Saya tidak mengerti logika penulis di alinea terakhir:

".....Karena itu, hendaknya kita tak terlalu ambisius mencari kesesuaian antara 
Alquran dengan fakta sains. Sebab, ketika ada clash antara sains dan agama, 
kita masih bisa mengikuti sains sambil tetap berpegang teguh pada ajaran agama. 
Agama yang benar tak bicara soal ketepatan ilmiah, melainkan ketepatan makna 
dalam menjalani kehidupan...."

Menurut pemikiran saya, konsekuensi dari alinea itu adalah:

Jika ada clash antara sains dan agama, maka logikanya saya harus memilih MANA 
YANG LEBIH BENAR antara keduanya. Jika sains yang benar, maka saya logisnya ya 
harus meninggalkan agama. 

Bagaimana sebuah agama, YANG DIANGGAP TIDAK SESUAI (APALAGI CLASH) DENGAN 
SAINS, bisa memberi makna yang tepat dalam menjalani kehidupan? Bukankah agama 
semacam ini justru menimbulkan keragu-raguan, kebimbangan, kebingungan? Orang 
yang mengaku "terpelajar" atau "berpendidikan" akan merasa MALU mengakui 
menganut suatu agama, yang dianggap tidak sesuai dengan sains!

Komentar saya: Andriyansyah masih "setengah-setengah" atau "malu-malu" dalam 
membuat kesimpulan.
 
Satrio Arismunandar 
Producer "Jika Aku Menjadi" (tayang tiap Minggu, pukul 18.00 WIB) - 
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"Berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari, mati tidak 
diakui...."



----- Original Message ----
From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, January 28, 2008 12:09:40 PM
Subject: [ppiindia] Sains Islami atau Pseudo-Sains?

Sains Islami atau Pseudo-Sains?

Oleh Andriyansyah
25/06/2007

Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan. 
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau 
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang 
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan 
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang 
teknik maupun sosial.

Selalu ada kecenderungan unik dari pola pikir fundamentalisme agama. Para 
fundamentalis Islam misalnya, sangat giat mengampanyekan Islam yang 
syâmil-mutakâmil (mencakup segala sesuatu). Mereka juga senang merujukkan 
berbagai penemuan ilmiah mutakhir para ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang 
sudah berpreseden dalam Islam. Kita kerap mendengar bidang-bidang keilmuan 
seperti astronomi, kimia, fisika, geografi dan sejarah, dikait-kaitkan 
dengan nama-nama ilmuwan Islam Abad pertengahan seperti al-Biruni, 
al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan lainnya.

Perilaku ini ingin menegaskan satu hal: kemajuan ilmu pengetahuan Barat 
tergantung sepenuhnya atau kelanjutan saja dari era gemilang peradaban 
Islam. Dengan kata lain, peradaban Barat yang kini maju, berhutang besar 
pada Islam masa lampau. Benar, dulu Barat sempat berhutang besar pada 
Islam. Benar juga bahwa peradaban Islam pernah unggul di bidang ilmu 
pengetahuan berkat penemuan-penemuan para sarjana Muslim. Namun, kaum 
fundamentalis kurang menyadari bahwa kemajuan Barat saat ini bukanlah hasil 
jiplakan sekali jadi. Ia merupakan akumulasi dari proses penemuan dan 
pengembangan yang tiada henti.

Kecenderungan lain adalah: anggapan bahwa sains yang benar adalah yang 
bersumber dari Alquran, atau sekurang-kurangnya punya kesesuaian dengan 
Alquran. Ini adalah klaim penolakan terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan. 
Dengan kata lain, sains yang dianggap benar adalah yang berakar dan tidak 
“bertentangan” dengan wahyu. Lalu, munculah buku-buku yang mengulas 
keterkaitan sains tertentu dengan Alquran ataupun Hadits. Buku-buku 
tersebut bercorak geneologis. Artinya, berusaha mencari akar pengetahuan 
itu sampai kepada penemu di lingkungan Islam.

Interaksi Peradaban
Yang perlu dicatat, kemajuan peradaban Islam klasik tidaklah berdiri 
sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang dinamis dengan peradaban lain 
seperti Yunani, Mesir, Persia dan India. Tokoh-tokoh ilmuwan Islam masa itu 
sangat rajin berdialog dengan cara mempelajari peradaban lain. Kesan 
terbuka, toleran dan pluralis, amat menonjol dalam karakter ilmuwan Islam 
masa itu. Karakter tersebut jelas-jelas berseberangan dengan karakter kaum 
fundamentalis yang ingin memajukan Islam dengan jalan menutup diri dan 
bahkan berkonfrontasi.

Dalam literatur ilmuwan Islam masa silam, jarang sekali ditemukan 
tulisan-tulisan yang bernada menyerang atau membeda-bedakan diri dengan 
peradaban lain. Dalam ungkapan Hasan Hanafi, persoalan anâ (ego) dan 
al-âkhar (the other), bukanlah aspek pembedaan yang penting dalam ilmu 
pengetahuan. Yang paling menonjol justru semangat ekumenis dan persatuan. 
Orang-orang semacam al-Farabi dan Ibnu Sina selalu berupaya mendekatkan 
nabi-nabi besar dengan para filosof Yunani.

Keanehan lain pemikiran fundamentalis: mereka hanya memuji para ilmuwan 
Islam dari aspek penemuan ilmiahnya. Dalam segi agamanya, mereka justru 
“dijelek-jelekan” . Tuduhan-tuduhan sesat, heterodoks dan sinkretis, kerap 
kali dialamatkan pada para filosof dan ilmuwan Islam itu. Kontradiksi ini 
memang cukup aneh. Di satu sisi, mereka ingin sekali mengklaim kemajuan 
Barat berkat jasa Islam. Tapi, ketika tahu bahwa kemajuan Islam merupakan 
buah karya para filosof “liberal” dan inklusif, mereka segera menarik klaim 
dan menyatakan bahwa para filosof itu sesat dan menyimpang dari ortodoksi 
Islam.

Lalu muncullah ide baru yang lebih dianggap valid untuk menjawab 
kontradiksi: Alquranlah yang sesungguhnya menjadi sumber kemajuan ilmu 
pengetahuan yang dikembangkan oleh ilmuwan Islam itu. Beragam argumen 
dikemukakan untuk meyakinkan bahwa Alquran telah mengajarkan astronomi, 
farmasi, geografi, fisika, dan lain sebagainya.

Para apolog-pseudo- sains-Islam ini (demikian saya menyebutnya) , lalu 
berusaha menggali segala aspek Alqur’an yang menurut mereka mengandung 
unsur-unsur pengetahuan praktis dan teoritis. Mereka lupa bahwa logika 
iptek tidak berjalan sebagaimana yang mereka pikirkan. Logika iptek 
bukanlah deretan fakta yang ajeg dan berlaku sepanjang masa. Iptek hidup 
dan berkembang dari hasil akumulasi, revisi, kritik dan pembaharuan yang 
terus menerus.

Saya sependapat dengan Lutfie Assyaukanie dalam hal ini: amat bahaya 
memandang Alqur’an sebagai ensiklopedi ilmu pengetahuan. Sebab, tidak ada 
yang abadi dalam ilmu pengetahuan. Pada suatu masa, suatu teori mungkin 
dianggap valid dan sesuai, tapi di lain waktu ia dikritik atau diganti 
dengan teori yang dianggap lebih benar. Jika Alqur’an diperlakukan 
demikian, tak tertutup kemungkinan terjadinya benturan antara agamawan 
versus ilmuwan seperti yang terjadi di zaman renaissence.

Saya ngeri sekali membaca karya-karya Harun Yahya yang amat ambisius 
menampilkan gambaran Islam yang ”serba ilmiah”. Ayat-ayat Alquran 
“dicocok-cocokan” dengan fenomena-fenomena alam dan sejarah. Gambaran 
ilmiah tersebut bukanlah gambaran yang objektif sebagaimana dalam sains 
murni. Ada kepentingan ideologis di situ: ingin menunjukan bahwa ilmu 
pengetahuan sesuai dengan “kebenaran” Islam atau sebaliknya. Yahya sangat 
menggebu-gebu saat menyerang Darwin tentang teori orang pertama yang 
dianggap bertentangan dengan Alquran.

Buku-buku sejenis Yahya ini, pada intinya sama-sama berangkat dari semangat 
apologi dan hampir punya pola yang sama. Pertama, fakta ilmmiah dicari 
rujukannya kepada sumber normatif Islam: Alqur’an dan Hadits. Kedua, 
menerapkan prosedur pemilahan fakta yang dianggap sesuai atau tidak dengan 
Alquran atau Hadits. Ketiga, fakta yang sesuai dijadikan justifikasi 
kebenaran Islam sebagai agama pro-pengetahuan. Keempat, yang tidak sesuai 
dianggap tidak benar kemudian dibuatkan bantahan-bantahanny a.

Ilmiah dan Pseudo-Ilmiah
Buku-buku tersebut sebenarnya tak layak disebut karya ilmiah, tapi 
pseudo-ilmiah atau pseudo-sains. Saya pernah membaca buku pseudo-ilmiah 
karangan ulama Arab Saudi yang amat menggelikan. Di situ dinyatakan: bumi 
adalah pusat tatasurya, bahkan pusat alam semesta. Premis buku tersebut 
berangkat dari ayat Alquran tentang perputaran benda-benda angkasa seperti 
bulan dan matahari. Ini jelas teori yang berbahaya karena melibatkan agama 
dalam spekulasi ilmiah.
Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan. 
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau 
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang 
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan 
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang 
teknik maupun sosial.

Saya pribadi berpihak pada pembedaan antara agama dan sains. Pembedaan 
tersebut justru perlu untuk mengokohkan sekularisasi dan penting buat 
agama. Sains hanya bicara fakta-fakta, baik yang bersifat sosial maupun 
alam. Di sini berlaku verifikasi ilmiah yang dapat membuktikan secara pasti 
mana yang benar dan mana yang salah. Tugas agama lain lagi. Ia tidak 
berkutat dengan fakta-fakta ilmiah. Agama seperti kata Ulil Abshar-Abdalla, 
berurusan dengan makna atau pemaknaan. Di sanalah peran agama yang tepat, 
yaitu memberikan makna dalam kehidupan seseorang.
Karena itu, hendaknya kita tak terlalu ambisius mencari kesesuaian antara 
Alquran dengan fakta sains. Sebab, ketika ada clash antara sains dan agama, 
kita masih bisa mengikuti sains sambil tetap berpegang teguh pada ajaran 
agama. Agama yang benar tak bicara soal ketepatan ilmiah, melainkan 
ketepatan makna dalam menjalani kehidupan.

Referensi: http://islamlib. com/id/index. php?page= article&id= 1271

[Non-text portions of this message have been removed]





      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke