Renungan Sairara:
   
   
  KALAU BERBICARA SOAL ETNIK
   
   
  Dalam sepucuk surat listriknya, seorang sahabat dekatku memberitahukan 
kepadaku bahwa "Pernah ada yang mengatakan langsung kepadaku bahwa JJ Kusni 
lebih cenderung memperjuangkan kepentingan Dayak daripada kepentingan 
Indonesia". 
   
   
  Menjawab pernyataan ini, sahabat dekatku itu tanpa keraguan sedikit pun  
langsung menjawab dengan caranya  bahwa " Aku rasa  pandanganmu kurang teliti. 
Karena JJ Kusni tidak pernah memisahkan perjuangan Dayak dengan kepentingan 
Dayak,  Indonesia dan kemanusiaan. Kusni yang kukenal adalah anak naga putera 
dunia. Penilaianmu tentang Kusni semata berangkat dari prasangka dan 
ketidaktahuan, apa siapa dia, apa bagaimana riwayat dan latarbelakangnya. Benar 
ia banyak berbicara tentang Dayak, tetapi juga ia tidak sedikit berbicara 
tentang etnik Tionghoa yang menjadi bagian dari hidupnya juga sebagaimana 
kedekatannya dengan etnik Batak dan Jawa".
   
   
  Maaf, aku sedikit berbicara tentang diriku. Narsistik? Mengiklankan dirikah? 
Aku tidak pernah mau dan rela memperdagangkan diriku. Apalagi yang ingin 
kuangkat dari kejadian ini bukan diriku tapi pertanyaan di mana  tempat etnik 
dalam konteks keindonesiaan, dan sebagai anak manusia, putera-puteri dunia. 
   
   
  Tudingan bahwa aku terlalu etnik sentris begini, bukanlah baru  pertama kali 
terjadi. Karena berbicara soal Dayak,  aku pernah dibilang "kurang ngindo" 
bahkan "rasis". Tudingan serius, tapi membuatku ngakak dan tak kulayani sama 
sekali, karena kuanggap seperti ujar sahabatku di atas, pernyataan dan tudingan 
yang berangkat dari ketidaktahuan dan sembrono. Bahkan ada ketidakjelasan pada 
dirinya tentang hubungan antara etnik, Indonesia dan anak dunia serta 
kemanusiaan. Jika diusut-usut pernyataan asal ucap subyektif begini sebenarnya 
mencerminkan suatu konsep sangat sempit , kurang paham tentang makna Republik 
dan  Indonesia serta makna universalitas kemanusiaan. Aku jadi kepingin melihat 
wajah orang yang menudingku itu, melihat matanya. Ingin tahu riwayatnya yang 
mengesankan diri sangat Indonesia tapi kuragukan bahwa ia tahu makna Indonesia 
yang "bhinneka" dan memilih nilai republiken serta republik sebagai bentuk 
negara guna mewujudkan nilai tersebut. 
   
   
  Malangnya, sepanjang kekuasaan Orde Baru, republik dan Indonesia diperosotkan 
jadi kerajaan. NKRI disempitkan jadi keniscayaan sentralisme , kekuasaan Jawa,  
dan Jawanisasi , paling tidak di kampung dan pulauku:Kalimantan!  Membuka jalan 
penjajahan bangsa oleh bangsa sendiri sehingga muncul gerakan kemerdekaan di 
beberapa pulau dan mau menenggelamkan Republik Indonesia. Menempatkan bangsa 
dan negeri di ujung tanduk.
   
   
  Aku masih ingat benar, betapa di Kalteng kalau orang Dayak menggunakan 
istilah Dayak,  belum apa-apa sudah dituding sebagai mau memisahkan diri dari 
Republik Indonesia dan mengembangkan separatisme.  Berbicara tentang soal etnik 
dijadikan sarana penindasan sementara ketidakadilan, perampokan  kekayaan pulau 
dan perusakan lingkungan dilakukan tanpa kendali.  Sungguh tak kepalang. Hutan 
perawan jadi padang pasir sejauh mata memandang. Sungai penuh air raksa 
melampaui ambang batas. Demi emas!  Terlalu panjang membeberkan data-datanya di 
sini. Di Akademi Kaharingan Palangka Raya, orang Dayak diwajibkan belajar 
bahasa Bali, budaya Kaharingan dipadankan dengan agama Hindu. Apa bedanya 
keadaan ini dengan politik "ragi usang" kolonial Belanda dulu. Apakah 
membicarakan soal ini, akan menjadi terlalu etniksentris dan bicara Indonesia 
secara ngambang melupakan kenyataan di depan mata?
   
   
  Berbicara mengenai masalah etnik, kukira bukanlah suatu kesalahan dan tidak 
bertentangan dengan kepentingan Indonesia, karena bukanlah suatu isapan jempol 
dan sudah jadi pengetahuan umum bahwa Indotnesia terdiri dari ratusan etnik. 
Tidak mengakuinya sama dengan tidak mengakui Indonesia. Pencantuman "bhinneka 
tunggal ika" di ekor lambang garuda, kukira merupakan pengakuan legal atas 
kenyataan ini dari "founding fathers" RI.  Mengapa anakcucu "founding fathers" 
RI sekarang malah ada kecenderungan tidak menggubrisnya? Ketidakacuhan, 
ketidaktahuan atau pengkhianatan moral dan idealkah ini? Jika setia pada ide 
perekat yaitu nilai-nilai republiken dan keindonesiaan, kukira orang tidak akan 
gegabah berkata bahwa ketika ada orang lain berbicara soal etnik. Jika paham 
arti republik dan Indonesia kukira, ia tidak akan dengan gampang menuding yang 
berbicara tentang soal etnik lalu dituding anti NKRI, menggerakkan separatisme, 
etnik sentris, tidak "ngindo", dan sejenisnya.... yang
 berbau represif. Ketidak tahuan memang gampang menjadi sarang fanatisme. NKRI 
sentralistik pun bisa difanatikkan. Jika berbicara secara terbalik maka bisa 
dikatakan bahwa   yang menuding inilah yang tidak paham arti Republik dan 
Indonesia. Karena berbicara soal etnik , sama dengan berbicara tentang Republik 
dan Indonesia jika mau jujur dan setia pada kenyataan. Tidak ada Indonesia 
tanpa adanya etnik-etnik. Adanya ratusan etnik merupakan kenyataan negeri dan 
bangsa ini. Kita saja yang tak tahu diri dan tak sadar sampai menggunakan 
istilah ada warga negara keturunan dan SBKRI, keadaan yang mengingatkan aku 
akan pendapat sobatku yang sosiolog lulusan Cornel University [Amerika Serikat] 
bahwa naik panggungnya Soeharto membawa Indonesia mundur ke zaman VOC.  
   
   
  Melihat keadaan komunitas Dayak, ketika aku bekerja di Kalteng sebagai guru 
kecil di sebuah universitas, maka selalu kutulis di berbagai media cetak, 
kuucapkan di wawancara tivi, kuungkapkan di berbagai kesempatan bahwa Dayak 
tidak lain dari   lambang  keterpurukan saja.Dayak ada di mana-mana. Dayak itu 
adalah Indonesia. Dayak adalah nama yang merangkum Dayak dan yang senasib 
dengan Dayak. Inilah arti Dayak hari ini. Dayak Kekinian, Dayak Moderen adalah 
Indonesia dan anak dunia. Untuk menjelaskan pandanganku, aku berangkat dari 
budaya dan simbol-simbok Dayak agar lebih komunikatif, sekaligus merevitalisasi 
budaya lokal atau budaya etnik.  Aku tidak menolak pelestarian budaya, dalam 
artian registrasi, tapi aku lebih menitik beratkan pada revitalisasi 
berdasarkan registrasi. Revitalisasi membuat budaya lokal jadi tanggap zaman 
dan apresiatif. Revitalisasi adalah proses kerja mere-evaluasi dan kreatif , 
menyeleksi dan membuat kita tetap tak lepas akar. 
   
   
  Indonesia yang republiken dan moderen, kukira patut memperhatikan masalah 
dirinya yang multi etnik dan multi kultural. Indonesia dan republik itu sendiri 
sesungguhnya bersifat moderen. Tanggap zaman.  Barangkali jika ada orang 
Indonesia yang tidak mengindahkan kebhinnekaan ini, bisa dipertanyakan apakah 
ia mengerti arti Indonesia dan republik. Republik adalah rumah betang [rumah 
panjang] semua etnik  dengan budaya betangnya. Politik "memperhatikan Indonesia 
Timur] kukira bukan perumusan tepat karena ia tidak mencerminkan adanya politik 
etnik dari penyelenggara negara. Perumusan begini, lebih berlatar keterpaksaan 
politis, demagogi dan atau retorika menyiram air di api. Tidak menyentuh 
hakekat keindonesiaan dan republik. Politik etnik dan kebudayaan niscayanya 
mengejawantahkan kebhinnekaan bangsa. Adakah sekarang politik etnik dan 
kebudayaan itu?  Kalau ada, apa bagaimana kongkretnya?
   
   
  Kalau kita berbicara soal etnik atau daerah, aku melihatnya juga dari sisi 
bahwa jika kita ingin melakukan sesuatu secara nyata bagi Indonesia, jika kita 
ingin mengejawantahka nilai-nilai republiken dan mewujudkan kemanusiaan serta 
pemanusiawian manusia, kukira kita perlu berangkat dari satu titik nyata, bukan 
di awang-awang. Titik nyata itu adalah daerah dan wilayah etnik serta di suuatu 
etnik kongkret. Hal ini tidak berarti aku sepakat dengan dengan "bertindak 
lokal berpikir global" karena pada galibnya aku melihat bertindak dan berpikir 
itu pun juga harus global. Secara nyata kita bertindak di suatu titik /lokal 
tapi dengan satu dan lain cara juga , secara bersamaan kita melakukan tindakan 
global. Menggalang solidaritas, menarik perhatian , melakukan lobbi 
internasional untuk pemanusiawian diri dan manusia, kukira merupakan ujud 
kongkret dari bertindak global. Bertindak dan berpikir global, dengan syarat 
tekhnologi seperti sekarang sangat dipermudah dan dimungkinkan. 
   
   
  Dari pengalaman dan memaca sejarah etnik, terutama etnik Dayak, aku melihat 
benar bahwa pemberdayaan suatu etnik tidak bisa diharapkan dengan bersandar 
pada orang luar daerah. Sesuai dengan situasi sekarang maka ketika berada di 
lapangan, maka untuk menjawab zaman aku sering anjurkan: "Jadilah Dayak 
Kekinian dan Dayak Bermutu". Seperti kukatakan di atas, kata Dayak bisa diganti 
dengan nama etnik mana saja karena Dayak, selain Dayak itu sendiri adalah nama 
bagi yang senasib dengan Dayak. Etnik sentriskah pandangan begini? Perlu 
dicatat bahwa aku membedakan tiga istilah  yaitu "etnosentris, etnosentrisme 
dan etnik sentris!]. Bisakah kita berbicara tentang Indonesia dengan 
mengabaikan eksistensi etnik-etnik? Jika demikian, aku sangat khawatir, bahwa 
mayoritas  akan bersimaharajalela dengan mengatasnamai Indonesia dan Repbulik 
seperti yang selama ini terjadi. Lalu Indonesia pun jadi hutan belantara dengan 
hukumnya. Jika menggunakan istilah para politikolog Perancis , keadaan
 begini disebut sebagai "diktatur mayoritas" dan "demokrasi diktatur".  
Demokrasi akhirnya jadi kekerasan dan penindasan bukan demokrasi lagi. 
Demokrasi menjadi anti demokrasi. 
   
   
  Jalan pilihan Indonesiakah ini? -- tentu saja Indonesia dalam arti kata 
sepenuhnya!. Jika memang demikian, maka  aku tetap bersitahan, tetap  tak 
mengobah pandanganku tentang Dayak Moderen, Dayak Kekinian dan Dayak Bermutu 
guna mewujudkan demokrasi dari bawah.  
   
   
  Kalau tak salah baca,  sebenarnya kampung-kampung kita, agaknya mempunyai 
alternatif demokrasi yang berbeda dengan demokrasi Barat. Apakah kita sudah 
menelusurinya ulang, pada saat kita sudah terlanjur menyamakan modernisasi 
dengan Baratisasi? Sekedar pertanyaan dan renungan untuk diriku sendiri sebelum 
memastikan.***
   
   
  Paris, Musim Dingin 2008
  -----------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris.

       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke