Ketika AS menularkan resesi

oleh : Kemal Syamsudin
Direktur Eksekutif Institute for National Studies (National Institute)

Krisis minyak dunia telah mengantarkan perekonomian Amerika Serikat 
terjun semakin dalam ke lembah krisis ekonomi. Belum pulih benar dari 
masalah supreme mortgage yang mengguncang industri properti setempat 
dan menggoyang bursa saham New York, perekonomian Amerika Serikat 
harus menghadapi pahitnya kenyataan harga minyak yang terus melambung 
hingga menembus harga US$100 per barrel pada awal tahun ini. 

Resesi ekonomi negara adidaya ini dikhawatirkan mempengaruhi 
perkembangan ekonomi global sepanjang 2008, termasuk perekonomian 
Indonesia. Menyadari dampak buruk resesi yang berkepanjangan Presiden 
Amerika Serikat George Walker Bush telah mengajukan paket pemacu 
perekonomian senilai lebih dari US$140 miliar kepada Kongres. 

Paket ini diharapkan mampu menjadi stimulus perekonomian Amerika 
Serikat sehingga dapat cepat pulih dari hantaman resesi ekonomi. 
Paket yang antara lain berupa insentif pajak kepada masyarakat maupun 
industri itu diyakini mampu meningkatkan jumlah agregat permintaan 
dan penyerapan tenaga kerja, sehingga pada akhirnya dapat mendorong 
laju pertumbuhan ekonominya. Di sini tampaknya harapan itu mampu 
mendorong optimisme pasar, kendati bursa saham New York maupun London 
masih tampak hati-hati menyikapi pengajuan paket stimulus 
perekonomian Bush tersebut. 

Namun yang pasti, di bursa minyak New York, paket ini mampu 
memberikan efek positif berupa turunnya harga minyak sebesar 44 sen 
pasca pengumuman paket yang bakal segera disetujui oleh Kongres itu. 
Penurunan harga minyak tersebut menggenapi turunnya harga minyak 
sepanjang pekan lalu sebesar US$2 per barrel menjadi US$90,57 per 
barrel. 

Di sisi lain resesi ekonomi Amerika Serikat tersebut terlanjur 
menyeret masalah-masalah lain. Bagi perekonomian nasional resesi 
ekonomi negeri Paman Sam ini telah turut andil menekan kurs rupiah. 
Hingga akhir pekan lalu, kurs rupiah tertekan ke kisaran Rp9.470 per 
dolar AS. Kendati tekanan ini dinilai pihak Bank Indonesia hanya 
bersifat temporer, namun tetap tidak dapat diabaikan begitu saja. 

Tekanan terhadap kurs rupiah ini harus tetap diwaspadai mengingat, 
kurs rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tunggal. Selain 
karena faktor eksternal seperti pengaruh dari resesi ekonomi Amerika 
Serikat tadi, melemahnya kurs rupiah saat ini juga lebih banyak 
dipengaruhi oleh faktor-faktor internal perekonomian nasional 
sendiri. 

Tekanan dari sisi internal inilah yang seharusnya lebih banyak 
mendapatkan perhatian. Sebab faktor-faktor yang menyebabkan 
terjadinya tekanan internal ini masih dapat dijangkau oleh otoritas 
moneter melalui kebijakan-kebijakan monternya, maupun oleh pemerintah 
melalui kebijakan-kebijakan fiskal dan politik ekonominya. Tekanan 
dari sisi internal ini terutama muncul dari tingginya laju inflasi 
selama triwulan terakhir 2007, maupun triwulan pertama dan kedua 
2008. 

Laju inflasi yang tinggi akan menyebabkan ekspektasi negatif di pasar 
valuta yang kemudian ditransformasikan menjadi tekanan terhadap kurs 
rupiah. Dengan demikian selama faktor-faktor internal penyebab 
tingginya inflasi dalam negeri belum teratasi, maka tekanan terhadap 
kurs rupiah masih akan belum berakhir. 

Faktor penyebab inflasi yang paling dominan saat ini adalah terus 
naiknya harga bahan pangan, antara lain harga kedelai yang naik 
hingga dua kali lipat. Selain itu bencana banjir di Jawa Tengah dan 
Jawa Timur yang merendam lahan persawahan padi hingga lebih dari 30 
ribu hektare juga memicu ekspektasi negatif, sehingga mendorong 
naiknya harga beras di tingkat konsumen. 

Kelangkaan minyak tanah di berbagai tempat juga mendorong naiknya 
harga barang-barang di tingkat konsumen. Kondisi ini menunjukkan 
berlakunya fenomena domino effect yang sayangnya tidak mendapatkan 
penanganan yang komprehensif dan terpadu dari pemerintah. Penanganan 
yang dilakukan pemerintah tetap saja parsial dan bersifat sesaat, 
seperti keputusan menurunkan bea masuk kedelai hingga nol persen, 
tanpa melakukan pembenahan di sisi hilir maupun tata niaganya. 

Karena itu, kecenderungan melemahnya kurs rupiah karena laju inflasi 
yang tinggi masih akan terus berlanjut sepanjang kuartal pertama 2008 
ini. Tekanan terhadap kurs rupiah akan menjadi lebih ringan bila 
otoritas moneter maupun pemerintah mampu meredam terjadinya kenaikan 
harga barang pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat.



Kirim email ke