereka, juga oleh sebab tersedianya
landasan hukum perundang-undangan bagi represifitas mereka (seperti
perda-perda KUHP dan perda-perda ketertiban umum yang mengkriminalisasi
orang miskin); (2) Ilusi bahwa militer masih bisa dikontrol oleh
sipil—misalnya dengan adanya kementerian pertahanan dan keamanan, yang
menterinya seorang sipil—tak terbukti di lapangan, mereka tetap saja tak
bisa dikontrol.

Dibukanya ruang politik bagi militer untuk masuk ke ranah sipil (baca:
pengaruh militer di partai-partai semakin kuat) adalah bukti oportunisme
kaum reformis yang mengkhianati tugas-tugas reformasi,yakni, menuntaskan dwi
fungsi tentara. Kaum reformis gadungan semacam itu, tak terkecuali,
beramai-ramai menjilati kaki tentara demi memperoleh ceceran kekuasaan dalam
setiap pemilihan umum. Saking oportunisnya, mereka kini sanggup memaafkan
Soeharto—bahkan meminta rakyat untuk turut memaafkannya; bergandengan tangan
dengan mesin politik tentara di era Orba (Golkar); menjual diri pada
parta-partai restorasi tentara dan orde baru (PKPB; PKPI dsb). Merekalah
(kaum reformis gadungan yang menjadi benalu reformasi) yang telah
meninggalkan janji reformasinya, dan paling bertanggung jawab terhadap
revitalisasi dwi fungsi tentara saat ini, sehingga harus turut bertanggung
jawab terhadap penembakan-penembakan yang dilakukan tentara terhadap sipil.

Oleh karena itu, kami, Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik
(KPRM-PRD), menyerukan:

*1.      **Tangkap aparat polisi pelaku penembakan anggota SPI Madiun;*

*2.      **Cabut pasal-pasal KUHP dan Perda-perda yang mengkriminalisasi
orang miskin;*

*3.      **Tuntaskan dwi –fungsi tentara hingga ke akar ideologinya: *

·         *Bubarkan badan teritorial tentara—termasuk Muspida dan Muspika,*

·         *Bubarkan Lemhanas,*

·         *Rombak total sistem pendidikan tentara,*

·         *Putuskan hubungan kemiliteran dengan AS*

*4.      **Jangan percaya pada sisa-sisa Orde Baru; jangan percaya kaum
reformis gadungan; jangan percaya partai-partai lama;*

*5.      **Bentuk jaringan pergerakan rakyat miskin yang semakin meluas dan
menyatu.*

*6.      **Bangun Politik Rakyat Miskin untuk Kekuasaan Rakyat Miskin*



Kami juga mengajajak seluruh elemen demokratik untuk membuat pernyataan
solidaritas dan menembuskannya pada kontak-kontak berikut ini:

-          *Mapolda Jawa Timur: No Fax 031-8280887 *

-          *Mabes POLRI: **Telp./Faks.: 021-720 7277** *

-          *Komnas HAM: T **elp 021- 392 5227-30; Fax. 021-392 5227** *

-          *Polres Jakarta Selatan: Telp. 021-7206004, 7206011/13, 7221205 *
**

* *

*LAWAN PENJAJAHAN ASING DENGAN GERAKAN RAKYAT, *

*LAWAN SISA ORDE BARU DAN REFORMIS GADUNGAN *

*Jakarta, 18 Januari 2008 *

*KOMITE POLITIK RAKYAT MISKIN – PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK *

*(KPRM-PRD) *

* *

*LAMPIRAN: *

*Kronologis Kejadian oleh Andi Ramadani*

* *

*KRONOLOGIS PENEMBAKAN KAWAN TRI JOKO KUNCORO (KOJEK) *

Sekitar jam 08.30 tgl 17 Januari 2008 kawan Tri Joko Kuncoro (Kojek)
sendirian sampai di pos ojek Gading (daerah Ringroad), kemudian kawan Kojek
naik bus AKAS jurusan Ponorogo – Surabaya untuk memulai aktivitasnya
berkarya. Dalam perjalanan sepanjang jalan Ringroad kota Madiun, kawan Tri
Joko Kuncoro (Kojek) menyanyikan 2 lagu yang berjudul Negeri Kami dan
Marsinah. Setelah selesai 2 lagu tersebut, kawan Tri Joko Kuncoro (Kojek)
mulai mengharap bunga-bunga sosial dari penumpang bus AKAS. Tiba di kursi
oknum anggota polri yang bernama *Briptu Joko Sutrisno* *(Anggota Sat
Reskoba Polsek Metro Kebayoran Baru Jakarta)* baju kawan Kojek di tarik,
kemudian keluar kata-kata "turun kamu" lalu kawan Kojek turun dari
bus. Kemudian
kawan Kojek berjalan ke belakang bus di ikuti oleh Briptu Joko dari
belakang. Belum sampai kawan Kojek turun dari bus (dalam posisi kaki kiri
turun dan kaki kanan masih dalam bus) Briptu Joko menembak lengan kawan
Kojek (kejadian sekitar jam 09.00). Kemudian kawan Tri Joko Kuncoro (Kojek)
lari melapor di pos polisi terdekat (dekat dengan terminal timbang), lalu di
respon oleh anggota sat lantas polresta Madiun dan mengejar bus AKAS
tersebut. Kemudian bus AKAS dapat di hentikan di daerah Balerejo Kabupaten
Madiun. Sampai dengan sekarang proyektil yang bersarang di lengan kawan
Kojek masih belum diambil serta tulang lengan kawan Kojek pecah (ada dalam
foto rontgen). Kemudian sekitar jam 12.00 kawan Kojek dirujuk ke RS di
Karang Menjangan Surabaya dengan ambulans polri. Tadi siang Kapolresta
Madiun yang diwakili oleh Kapolsekta Manguharjo meminta maaf atas nama
institusi kepolisian dan juga berjanji akan menanggung semua biaya perawatan
kawan Kojek sampai sembuih.

*Madiun, 17 Januari 2008*

*23.30*

*Andy Ramadhani*

* *





-- 
The Political Committee of The Poor - People's Democratic Party (KPRM-PRD).
Organised to raise campaigns on the importance of alternative politic of the
Poor, and to reject the opportunist parliamentary tactics of the PRD
leadership's majority.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke