----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: Undisclosed-Recipient:; 
  Sent: Sunday, January 20, 2008 12:31 AM
  Subject: [mediacare] Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto [Peran Ibu Tien bagi 
Soeharto]




  http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008011901174974


  Peran Ibu Tien bagi Soeharto 

        Judul buku: Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto

        Penulis: Arwan Tuti Artha

        Penerbit: Galang Press, Yogyakarta

        Cetakan: I, 2007

        Tebal: 168 halaman

        Kondisi kesehatan Soeharto makin memburuk. Tak heran jika setiap detik, 
media massa elektronik terus memantau.

        Sambil menunggu perkembangan, kisah-kisah tentang Soeharto ditayangkan 
berikut analisisnya. Tak kurang berperan, kisah hidup Siti Hartinah (Ibu Tie), 
istrinya yang telah wafat ikut menjadi warna. Sebab, peran Ibu Tien bagi 
Soeharto begitu besar. Bahkan ketika ia meninggal seluruh Indonesia mengibarkan 
bendera setengah tiang.

        Soeharto yang pernah berkuasa dengan Orde Barunya di Indonesia selama 
32 tahun itu, ternyata tidak bisa lepas dari pengaruh istrinya Siti Hartinah 
atau yang akrab di sapa Bu Tien. Bu Tien yang lahir di Solo itu, dalam buku 
ini, dalam konteks dunia batin orang Jawa, mempunyai wangsit keprabon yang pada 
akhirnya wangsit itu merasuk kepada suaminya yang kemudian mengantarkan 
suaminya Soeharto menjadi seorang yang terkuat dan paling berpengaruh di Asia, 
sebagaimana yang pernah diakui majalah Asiaweek pada tahun 1996.

        Padahal, seperti yang pernah dikatakan Soeharto dalam autobiografinya, 
dia tidak pernah bercita-bercita atau bermimpi menjadi seorang presiden karena 
memang dia berasal dari keluarga miskin di sebuah dusun kecil di Yogyakarta, 
yang tidak punya apa-apa. Namun, dengan menikahi Siti Hartinah pada 26 Desember 
1947, yang masih keturunan Mangkunegoro itu, dan dengan laku spiritual atau 
melalui jalan keberuntungan yang harus ditempuh Soeharto, wangsit yang 
tersembunyi dalam diri Siti Hartinah akhirnya datang menghampiri Soeharto dan 
menjadikan Soeharto berkuasa di Indonesia. Begitulah Arwan menandaskan dalam Bu 
Tien Wangsit Keprabon Soeharto ini.

        Arwan mengungkap rahasia-rahasia di balik kesuksesan Soeharto, yaitu 
dengan pendekatan ruang dunia batin Jawa atau dunia spiritual orang Jawa, ia 
menjelaskan keberadaan Bu Tien di sisi Soeharto telah menjadi pulung bagi 
keberlangsungan kekuasaan Soeharto.

        Sebagai keturunan Mangkunegoro III, Bu Tien telah menitiskan trah 
kekuasaan ketangan Soeharto. Ia laksana api keramat kerajaan yang mampu 
megangkat rakyat biasa, seperti Soeharto menjadi raja.

        Bahkan, Arwan mengatakan kalau seandainya Soeharto tidak menikahi Siti 
Hartinah, barangkali nasib yang menghampirinya tidak akan semujur itu. Sebab, 
sangat mungkin justru melalui Siti Hartinah itulah wangsit keprabon turun ke 
Soeharto, mengingat Soeharto adalah keturunan orang biasa, sedangkan Bu Tien 
adalah keturunan seorang raja.

        Ong Hok Ham, dalam bukunya, Dari Soal Priyayi Sampai Nyai Blorong 
(2002: 217) membenarkan hal itu. Menurut Ong, perempuan (baca: Bu Tien) 
keturunan raja ini memiliki pusaka paling keramat karena darinya berasal api 
keramat kerajaan yang dapat mengangkat rakyat biasa menjadi raja.

        Kapan wangsit keprabon itu masuk tubuh Soeharto? Menurut Arwan, tepat 
pada taggal 11 Maret 1966, saat Soekarno membubuhkan tanda tangannya pada surat 
perintah di Istana Bogor yang kemudian terkenal dengan Supersemar itu, maka 
saat itulah wangsit keprabon mulai angslup di tubuh Soeharto, sehingga Soeharto 
pun sakit.

        Hal itulah yang kemudian menjadikan nasib Soeharto mujur. Dalam konsep 
masyarakat Jawa, ada istilah ndilalah kersaning Allah4 atau kehendak Tuhan. 
Selain itu, dalam konsep Jawa, juga dikenal dengan istilah pulung. Pulung itu 
datang dari langit dan ditunjukkan kepada Soeharto. Menurut ajaran Jawa, pulung 
merupakan suatu anugerah, wahyu dan tanda dari langit. Pada saat pemilihan 
Kepala Desa di desa-desa Jawa, misalnya, masyarakat biasanya memperhatikan 
pulung yang berseliweran, kepada siapa pulung itu akan jatuh.

        Nah, dari sini dapat dikira bahwa di balik kesuksesan Soeharto itu 
sesungguhnya ada kekuatan gaib dari Bu Tien yang menopang dari belakang. Demi 
Soeharto, seperti yang dijelaskan Arwan, Bu Tien melakukan tapabrata, kungkum, 
ngombe banyu pitung sumur, nyekar, dan berbagai macam laku prihatin lain.

        Dengan tapabrata dan berbagai macam laku prihatin yang dilakukan Bu 
Tien itu, kekuasaan Soeharto makin tertopang, baik ketika Soeharto meniti 
kariernya sebagai militer maupun ketika menggantikan Soekarno menjadi presiden. 
Dengan begitu, Bu Tien atas kekuasaan Soeharto mempunyai andil yang cukup besar 
secara spiritual.

        Namun bukan sepenuhnya kekuasaan Soeharto itu diraih dari kehebatannya 
Bu Tien. Soeharto bukan orang yang bodoh, yang kemudian menjadi penguasa hanya 
gara-gara ada wangsit dari Bu Tien. Ia memang orang yang cerdas dan punya 
siasat yang jitu, yang hampir-hampir tak dimiliki sebagian besar rakyat 
Indonesia. Akan tetapi, seperti yang telah terjadi, Soeharto bukanlah seorang 
presiden yang tangguh ketika tanpa Bu Tien. Seperti yang kita ketahui, Soeharto 
makin mengalami kemunduran ketika Bu Tien wafat.

        Seharusnya, begitu Bu Tien wafat pada 28 April 1996, Soeharto sudah 
tidak mau lagi dicalonkan menjadi presiden. Bu Tien sendiri sebenarnya sudah 
pernah menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia, kalau dapat jangan 
mencalonkan Soeharto lagi. Sebab, pada waktu itu usia Soeharto sudah 72 tahun 
dan Bu Tien 70 tahun.

        Jika umur sudah setua itu, dalam tafsir kejawen, sudah saatnya Soeharto 
menyampaikan sabda pandhito ratu.

        Akan tetapi, Soeharto tidak melakukan hal itu, malah ia bersedia 
dicalonkan kembali, sehingga terbukti setelah Bu Tien meninggal, dan pada 70 
hari sesudah MPR mengukuhkan Soeharto sebagai presiden dan B.J. Habibie sebagai 
wakilnya pada 21 Mei 1998, terjadi perubahan besar. Soeharto oleh rakyat 
dipaksa "turun" dari kursi kepresidenannya.

        Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Soeharto tanpa Bu Tien tidak bisa 
jadi presiden. Logikanya seperti yang dikatakan Arwan yang banyak menulis buku 
tentang laku spiritual Soeharto ini, bila wangsit keprabon yang dimiliki Bu 
Tien yang masuk diri Soeharto itu sudah hilang, kekuasaan Sueharto juga akan 
hilang.

        Agnestia Ekawati

        Pemerhati sosial keagamaan pada Jurusan Sosiologi Agama Fakultas 
Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
       


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.7/1232 - Release Date: 18/01/2008 
19:32


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke