Tulisan yang mencerahkan,mas. Terimakasih..
Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sains Islami atau Pseudo-Sains?
Oleh Andriyansyah
25/06/2007
Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan.
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara mencocok-cocokan atau
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang
teknik maupun sosial.
Selalu ada kecenderungan unik dari pola pikir fundamentalisme agama. Para
fundamentalis Islam misalnya, sangat giat mengampanyekan Islam yang
syâmil-mutakâmil (mencakup segala sesuatu). Mereka juga senang merujukkan
berbagai penemuan ilmiah mutakhir para ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang
sudah berpreseden dalam Islam. Kita kerap mendengar bidang-bidang keilmuan
seperti astronomi, kimia, fisika, geografi dan sejarah, dikait-kaitkan
dengan nama-nama ilmuwan Islam Abad pertengahan seperti al-Biruni,
al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan lainnya.
Perilaku ini ingin menegaskan satu hal: kemajuan ilmu pengetahuan Barat
tergantung sepenuhnya atau kelanjutan saja dari era gemilang peradaban
Islam. Dengan kata lain, peradaban Barat yang kini maju, berhutang besar
pada Islam masa lampau. Benar, dulu Barat sempat berhutang besar pada
Islam. Benar juga bahwa peradaban Islam pernah unggul di bidang ilmu
pengetahuan berkat penemuan-penemuan para sarjana Muslim. Namun, kaum
fundamentalis kurang menyadari bahwa kemajuan Barat saat ini bukanlah hasil
jiplakan sekali jadi. Ia merupakan akumulasi dari proses penemuan dan
pengembangan yang tiada henti.
Kecenderungan lain adalah: anggapan bahwa sains yang benar adalah yang
bersumber dari Alquran, atau sekurang-kurangnya punya kesesuaian dengan
Alquran. Ini adalah klaim penolakan terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan.
Dengan kata lain, sains yang dianggap benar adalah yang berakar dan tidak
bertentangan dengan wahyu. Lalu, munculah buku-buku yang mengulas
keterkaitan sains tertentu dengan Alquran ataupun Hadits. Buku-buku
tersebut bercorak geneologis. Artinya, berusaha mencari akar pengetahuan
itu sampai kepada penemu di lingkungan Islam.
Interaksi Peradaban
Yang perlu dicatat, kemajuan peradaban Islam klasik tidaklah berdiri
sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang dinamis dengan peradaban lain
seperti Yunani, Mesir, Persia dan India. Tokoh-tokoh ilmuwan Islam masa itu
sangat rajin berdialog dengan cara mempelajari peradaban lain. Kesan
terbuka, toleran dan pluralis, amat menonjol dalam karakter ilmuwan Islam
masa itu. Karakter tersebut jelas-jelas berseberangan dengan karakter kaum
fundamentalis yang ingin memajukan Islam dengan jalan menutup diri dan
bahkan berkonfrontasi.
Dalam literatur ilmuwan Islam masa silam, jarang sekali ditemukan
tulisan-tulisan yang bernada menyerang atau membeda-bedakan diri dengan
peradaban lain. Dalam ungkapan Hasan Hanafi, persoalan anâ (ego) dan
al-âkhar (the other), bukanlah aspek pembedaan yang penting dalam ilmu
pengetahuan. Yang paling menonjol justru semangat ekumenis dan persatuan.
Orang-orang semacam al-Farabi dan Ibnu Sina selalu berupaya mendekatkan
nabi-nabi besar dengan para filosof Yunani.
Keanehan lain pemikiran fundamentalis: mereka hanya memuji para ilmuwan
Islam dari aspek penemuan ilmiahnya. Dalam segi agamanya, mereka justru
dijelek-jelekan. Tuduhan-tuduhan sesat, heterodoks dan sinkretis, kerap
kali dialamatkan pada para filosof dan ilmuwan Islam itu. Kontradiksi ini
memang cukup aneh. Di satu sisi, mereka ingin sekali mengklaim kemajuan
Barat berkat jasa Islam. Tapi, ketika tahu bahwa kemajuan Islam merupakan
buah karya para filosof liberal dan inklusif, mereka segera menarik klaim
dan menyatakan bahwa para filosof itu sesat dan menyimpang dari ortodoksi
Islam.
Lalu muncullah ide baru yang lebih dianggap valid untuk menjawab
kontradiksi: Alquranlah yang sesungguhnya menjadi sumber kemajuan ilmu
pengetahuan yang dikembangkan oleh ilmuwan Islam itu. Beragam argumen
dikemukakan untuk meyakinkan bahwa Alquran telah mengajarkan astronomi,
farmasi, geografi, fisika, dan lain sebagainya.
Para apolog-pseudo-sains-Islam ini (demikian saya menyebutnya), lalu
berusaha menggali segala aspek Alquran yang menurut mereka mengandung
unsur-unsur pengetahuan praktis dan teoritis. Mereka lupa bahwa logika
iptek tidak berjalan sebagaimana yang mereka pikirkan. Logika iptek
bukanlah deretan fakta yang ajeg dan berlaku sepanjang masa. Iptek hidup
dan berkembang dari hasil akumulasi, revisi, kritik dan pembaharuan yang
terus menerus.
Saya sependapat dengan Lutfie Assyaukanie dalam hal ini: amat bahaya
memandang Alquran sebagai ensiklopedi ilmu pengetahuan. Sebab, tidak ada
yang abadi dalam ilmu pengetahuan. Pada suatu masa, suatu teori mungkin
dianggap valid dan sesuai, tapi di lain waktu ia dikritik atau diganti
dengan teori yang dianggap lebih benar. Jika Alquran diperlakukan
demikian, tak tertutup kemungkinan terjadinya benturan antara agamawan
versus ilmuwan seperti yang terjadi di zaman renaissence.
Saya ngeri sekali membaca karya-karya Harun Yahya yang amat ambisius
menampilkan gambaran Islam yang serba ilmiah. Ayat-ayat Alquran
dicocok-cocokan dengan fenomena-fenomena alam dan sejarah. Gambaran
ilmiah tersebut bukanlah gambaran yang objektif sebagaimana dalam sains
murni. Ada kepentingan ideologis di situ: ingin menunjukan bahwa ilmu
pengetahuan sesuai dengan kebenaran Islam atau sebaliknya. Yahya sangat
menggebu-gebu saat menyerang Darwin tentang teori orang pertama yang
dianggap bertentangan dengan Alquran.
Buku-buku sejenis Yahya ini, pada intinya sama-sama berangkat dari semangat
apologi dan hampir punya pola yang sama. Pertama, fakta ilmmiah dicari
rujukannya kepada sumber normatif Islam: Alquran dan Hadits. Kedua,
menerapkan prosedur pemilahan fakta yang dianggap sesuai atau tidak dengan
Alquran atau Hadits. Ketiga, fakta yang sesuai dijadikan justifikasi
kebenaran Islam sebagai agama pro-pengetahuan. Keempat, yang tidak sesuai
dianggap tidak benar kemudian dibuatkan bantahan-bantahannya.
Ilmiah dan Pseudo-Ilmiah
Buku-buku tersebut sebenarnya tak layak disebut karya ilmiah, tapi
pseudo-ilmiah atau pseudo-sains. Saya pernah membaca buku pseudo-ilmiah
karangan ulama Arab Saudi yang amat menggelikan. Di situ dinyatakan: bumi
adalah pusat tatasurya, bahkan pusat alam semesta. Premis buku tersebut
berangkat dari ayat Alquran tentang perputaran benda-benda angkasa seperti
bulan dan matahari. Ini jelas teori yang berbahaya karena melibatkan agama
dalam spekulasi ilmiah.
Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan.
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara mencocok-cocokan atau
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang
teknik maupun sosial.
Saya pribadi berpihak pada pembedaan antara agama dan sains. Pembedaan
tersebut justru perlu untuk mengokohkan sekularisasi dan penting buat
agama. Sains hanya bicara fakta-fakta, baik yang bersifat sosial maupun
alam. Di sini berlaku verifikasi ilmiah yang dapat membuktikan secara pasti
mana yang benar dan mana yang salah. Tugas agama lain lagi. Ia tidak
berkutat dengan fakta-fakta ilmiah. Agama seperti kata Ulil Abshar-Abdalla,
berurusan dengan makna atau pemaknaan. Di sanalah peran agama yang tepat,
yaitu memberikan makna dalam kehidupan seseorang.
Karena itu, hendaknya kita tak terlalu ambisius mencari kesesuaian antara
Alquran dengan fakta sains. Sebab, ketika ada clash antara sains dan agama,
kita masih bisa mengikuti sains sambil tetap berpegang teguh pada ajaran
agama. Agama yang benar tak bicara soal ketepatan ilmiah, melainkan
ketepatan makna dalam menjalani kehidupan.
Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1271
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]