sejarah dimanipulasi lalu berpihak pada yg lagi menang?
rakyat indonesia yg melek politik musti berani menegakkan keadilan. jika terus
meragu, akan ketemu jawaban bisu. hidup jadi tak jelas, dan keresahan
menyebarkan ketidakpercayaan.
rakyat miskin disuguhi tontonan pameran dukungan elit politik terhadap eks
dikatator via tv di kelurahan, inilah opera sabun pelipur lara sandiwara
politik republik indonesia.
oya, apakabar korban lapindo? apa kabar korban bencana alam? masa depan rakyat
suram, penguasa istana malahan asyik berakting dalam episode "tagih utang
sejarah".
hl
--- In [EMAIL PROTECTED], Rudy Patirajawane <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Soeharto dan Anak-anaknya
Kowe Pancen Sing Bener, Ben!
Oleh Kristanto Hartadi
JAKARTA-Ini sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang mayor jenderal yang kini
masih aktif. Dia pernah sangat dekat dengan almarhum Jenderal (purn) Leonardus
Benny Moerdany, mantan Menhankam dan mantan Panglima ABRI, orang paling kuat
kedua di Republik Indonesia setelah Presiden Soeharto pada periode 1983-1993.
Menurut jenderal itu, ketika Benny Moerdany sudah berada di puncak sakit stroke
yang dideritanya, Soeharto datang menjenguk mantan pembantu dekatnya itu dan
ada ucapan khusus yang disampaikan kepada Benny, dalam bahasa Jawa: Kowe
pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasihatmu ora koyo ngene (memang kamu
yang betul, Ben. Kalau saya menuruti nasehatmu mungkin keadaan tidak seperti
sekarang). Benny yang sudah sulit bicara karena sakitnya, hanya menangis
sesenggukan.
Menurut sumber itu, ucapan Soeharto itu diulang kembali di depan jenazah ketika
melayat LB Moerdani yang akhirnya meninggal dunia karena strokenya itu pada 29
Agustus 2004.
Episode itu, yang mudah-mudahan bisa dituangkan secara lebih terperinci dalam
sebuah buku oleh sang saksi mata, akan lepas begitu saja bila kita tidak
melihat kaitan-kaitan di belakangnya.
Tentu saja yang dimaksud Soeharto adalah situasi hiruk-pikuk dan kacau-balau
yang terjadi dalam kancah kehidupan sosial politik di Indonesia seusai
kejatuhannya pada 21 Mei 1998, yang memulai Era Reformasi. Mereka yang
menikmati kemapanan semasa kekuasaan Orde Baru pastilah pusing kepala melihat
segala tatanan dijungkirbalikkan di Orde Reformasi ini. TNI tidak lagi punya
gigi, pemerintah juga seperti tak berdaya, kerusuhan pecah di mana-mana, Timor
Timur merdeka, dan seterusnya, dan seterusnya.
Menurut catatan penulis biografi, Julius Pour, dalam buku Benny Tragedi Seorang
Loyalis, perpecahan Soeharto dan Benny berawal di suatu malam dari sebuah
insiden di ruang bilyar di Jalan Cendana, kediaman Soeharto, saat kedua orang
kuat di republik ini main bilyar bersama. Ketika itu Benny mengingatkan
Soeharto bahwa untuk pengamanan politik presiden, seluruh keluarga dan presiden
harus mendukung dan terlibat. Begitu saya angkat masalah tentang anak-anaknya
tersebut, Pak Harto langsung berhenti main. Segera masuk kamar tidur,
meninggalkan saya di ruang bilyar
sendirian, kata Benny seperti dituturkan
oleh dr Ben Mboi, mantan gubernur NTT.
Sejak saat itu posisi Benny surut di mata Soeharto, karena berani mengingatkan
presiden untuk secara sukarela mundur karena telah memimpin lebih dari 20
tahun. Dia dicopot sebagai Panglima ABRI pada tahun 1988, digantikan Jenderal
Try Sutrisno, mantan ajudan presiden, namun masih diberi jabatan sebagai
Menteri Pertahanan (1988-1993), karena Soeharto khawatir Benny berontak.
Ketika sudah tidak di pemerintahan, Benny berkata bahwa masa pemerintahan
Soeharto yang kelima adalah yang terakhir. "Masak setelah 25 tahun masih
terus?" itu katanya. Namun tidak pernah dijelaskan bagaimana cara Soeharto akan
atau harus mengakhiri kekuasaannya, karena kesadaran itu harus datang dari
Soeharto sendiri. Dan akhirnya memang Soeharto diturunkan oleh gerakan
reformasi pada 21 Mei 1998.
Melindungi Anak-anaknya
Melindungi anak-anaknya mungkin merupakan salah satu alasan kenapa Soeharto
enggan melepaskan jabatannya, atau mempersiapkan cara-cara menjalankan suksesi.
Padahal wacana suksesi sudah banyak dilontarkan berbagai pihak dan berbagai
skenario sudah disusun, termasuk oleh Mabes TNI di Cilangkap. Tetapi tidak ada
yang berani melawan Soeharto.
Memang, ketika Benny mengingatkan Soeharto dan keluarganya agar menjaga dan
melindungi kepresidenan, anak-anak Soeharto beserta kroni mereka baru mulai
membesarkan kerajaan bisnis masing-masing dengan memanfaatkan kekuasaan sang
ayah.
Mengenai hal ini, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew menuturkan dalam buku
memoarnya From Third World to First: The Singapore Story, dia secara pribadi
pernah bertemu dengan anak-anak Soeharto pada 25 Desember 1997 di Singapura,
yang juga dihadiri oleh PM Goh Chok Tong. Dia mengingatkan mereka agar berhenti
menjalankan praktik bisnis yang tidak sehat, karena mereka diincar oleh para
fund manager yang gerah dengan tingkah polah itu dan bisa saja memainkan nilai
tukar rupiah. Perilaku anak-anak Soeharto menyumbang kejatuhan orang tuanya,
tulis Lee dalam memoar yang diluncurkan pada September 2000 tersebut.
Memang, bisnis anak-anak dan kroni Soeharto begitu merajalela, memasuki hampir
setiap sektor kehidupan, mulai dari pengadaan barang bagi TNI/Polri dan
berbagai instansi pemerintah, real estate, otomotif, jalan tol, bank, minyak,
perkebunan, telekomunikasi, properti, impor beras, bungkil, kedelai,
peternakan, ritel, komputerisasi SIM dan STNK, stiker halal, penerbangan,
taksi, pertambangan, kehutanan, dan lain-lain.
Mereka tidak berbisnis sendiri, dan pada umumnya mereka juga menggandeng
sejumlah konglomerat yang menjadi kroni. Banyak pihak yang menilai pada masa
itulah Soeharto sudah seperti raja Jawa, dan membiarkan anak-anak maupun
kroni-kroninya berbuat sesukanya. Negara seperti milik keluarganya dan dia
melindungi.
Salah satu modus lainnya untuk mengumpulkan uang adalah dengan mendirikan
berbagai yayasan, atau mereka menjadi calo untuk menggolkan berbagai proyek
pemerintah, atau mereka menguasai tata niaga, mulai dari cengkih, jeruk
pontianak, cukai minuman keras, dan lain-lain.
Misalnya saja, untuk PT Sarpindo yang sahamnya dikuasai Hutomo Mandala Putra,
Bob Hasan dan Lim Sioe Liong, satu-satunya perusahaan yang mengimpor kedelai
untuk Bulog, pemerintah harus menyubsidi perusahaan ini senilai US$ 21 juta per
tahun. Dan ketika Menteri Pertanian Wardoyo (ketika itu) meminta pemerintah
mengakhiri monopoli impor ini karena sangat tidak kompetitif, Soeharto hanya
berkata: Kalau mau membunuh Sarpindo, silakan. Ujung-ujungnya, semua yang
mengusulkan deregulasi impor bungkil ini akhirnya mundur teratur. Hal yang sama
terjadi dengan impor gandum yang ketika itu dimonopoli perusahaan milik Lim
Sioe Liong. (Adam Schwarz, A Nation in Waiting, hal 133-134).
Monopoli dan menjadi calo adalah cara yang ditempuh anak-anak dan para kroni
Soeharto untuk membesarkan kerajaan bisnis mereka. Siapa yang tidak kenal
dengan kelompok bisnis anak-anak Soeharto seperti Bimantara (Bambang
Trihatmojo), Citra Lamtoro Gung (Siti Hardiyati Rukmana), Humpuss (Hutomo
Mandala Putra), bahkan sampai cucu Soeharto pun ikut terjun berbisnis. Bahkan
di antara mereka pun berebut proyek. Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa
yang paling transparan di Indonesia pada masa itu adalah korupsi! Majalah Time
pernah menyebut dari berbagai bisnis ini keluarga Soeharto berhasil
mengumpulkan kekayaan hingga US$ 15 miliar.
Bisnis anak-anak Soeharto, seperti Bank Andromeda dan mobil nasional merek
Timor yang sebenarnya buatan perusahaan Korea KIA, termasuk dalam kegiatan
usaha yang diminta oleh IMF untuk diakhiri sebagai salah satu syarat dalam
letter of intent ketika Indonesia akhirnya minta bantuan kepada dunia
internasional karena krisis ekonomi 1997.
Namun hebatnya, meski ditengarai banyak hal yang tidak wajar dari bisnis
anak-anak Soeharto, hanya Tommy saja yang tersandung di sana dan di sini. Lima
anak Soeharto yang lain sampai hari ini aman-aman saja. Yang menjadi
pertanyaan, kini, setelah Soeharto tiada, apakah anak-anaknya masih bisa tenang
menikmati kekayaan yang pernah mereka jarah dari Indonesia? Kita lihat saja...
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]