Pak Phyllo yb, Kalau ada uang lebih, tolong sisihkan buat Salma agar bisa mengunjungi Somalia, Uganda, Pakistan, dan Bangladesh. Kemudian kirim dia untuk keliling Singapura, Thailand, HK, Korea, Rusia, Eropa dan AS.
Semoga mata dan pikirannya akan lebih terbuka, tidak cuma berguru pada Adian Husaini yang dogmatis dan suka menjelek-jelekkan agama orang lain saja... Tapi tanpa keliling dunia, kalau bacaannya beragam, tentu tidak "segila" itu. salam, rd ----- Original Message ----- From: Phyllobates Terribilis To: [email protected] Sent: Friday, January 25, 2008 9:01 PM Subject: Re: [ppiindia] Re: RAHASIA KAUM MISSIONARIS (PARA PENDETA & PASTOR) YANG TAKUT DIKETAHUI OLEH UMATNYA SENDIRI +++++ Nahhh salma pei pei, heibat nggak Tuhannya orang Tiongkok? tuhan kamu sudah bikin apa supaya kamu dkk maju? tidur kali ya? Jumat, 25 Januari 2008 NASIONAL Mendulang Devisa di Negeri Orang (2-Habis) China, Raksasa yang Sedang Menggeliat SM/Soese STAN INDONESIA: Suasana stan sebagian perancang Indonesia di Pameran Hong Kong Fashion Week 2008.(30) CHINA bagai raksasa yang baru bangun dari tidur. Geliat perekonomian berkembang pesat bak panah yang dilepas dari busurnya. Hampir semua bidang, negeri tersebut mampu ''menyalip'' negara yang sudah maju terlebih dahulu. Bidang teknologi, sampai kedokteran menjadi ''santapan'' para ilmuwan negeri itu untuk terus mengembangkannya dan berhasil. Kecanggihan bidang kedokteran misalnya, mampu mengundang banyak pasien untuk berobat dan berikhtiar ke negara yang pernah dijuluki sebagai Negeri Tirai Bambu itu. Pasien gagal ginjal yang penyembuhannya harus dicangkok, China menjadi pilihan pertama. Selain biaya yang tidak terlalu mahal, pendonor ginjal menurut sejumlah informasi mudah didapat. Bidang industri pun bergerak dengan cepatnya. Lihat sepeda motor, keramik, lampu, mebel atau busana siap pakai, kini ''menyerbu'' pasar tak terkecuali Indonesia. Dan, harga jual pun mampu mengalahkan produk sejenis yang sudah ada, lebih murah. Industri bidang mode pun kini makin dicari. China menjadi tempat paling diminati pembeli luar negeri. Asesories seperti payet, manik-manik yang sepuluh tahun lalu masih didominasi produk dari Jepang atau Swiss, kini tersaingi dengan harga yang jauh lebih murah dari China. Perusahaan pembuat pakaian bahkan tidak bisa terhitung lagi. Mereka ada yang secara legal mendaftarkan perusahaan dengan merek dagang ke pemerintah. Namun ''pembajak'' alias pembuat baju dengan meniru model yang sudah ada, jumlahnya barangkali berlipat-lipat dari yang resmi terdaftar. Jangan kaget, bila jalan-jalan di pusat perbelanjaan di Shenzhen, Guangzhou atau kota besar di negara tersebut, menemukan baju, tas atau sepatu dengan merek terkenal dengan corak dan warna serupa dijual dengan harga murah. Karena barang tersebut memang tidak asli alias palsu. Barang-barang murah namun dibuat dengan teknik jahitan yang halus tersebut mendorong pengusaha butik di negara-negara tetangga berburu untuk kulakan. Pedagang busana dari Indonesia, Malaysia, Filipina atau Singapura adalah pembeli yang secara rutin datang. Kota Guangzhou dan Shenzhen menjadi kota perburuan mereka. Hotel yang tidak terlalu mahal, tiket pesawat yang terjangkau, masih masuk hitungan untuk mendapatkan untung yang lumayan. Maria, tetangga sebelah kamar hotel di Guangzhou, mengaku dari Filipina. Siang itu di gang depan pintu kamarnya dia sedang mengepak belanjaan tas dan baju dalam beberapa dos besar. Baju-baju tersebut dia kirim melalui kapal laut ke negaranya. Di sebelah kamar lain seorang pedagang dari ITC Mangga, Titin, juga menunggui seorang petugas mengepak barang belanjaannya untuk dikirim ke Indonesia. Fenomena pedagang kulakan di dua tempat itu mulai meningkat sejak lima tahun terakhir. Produk fashion dari China kini dengan sangat mudahnya bisa dijumpai di pasar pagi dan ITC Mangga Dua Jakarta. Tidak perlu heran jika baju-baju yang dijual oleh sebagian pedagang kebanyakan produk China. Hal yang tentunya menjadi rambu-rambu bagi pengusaha busana di tanah air. Kelengahan bisa berakibat gulung tikarnya pengusaha pakaian jadi, dan tentunya akan menambah jumlah pengangguran. Mengapa pedagang memilih membeli produk dari China, hal ini karena berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah laba yang menjanjikan, serta tidak harus dipusingkan model baju dan karyawan. Bersaing Ketat Tenaga kerja yang trampil dan murah menjadi faktor mengapa barang yang dihasilkan bisa dijual dengan harga minim. Menurut Ny A Bwee, pengusaha dari Jakarta yang kali ini menjadi tour leader kami, di China sejak anak masih umur enam tahun sudah mulai diajarkan sesuatu. Jika orang tua dan lingkungannya berada dalam zona industri mode, maka sejak umur enam tahun itu anak sedikit dipaksa untuk bisa menjahit. Maka yang terjadi, meski umur masih muda, tenaga kerja yang ada sangat mumpuni, dan harga bisa ditekan seminim mungkin. Selain harga jual murah, pengusaha busana dari China dikenal sebagai penjiplak nomor wahid di dunia. Anehnya jiplak menjiplak tidak hanya dilakukan untuk produk baju merek dari luar negeri . Model busana milik ''tetangga'' toko, dalam sekali pandang, sore hari baju serupa sudah terpajang di tokonya. Persaingan yang ketat membuat ulah pedagang menjadi sedikit aneh. Itu terlihat di pusat grosir pakaian ''Gang 13'', begitu orang Indonesia menyebut tempat tersebut. Pusat grosir itu menjadi buruan para tengkulak dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Gedung berlantai 15, mulai lantai bawah sampai atas semuanya menjual pakaian. Lantai pertama pedagang menempati aula yang dibatasi sekat, lebih ke atas dibuat kotak-kotak berdiding kaca. Yang menarik perhatian, setiap kaca toko ditutup korden yang dibentuk lucu-lucu. ''Dengan ditutup korden 'tetangga' tidak bisa melihat langsung model yang dijual. Mereka takut dijiplak tetangganya. Peniru itu dinilai sangat lihai. Sekali pandang, baju yang hari ini dibawa oleh toko sebelah, besok pagi sudah ada di tokonya,'' kata A Bwee. Di pusat grosir tersebut jangan berharap bisa membeli baju pada saat itu juga. Dengan penjual yang berjumlah ribuan ini hampir semuanya bertransaksi dengan cara memesan terlebih dahulu. Baju-baju yang terpajang di rak dan patung adalah contoh yang bisa diorder. ''Tetapi kalau barang sudah tersedia jangan mudah percaya begitu saja. Saya pernah memercayakan mereka untuk mengirim pesanan, tetapi setelah sampai Jakarta disubal barang lama yang tidak sama,'' kata Cik Cek begitu A Bwee biasa disapa mengingatkan. Raksasa Mode Tidak semua pengusaha mode di China seperti yang ada di Gang 13. Pengusaha yang berorientasi ekspor secara legal dengan merek tertentu, menjadikan ''Hong Kong Fashion Week'' di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, 14-17 Januari, sebagai ajang promosi yang menjanjikan. Itu bisa terlihat keikutsertaan mereka pada acara berskala internasional tersebut. Dari 1700 peserta, 800 diantaranya dari China. Barang yang ditawarkan mulai dari asesoris, jaket, jins, tas juga busana kelas perancang. Satu ruang di lantai 7 malahan dikhususkan untuk produk China. Atau di lantai 3, di depan stand separo peserta tertulis ''Product China''. Dari ajang pameran terlihat, negara itu bisa disebut pula sebagai Raksasa bidang mode. Meski demikian bukan berarti pasar internasional tertutup untuk peserta pameran dari luar. Masih banyak peluang untuk meraih pembeli luar. ëíJangan menyerah. Belajar pada pengalaman dan mengikuti selera pasar. Buyer banyak yang masih mencari produk perancang. Dan itu yang jadi sasaran kamiíí, kata Ali Charisma, peserta dari Bali tersebut. Salah satu cara yang dilakukan Ali, Oka Diputra dan Florence Liem selain pameran, mereka mengikuti acara pergelaran busana. ''Kami mengikuti fashion show meski masih dilakukan berbarengan dengan peserta lain, bukan peragaan tunggal. Kegiatan itu sangat penting untuk menaikkan imej dan menarik buyer'' kata Ali yang mengaku membayar 700 dolar Amerika untuk show dan 1300 dolar Amerika membayar stand pameran. Cita-cita Ali, suatu saat dia bisa peragaan tunggal, yang menurut informasi harus membayar sekitar Rp 100 juta. ''Dengan peragaan tunggal nama dan imej karya saya bisa dikenal lebih luas. Dan jika suatu ketika saya ingin mengikuti ajang yang lebih mendunia di Paris misalnya, panitia di sana tidak menolak'', katanya. Ali Charisma, Dina Midiani, Oka Diputra, Vicky Sutono memang harus berbangga hati. Dari ajang tersebut, mereka mendapat respon yang lumayan banyak dari para pembeli. Pundi-pundi dolar pun akan mereka raih dalam waktu tiga sampai enam bulan mendatang. (Soesetyowati -46) --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.11/1242 - Release Date: 24/01/2008 20:32 [Non-text portions of this message have been removed]

