Idealisme dan Pragmatisme Dalam Politik (1) Anggapan bahwa politik itu kotor sesungguhnya subyektip karena hanya didasarkan pada pengalaman subyektip di lapangan, bukan politik sebagai konsep budaya. Manusia itu sendiri adalah makhluk politik, zoon politicon, yang padanya ada tabiat kerjasama dan bersaing sekaligus. Manusia menyadari kelemahannya oleh karena itu ia ingin bekerjasama dengan manusia lainnya untuk mempercepat pencapaian tujuan bersama. Tetapi manusia juga memiliki keunikan, yakni setiap orang adalah dirinya, mempunyai fikiran,perasaan dan kehendak yang khas dirinya berbeda dengan yang lain.
Oleh karena itu ketika sedang bekerjasama ada yang benar-benar tulus bekerjasama untuk tujuan bersama, ada yang unik, yaitu memiliki agenda sendiri, ingin mencapai tujuan sendiri diluar tujuan bersama. Sesama orang yang memiliki agenda sendiri mereka bersaing, terkadang secara fair dan tak jarang tidak fair. Dunia politik adalah medan kerjasama yang penuh dengan persaingan; internal apalagi external. Untuk bisa memenangkan persaingan maka setiap kompetitor pasti menggunakan kecerdasannya, karena tanpa kecerdasan orang pasti kalah dalam bersaing. Menurut teori psikoanalisa, ekpressi manusia merupakan sinergi dari tiga pilar kepribadian, id, ego dan super ego, dimensi hewani, dimensi akal dan dimensi moral. Politisi yang berkepribadian hewan maka ia bersaing seperti hewan, serakah, tak sabar dan sadis. Politisi yang mengedepankan akal maka berpolitik secara cerdas, ia bisa bermain cantik dan mampu melakukan rekayasa politik,meski belum tentu bermoral. Sedangkan type politisi yang bermoral, ia hanya bersaing secara fair,berpegang teguh kepada prinsip-prinsip moral, mengacu kepada cita-cita politik yang dituju dan tabah menderita ketika harus melalui tahapan-tahapan yang berat, dan tidak mau melakukan praktek dagang sapi. Sebagai suatu persaingan, kemenangan politik tidak selalu sejalan dengan karakteristik sang politisi. Amin Rais yang Profesor Doktor dalam bidang ilmu politik ternyata tidak dijamin menang dalam politik, sebaliknya ia malah harus melantik Megawati yang tidak sarjana menjadi Presiden menggantikan Gus Dur. Idealisme politik tidak menjamin kemenangan actual, dan memang idealisme justeru menguat ketika sering berhadapan dengan realita politik yang terlalu pragmatis. Dibutuhkan kearifan, kecerdasan, keuletan dan kesabaran serta keberanian dalam menghadapi realitas politik yang cenderung pragmatis. Bayangkan, idealisme politik yang diusung oleh para founding father negeri ini untuk membangun negeri yang adil makmur berdasar falsafah Panca Sila, hingga 62 tahun kemerdekaan RI masih harus bergulat melawan pragmatisme politik yang sarat dengan korupsi dan persekongkolan. Dibutuhkan kecerdasan yang lebih cerdas, yang bukan hanya kecerdasan intelektual. Wassalam, Agussyafii ============================================== Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui [EMAIL PROTECTED] atau http://mubarok-institute.blogspot.com ==============================================

