+++++ Nahhh salma pei pei, heibat nggak Tuhannya orang Tiongkok? tuhan kamu 
sudah bikin apa supaya kamu dkk maju? tidur kali ya?
   
   
   
   
   
            Jumat, 25 Januari 2008  NASIONAL                Mendulang Devisa di 
Negeri Orang (2-Habis)  China, Raksasa yang Sedang Menggeliat
           
SM/Soese STAN INDONESIA: Suasana stan sebagian perancang Indonesia di Pameran 
Hong Kong Fashion Week 2008.(30)         CHINA bagai raksasa yang baru bangun 
dari tidur. Geliat perekonomian berkembang pesat bak panah yang dilepas dari 
busurnya. Hampir semua bidang, negeri tersebut mampu ''menyalip'' negara yang 
sudah maju terlebih dahulu. Bidang teknologi, sampai kedokteran menjadi 
''santapan'' para ilmuwan negeri itu untuk terus mengembangkannya dan berhasil. 
  Kecanggihan bidang kedokteran misalnya, mampu mengundang banyak pasien untuk 
berobat dan berikhtiar ke negara yang pernah dijuluki sebagai Negeri Tirai 
Bambu itu. Pasien gagal ginjal yang penyembuhannya harus dicangkok, China 
menjadi pilihan pertama. Selain biaya yang tidak terlalu mahal, pendonor ginjal 
menurut sejumlah informasi mudah didapat. 
  Bidang industri pun bergerak dengan cepatnya. Lihat sepeda motor, keramik, 
lampu, mebel atau busana siap pakai, kini ''menyerbu'' pasar tak terkecuali 
Indonesia. Dan, harga jual pun mampu mengalahkan produk sejenis yang sudah ada, 
lebih murah.
  Industri bidang mode pun kini makin dicari. China menjadi tempat paling 
diminati pembeli luar negeri. Asesories seperti payet, manik-manik yang sepuluh 
tahun lalu masih didominasi produk dari Jepang atau Swiss, kini tersaingi 
dengan harga yang jauh lebih murah dari China. 
  Perusahaan pembuat pakaian bahkan tidak bisa terhitung lagi. Mereka ada yang 
secara legal mendaftarkan perusahaan dengan merek dagang ke pemerintah. Namun 
''pembajak'' alias pembuat baju dengan meniru model yang sudah ada, jumlahnya 
barangkali berlipat-lipat dari yang resmi terdaftar. 
  Jangan kaget, bila jalan-jalan di pusat perbelanjaan di Shenzhen, Guangzhou 
atau kota besar di negara tersebut, menemukan baju, tas atau sepatu dengan 
merek terkenal dengan corak dan warna serupa dijual dengan harga murah. Karena 
barang tersebut memang tidak asli alias palsu.
  Barang-barang murah namun dibuat dengan teknik jahitan yang halus tersebut 
mendorong pengusaha butik di negara-negara tetangga berburu untuk kulakan. 
Pedagang busana dari Indonesia, Malaysia, Filipina atau Singapura adalah 
pembeli yang secara rutin datang. Kota Guangzhou dan Shenzhen menjadi kota 
perburuan mereka. Hotel yang tidak terlalu mahal, tiket pesawat yang 
terjangkau, masih masuk hitungan untuk mendapatkan untung yang lumayan.
  Maria, tetangga sebelah kamar hotel di Guangzhou, mengaku dari Filipina. 
Siang itu di gang depan pintu kamarnya dia sedang mengepak belanjaan tas dan 
baju dalam beberapa dos besar. 
  Baju-baju tersebut dia kirim melalui kapal laut ke negaranya. Di sebelah 
kamar lain seorang pedagang dari ITC Mangga, Titin, juga menunggui seorang 
petugas mengepak barang belanjaannya untuk dikirim ke Indonesia. 
  Fenomena pedagang kulakan di dua tempat itu mulai meningkat sejak lima tahun 
terakhir. Produk fashion dari China kini dengan sangat mudahnya bisa dijumpai 
di pasar pagi dan ITC Mangga Dua Jakarta. Tidak perlu heran jika baju-baju yang 
dijual oleh sebagian pedagang kebanyakan produk China. Hal yang tentunya 
menjadi rambu-rambu bagi pengusaha busana di tanah air. Kelengahan bisa 
berakibat gulung tikarnya pengusaha pakaian jadi, dan tentunya akan menambah 
jumlah pengangguran. 
  Mengapa pedagang memilih membeli produk dari China, hal ini karena berbagai 
pertimbangan. Salah satunya adalah laba yang menjanjikan, serta tidak harus 
dipusingkan model baju dan karyawan. 
  Bersaing Ketat
  Tenaga kerja yang trampil dan murah menjadi faktor mengapa barang yang 
dihasilkan bisa dijual dengan harga minim. Menurut Ny A Bwee, pengusaha dari 
Jakarta yang kali ini menjadi tour leader kami, di China sejak anak masih umur 
enam tahun sudah mulai diajarkan sesuatu. Jika orang tua dan lingkungannya 
berada dalam zona industri mode, maka sejak umur enam tahun itu anak sedikit 
dipaksa untuk bisa menjahit. Maka yang terjadi, meski umur masih muda, tenaga 
kerja yang ada sangat mumpuni, dan harga bisa ditekan seminim mungkin.
  Selain harga jual murah, pengusaha busana dari China dikenal sebagai 
penjiplak nomor wahid di dunia. Anehnya jiplak menjiplak tidak hanya dilakukan 
untuk produk baju merek dari luar negeri . Model busana milik ''tetangga'' 
toko, dalam sekali pandang, sore hari baju serupa sudah terpajang di tokonya.
  Persaingan yang ketat membuat ulah pedagang menjadi sedikit aneh. Itu 
terlihat di pusat grosir pakaian ''Gang 13'', begitu orang Indonesia menyebut 
tempat tersebut. Pusat grosir itu menjadi buruan para tengkulak dari berbagai 
negara, termasuk dari Indonesia. Gedung berlantai 15, mulai lantai bawah sampai 
atas semuanya menjual pakaian. Lantai pertama pedagang menempati aula yang 
dibatasi sekat, lebih ke atas dibuat kotak-kotak berdiding kaca. Yang menarik 
perhatian, setiap kaca toko ditutup korden yang dibentuk lucu-lucu. 
  ''Dengan ditutup korden 'tetangga' tidak bisa melihat langsung model yang 
dijual. Mereka takut dijiplak tetangganya. Peniru itu dinilai sangat lihai. 
Sekali pandang, baju yang hari ini dibawa oleh toko sebelah, besok pagi sudah 
ada di tokonya,'' kata A Bwee.
  Di pusat grosir tersebut jangan berharap bisa membeli baju pada saat itu 
juga. Dengan penjual yang berjumlah ribuan ini hampir semuanya bertransaksi 
dengan cara memesan terlebih dahulu. Baju-baju yang terpajang di rak dan patung 
adalah contoh yang bisa diorder. 
  ''Tetapi kalau barang sudah tersedia jangan mudah percaya begitu saja. Saya 
pernah memercayakan mereka untuk mengirim pesanan, tetapi setelah sampai 
Jakarta disubal barang lama yang tidak sama,'' kata Cik Cek begitu A Bwee biasa 
disapa mengingatkan. 
  Raksasa Mode
  Tidak semua pengusaha mode di China seperti yang ada di Gang 13. Pengusaha 
yang berorientasi ekspor secara legal dengan merek tertentu, menjadikan ''Hong 
Kong Fashion Week'' di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, 14-17 
Januari, sebagai ajang promosi yang menjanjikan. 
  Itu bisa terlihat keikutsertaan mereka pada acara berskala internasional 
tersebut. Dari 1700 peserta, 800 diantaranya dari China. Barang yang ditawarkan 
mulai dari asesoris, jaket, jins, tas juga busana kelas perancang. Satu ruang 
di lantai 7 malahan dikhususkan untuk produk China. Atau di lantai 3, di depan 
stand separo peserta tertulis ''Product China''. Dari ajang pameran terlihat, 
negara itu bisa disebut pula sebagai Raksasa bidang mode. 
  Meski demikian bukan berarti pasar internasional tertutup untuk peserta 
pameran dari luar. Masih banyak peluang untuk meraih pembeli luar.
  ëíJangan menyerah. Belajar pada pengalaman dan mengikuti selera pasar. Buyer 
banyak yang masih mencari produk perancang. Dan itu yang jadi sasaran kamiíí, 
kata Ali Charisma, peserta dari Bali tersebut. Salah satu cara yang dilakukan 
Ali, Oka Diputra dan Florence Liem selain pameran, mereka mengikuti acara 
pergelaran busana.
  ''Kami mengikuti fashion show meski masih dilakukan berbarengan dengan 
peserta lain, bukan peragaan tunggal. Kegiatan itu sangat penting untuk 
menaikkan imej dan menarik buyer'' kata Ali yang mengaku membayar 700 dolar 
Amerika untuk show dan 1300 dolar Amerika membayar stand pameran.
  Cita-cita Ali, suatu saat dia bisa peragaan tunggal, yang menurut informasi 
harus membayar sekitar Rp 100 juta. 
  ''Dengan peragaan tunggal nama dan imej karya saya bisa dikenal lebih luas. 
Dan jika suatu ketika saya ingin mengikuti ajang yang lebih mendunia di Paris 
misalnya, panitia di sana tidak menolak'', katanya.
  Ali Charisma, Dina Midiani, Oka Diputra, Vicky Sutono memang harus berbangga 
hati. Dari ajang tersebut, mereka mendapat respon yang lumayan banyak dari para 
pembeli. Pundi-pundi dolar pun akan mereka raih dalam waktu tiga sampai enam 
bulan mendatang. (Soesetyowati -46) 


   
                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke