artikel lama, yah karena memang 'asongan' orang2 liberal khan itu2 ajah, bahan 
lama nan basi. Jadi supaya ingatan teman2 muslimin selalu segar dan selalu bisa 
waspada dg bahaya kemunafikan yg diembuskan oleh murid2 orientalis barat ini! 
semoga bermanfaat..


                                        “Hamka dan Pluralisme Agama”            
                                                        
                                                                
                                        
                                                
                                
                                                        
                                
                                        
                        
                                                
                        
                        
                
                                        
                                
                                        Senin, 04 Desember 2006                 
        
                        
                                        
                        
                                var sburl8655 = window.location.href; var 
sbtitle8655 = document.title;var sbtitle8655=encodeURIComponent("“Hamka dan 
Pluralisme Agama”"); var 
sburl8655=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3932";);
 sburl8655=sburl8655.replace(/amp;/g, 
"");sburl8655=encodeURIComponent(sburl8655);Hamka, pernah
mundur dari Ketua MUI daripada harus menarik fatwa haramnya merayakan
“Natal Bersama” . Apalagi mendukung ‘Pluralisme Agama’ Baca CAP Adian Husaini 
ke-172


  Oleh: Adian Husaini
  

Pada Selasa, 21 Nopember 2006, Syafii Maarif  menulis kolom resonansi di 
Republika yang berjudul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 
Al-Maidah”. Hari  itu,
saya sedang di Gresik mengisi acara kajian tentang Islam Liberal di
Pesantren Maskumambang Gresik, Jawa Timur. Mulai pagi hingga malam
hari, bertubi-tubi SMS masuk ke HP saya yang mempersoalkan isi tulisan
Syafii Maarif tersebut. Rabu paginya, 
  setibanya
di Jakarta, saya baru sempat membaca tulisan Syafii Maarif. Setelah
saya cek ke Tafsir al-Azhar, karya Buya Hamka, seperti  yang
dirujuk Syafii Maarif, memang ada sejumlah hal yang perlu diperjelas
dari tulisan Syafii, agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru
terhadap sosok Prof. Hamka, ulama terkenal yang legendaris.
  Pluralisme
Agama tampaknya memang sudah menjadi alat penghancur aqidah Islam yang
sangat intensif disebarkan ke berbagai pelosok. Kamis (30 November
2006), malam, seseorang yang tinggal di satu kota kecil di propinsi
Banten, menelepon saya dan meminta untuk datang ke kota itu karena baru
saja diselenggarakan satu seminar yang menyebarkan paham “Pluralisme
Agama”. 
Ayat
Al-Quran yang dibahas Syafii Maarif memang saat ini sedang 
gencar-gencarnya disosialisasikan oleh kalangan pendukung paham
Pluralisme Agama untuk menjustifikasi paham Pluralisme Agama, bahwa
semua agama adalah merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang
satu. Tidak peduli siapa pun nama dan sifat Tuhan itu ; dan tidak
peduli bagaimana pun cara menyembah Tuhan itu. 
  Dalam
bahasa Nurcholish Madjid: ‘’bahwa setiap agama sebenarnya merupakan
ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu
adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama.’’
Dalam bukunya,  The World’s Religions, Huston
Smith juga menulis satu sub-bab berjudul “Many Paths to the Same
Summit”. Ia menulis: “Truth is one; sages call it by different names.”
(Kebenaran memang satu; orang-orang bijak menyebutnya dengan nama yang
berbeda-beda). 
Jadi,
dalam pandangan Pluralisme Agama – versi transendentalisme – ini, tidak
ada agama yang salah, dan tidak boleh satu pemeluk agama yang mengklaim
hanya agamanya sendiri sebagai jalan satu-satunya menuju Tuhan.
Kalangan Pluralis kemudian mencari-cari dalil dalam kitab sucinya
masing-masing untuk mendukung paham ini. Yang dari kalangan Islam
biasanya menjadikan QS 2:62 dan 5:69 untuk menjustifikasi pandangannya.
Kalangan Hindu pluralis, misalnya,  biasanya suka mengutip Bagawad Gita IV:11: 
“Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”  
  Tentu
saja, legitimasi paham Pluralisme Agama dengan ayat-ayat tertentu dalam
kitab suci masing-masing agama mendapatkan perlawanan keras dari
masing-masing agama. Tahun 2000, Vatikan telah menolak Paham Pluralisme
dengan mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’. 
  Tahun 2004, seorang pendeta Kristen di Malang menulis buku serius tentang 
paham Pluralisme Agama berjudul: “Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman 
Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini”.  Tahun
2005, MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham Pluralisme Agama.
Dan tahun 2006, Media Hindu juga menerbitkan satu buku berjudul “Semua Agama 
Tidak Sama.”  Buku
ini juga membantah penggunaan ayat dalam Bhagawat Gita IV:11 untuk
mendukung paham penyamaan agama yang disebut juga dalam buku ini
sebagai paham Universalisme Radikal’. 
Penyalahgunaan
    Di
kalangan kaum Pluralis agama yang beragama Islam, QS 2:62 dan 5:69
biasanya dijadikan legitimasi untuk menyatakan, bahwa umat beragama apa
pun, asalkan beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir, serta berbuat baik
terhadap sesama manusia, maka dia akan mendapat pahala dari Allah dan
masuk sorga. Tidak pandang agamanya apa, Tuhannya siapa, dan bagaimana
cara menyembah Tuhannya. Karena itu, untuk mendapatkan keselamatan di
akhirat, kaum Yahudi dan Kristen, misalnya, tidak perlu beriman kepada
Nabi Muhammad saw. Untuk mencari legitimasi, yang sering dijadikan
rujukan adalah ‘Tafsir al-Manar’-nya yang ditulis oleh Rasyid Ridha. 
Prof. Abdul Aziz Sachedina, misalnya, dalam satu artikelnya berjudul “Is 
Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic  
self-identification”,
menyatakan: “Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman kepada kenabian
Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan untuk
diselamatkan, dan  karena itu, ini secara implisit  menetapkan validitas kitab 
Yahudi dan Kristen. 
    Sachedina
dan sejumlah Pluralis lainnya tidak cermat dan tidak lengkap dalam
mengutip Tafsir al-Manar, sehingga berkesimpulan seperti itu. Padahal,
dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul
Kitab (Yahudi dan Nasrani), disebutkan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah
membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka yang dakwah
Nabi Muhammad saw tidak sampai. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah
Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), Rasyid Ridha
menetapkan lima syarat keselamatan, diantaranya: (1) beriman kepada
Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan  
kemusyrikan
dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan,
(2) beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. 
Al-Manar
juga menyebutkan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani, tidak bisa disebut ahl
al-fathrah, yang berhak memperoleh keselamatan dan tidak ada alasan
pemaaf yang bisa membebaskan mereka dari hukuman (lâ 'udzr lahum dûn 
al-'uqûbah), karena mereka masih dapat mengenali ajaran kenabian yang benar. 
    Dengan
logika sederhana sebenarnya kita bisa memahami, bahwa untuk dapat
"beriman kepada Allah" dan Hari Akhirat dengan benar dan beramal saleh
dengan benar, sebagaimana disyaratkan dalam QS 2:62-dan 5:69, seseorang
pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw, yaitu Nabi Muhammad saw.
Sebab, dalam konsep keimanan Islam, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat
mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Juga,
hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara
beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi
Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah degan
benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu
melalui rasul-Nya.
Pendapat Hamka
  Pendapat
Hamka tentang keselamatan kaum non-Muslim dalam pandangan Islam
sebenarnya juga tidak berbeda dengan para mufassir terkemuka  yang lain. 
Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62  dan
5:69. Karena itu, Hamka memandang, ayat itu tidak bertentangan dengan
QS 3:85 yang menyatakan: "Dan barangsiapa yang mencari selain dari
Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima
daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi."
Jadi, QS 3:85 tidak menasakh QS 2:62 dan 5:69 karena memang maknanya sejalan.
Alasan
Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 – sebagaimana juga
dikutip Syafii Maarif – bahwa "Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh)
ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab
hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya
kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasulnya
dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w.
dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih." 
Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun,  akan
bisa mendapatkan pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman
kepada segala firman Allah, termasuk Al-Quran, dan beriman kepada semua
nabi dan rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika seseorang beriman
kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah
memeluk agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun
yang tidak beriman kepada Allah, Al-Quran, dan Nabi Muhammad saw,
meskipun dia mengaku secara formal beragama Islam, tetap tidak akan
mendapatkan keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang sejalan dengan makna
QS 2:62 dan 5:69. 
Soal
keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan Al-Quran itulah yang sejak awal
ditolak keras oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi menolak
mengimani Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Dan kaum Nasrani menolak
untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kaum Muslim mengimani
Nabi Musa, Nabi Isa, dan juga Nabi Muhammad saw, sebagai penutup para
Nabi.    
Hamka
adalah sosok ulama yang gigih dalam membela aqidah Islam. Tahun 1981,
dia memilih mundur dari Ketua Majlis Ulama Indonesia, daripada harus
menarik kembali fatwa haramnya merayakan Natal Bersama bagi umat Islam.
Beberapa hari kemudian, beliau meninggal dunia. Sosok Hamka sangat jauh
bedanya dengan para pengusung paham Pluralisme Agama.  Hamka sangat tegas dalam 
masalah keimanan. 
Dalam catatan ini, kita pernah mengutip satu tulisan Buya Hamka yang berjudul: 
“Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.”  Di
situ, Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama
bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi akan
menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka memberikan
komentar tentang usulan akan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul
Fithri bersama, karena waktunya berdekatan. 
    Hamka menulis:  “Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’
bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana
tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw
dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi
Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab
suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak,  baik
orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang
Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu
ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal
yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada
hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka, kedua belah
pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang
dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak,
tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad
saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang
Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak,
sebab kalau diterima, kita tidak Kristen lagi.  Dalam hal
kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta
menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di
atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan
selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.” 
Kita perlu menggarisbawahi  ungkapan Buya Hamka, bahwa “dalam hal kepercayaan 
tidak ada toleransi.” 
Ya,
tentu kita maklum, bahwa dalam soal keyakinan memang tidak ada
kompromi. Jika kita yakin bahwa Iblis adalah musuh yang nyata, maka
tidak mungkin kita juga mengakuinya sebagai teman akrab. Jika seorang
Muslim  yakin bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib,
maka tidak mungkin pada saat yang sama dia juga meyakini konsep
trinitas dalam Kristen. Lakum dinukum waliya din. Bagi kami
agama kami, bagi anda agama anda. Demikianlah sikap yang diajarkan
dalam Al-Quran. Kita menghormati keyakinan orang lain, tanpa mengurangi
keyakinan kita sebagai seorang Muslim. (Depok, 1 Desember 
2006/www.hidayatullah.com).






      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke