Tribun Timur Makassar - Jumat, 25-01-2008  
                                                                
                                
Oleh Ilham Jaya Abdurrauf 
Mahasiswa PPS UIN Alauddin 

                                Isu Islam transnasional akhir-akhir 
ini menjadi wacana publik yang hangat. Menariknya, wacana tersebut 
tidak dipopulerkan oleh "kubu" gerakan Islam transnasional sendiri. 
Isu Islam transnasional justru diangkat ke permukaan oleh gugus 
gerakan Islam kultural. Kendati, sayangnya, dalam konteks yang 
pejoratif. 
                                Kategorisasi gerakan Islam terhadap 
transnasional dan kultural pada awalnya bersifat akademik. 
Kategorisasi tersebut adalah pisau analisis untuk membantu 
menjelaskan fenomena sosial yang berkembang di pelbagai belahan 
dunia Muslim dewasa ini.
                                  
                                Istilah Islam transnasional 
digunakan untuk merujuk pada gerakan Islam yang menjadikan doktrin-
doktrin holistik Islam sebagai poros normatifnya. Sebutan 
transnasional juga karena gerakan ini menjadikan problem-problem 
aktual dunia Muslim umumnya sebagai konsern utama pengentasannya. 

                                Ciri lainnya, pola gerakan Islam 
transnasional tidak dapat dipetakan dalam batas-batas politik 
konvensional. Batas-batas tersebut tidak lagi memadai. Sebab, 
gerakan ini berkembang sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi 
informasi dan transportasi dunia. 

                                Sebaliknya, gerakan Islam kultural. 
Gerakan Islam kultural dicirikan oleh dakwahnya yang lebih banyak 
menekankan doktrin-doktrin lokal Islam. Lantaran itu, gugus gerakan 
ini cenderung menghindari isu-isu global dunia muslim. Sedangkan 
dalam tataran aksi, program-program Islam kultural cenderung 
eksklusif dan elitis. 

                                Belakangan, wacana transnasional dan 
kultural yang tadinya akademik itu berubah politis. Ia menyeruak ke 
diskusi publik dan menjadi bahan kontroversi yang luas. Apa pasal? 
Gerakan transnasional ditengarai berhasil menyedot pangsa pasar 
kader gerakan Islam yang selama ini berbasis kultural. 

                                Islam transnasional dianggap lebih 
menarik simpati generasi muda Islam. Semakin banyak kalangan muda 
Muslim yang mengekpresikan semangat Islam mereka dengan 
mengidentifikasikan diri kepada gugus gerakan Islam transnasional. 

                                Gerakan tarbiyah dan gerakan 
khilafah, dua model yang jadi sorotan. Dua gerakan ini merupakan 
fenomena baru yang turut mewarnai dinamika sosial dan politik di 
tanah air. Utamanya dalam konteks dakwah Islam kontemporer. 

                                Terlepas dari perdebatan seputar 
tesis "perebutan lahan" tersebut, menarik untuk mencermati "magnet" 
Islam transnasional. Modal utama gerakan transnasional sehingga 
mampu menarik simpati sebagian besar generasi muda Muslim. Apalagi, 
model transnasional ini diduga berpeluang menjadi trend Islam yang 
akan semakin dominan di masa depan. 

                                Apakah yang menjadi daya tarik Islam 
transnasional? Beberapa faktor berikut dapat dikemukakan. Pertama, 
doktrin holistik Islam. Gugus gerakan transnasional menawarkan visi 
Islam yang universal dan holistik. Islam ditampilkan sebagai ajaran 
yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam adalah ajaran 
yang shalih likulli zamaan wamakaan (kompatibel untuk setiap waktu 
dan tempat). 

                                Doktrin keswasembadaan ajaran Islam 
ini sangat sejalan dengan gelora idealisme kelompok muda. Apalagi, 
di tengah frustrasi akibat berbagai krisis yang menimpa dunia 
muslim. Artikulasi Islam sebagai rahmatan lil alamin memperoleh 
tempatnya di sini. 

                                Keyakinan ini kemudian diperkokoh 
oleh sejumlah fakta empiris di lapangan. Sukses eksperimen ekonomi 
non-riba, salah satunya. Secara komparatif, prestasi lembaga-lembaga 
keuangan non-riba memang masih "di bawah" dibandingkan dengan 
lembaga keuangan konvensional. Tapi, perkembangan lembaga-lembaga 
keuangan non-riba, dari waktu ke waktu, menunjukkan grafik yang 
terus meningkat. 

                                Kedua, nilai-nilai aktivisme. 
Gerakan transnasional secara konsisten menekankan nilai-nilai 
disiplin, loyalitas dan pendidikan terhadap fungsionarisnya. Dengan 
modal nilai-nilai tersebut, gerakan transnasional menjalankan 
program-programnya secara efektif dan efisien. 

                                Bagi banyak generasi muda Muslim, 
semangat aktivisme ini merupakan daya tarik tersendiri. Mereka 
merasa, longgarnya ikatan-ikatan dalam kebanyakan organisasi Islam 
kultural tidak lagi memadai. Terutama dalam konteks cita-cita 
pengentasan pelbagai permasalahan umat. 

                                Isu-isu seperti pergaulan bebas 
antarjenis kelamin, pakaian yang tidak etis, bunga bank, bid'ah dan 
khurafat, pemerintahan yang korup, hegemoni budaya Barat yang 
anarkhis, dll; adalah masalah-masalah yang menuntut penyelesaian 
segera. Bagi kalangan muda itu, masalah-masalah tersebut tidak 
mungkin dapat dituntaskan lewat gerakan dan format dakwah yang 
longgar. 
                                Dakwah Islam kultural belakangan 
memang terkesan sangat elitis. Fokus gerakannya terbatas pada 
lingkaran intelektual tertentu. Akibatnya, banyak masalah kehidupan 
sehari-hari yang kurang tersentuh atau tidak sama sekali. 

                                Ketiga, orisinalitas dakwah. 
Sebagaimana gerakan reformasi pada umumnya, gerakan transnasional 
juga menekankan pentingnya ijtihad. Ijtihad dipandang sebagai 
komponen vital ajaran Islam. Ia adalah instrumen yang perlu untuk 
menjamin agar ajaran Islam senantiasa dinamis dan aktual. Tapi, 
ijtihad itu harus tetap dalam bingkai kebersinambungan tradisi 
intelektual Islam. 
                                Ijtihad memang memerlukan keberanian 
untuk "keluar" dari kungkungan tradisi. Tapi, tidak semua. Harus 
dipisahkan secara tegas antara nilai-nilai Islam yang partikular 
dengan yang universal. Itupun tidak dengan sembarang standar nilai. 
Standar nilai yang digunakan juga harus berporos pada sumber-sumber 
otoritatif ajaran Islam. 
                                Sangat berbeda, misalnya, dengan 
gerakan modernisme Islam. Perspektif ijtihad yang ditawarkan gerakan 
modernisme Islam banyak mengakomodir nilai-nilai budaya Barat yang, 
notabene sekuler. Tidak heran bila ijtihad versi modernisme Islam 
dinilai cenderung mengarah kepada liberalisme. 

                                Penekanan gerakan transnasional pada 
kontinuitas tradisi intelektual membuahkan hasilnya. Gerakan 
transnasional berhasil menampilkan kekayaan khazanah intelektual 
Islam. Alih-alih memperkenalkan produk budaya luar yang asing ke 
masyarakat. Transnasional justru menonjolkan superioritas tradisi 
Islam. Dengan begitu, ia selalu tampil "lebih islami" di depan 
konstituen muda Muslim. 

                                Ketiga faktor di atas adalah pesona 
Islam transnasional. Ia merupakan pemikat yang banyak menarik minat 
generasi muda Muslim. Faktor-faktor tersebut sudah seharusnya 
menjadi bahan renungan. Baik bagi gugus gerakan Islam kultural 
maupun transnasional. 
                                Wallahu ta'ala a'lam. 



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke