Mudah2an, kepergian "orang-sakti" itu, membawa pergi serta, seluruh
angkara-murka, huru-hara, kemarahan, bencana, dan kesengsaraan.....
pergilah semuanya..... pergilah..... dan Bangsa Indonesia bangkit
kembali menjadi manusia-manusia yang mudah dan banyak senyum.....

 

Alhamdulillah..

 

God Bless Indonesia..

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of heri latief
Sent: Tuesday, January 29, 2008 12:49 AM
To: SP; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
wahana-news; ppi india
Subject: [ppiindia] Re: Soeharto dan Anak-anaknya "Kowe Pancen Sing
Bener, Ben!"

 

sejarah dimanipulasi lalu berpihak pada yg lagi menang? 

rakyat indonesia yg melek politik musti berani menegakkan keadilan. jika
terus meragu, akan ketemu jawaban bisu. hidup jadi tak jelas, dan
keresahan menyebarkan ketidakpercayaan.

rakyat miskin disuguhi tontonan pameran dukungan elit politik terhadap
eks dikatator via tv di kelurahan, inilah opera sabun pelipur lara
sandiwara politik republik indonesia.

oya, apakabar korban lapindo? apa kabar korban bencana alam? masa depan
rakyat suram, penguasa istana malahan asyik berakting dalam episode
"tagih utang sejarah".

hl

--- In [EMAIL PROTECTED]
<mailto:sastra-pembebasan%40yahoogroups.com> , Rudy Patirajawane
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Soeharto dan Anak-anaknya

"Kowe Pancen Sing Bener, Ben!"


Oleh Kristanto Hartadi

JAKARTA-Ini sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang mayor jenderal
yang kini masih aktif. Dia pernah sangat dekat dengan almarhum Jenderal
(purn) Leonardus Benny Moerdany, mantan Menhankam dan mantan Panglima
ABRI, orang paling kuat kedua di Republik Indonesia setelah Presiden
Soeharto pada periode 1983-1993. 

Menurut jenderal itu, ketika Benny Moerdany sudah berada di puncak sakit
stroke yang dideritanya, Soeharto datang menjenguk mantan pembantu
dekatnya itu dan ada ucapan khusus yang disampaikan kepada Benny, dalam
bahasa Jawa: "Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasihatmu ora
koyo ngene" (memang kamu yang betul, Ben. Kalau saya menuruti nasehatmu
mungkin keadaan tidak seperti sekarang). Benny yang sudah sulit bicara
karena sakitnya, hanya menangis sesenggukan.

Menurut sumber itu, ucapan Soeharto itu diulang kembali di depan jenazah
ketika melayat LB Moerdani yang akhirnya meninggal dunia karena
strokenya itu pada 29 Agustus 2004.

Episode itu, yang mudah-mudahan bisa dituangkan secara lebih terperinci
dalam sebuah buku oleh sang saksi mata, akan lepas begitu saja bila kita
tidak melihat kaitan-kaitan di belakangnya. 

Tentu saja yang dimaksud Soeharto adalah situasi hiruk-pikuk dan
kacau-balau yang terjadi dalam kancah kehidupan sosial politik di
Indonesia seusai kejatuhannya pada 21 Mei 1998, yang memulai Era
Reformasi. Mereka yang menikmati "kemapanan" semasa kekuasaan Orde Baru
pastilah pusing kepala melihat segala tatanan dijungkirbalikkan di Orde
Reformasi ini. TNI tidak lagi punya gigi, pemerintah juga seperti tak
berdaya, kerusuhan pecah di mana-mana, Timor Timur merdeka, dan
seterusnya, dan seterusnya.

Menurut catatan penulis biografi, Julius Pour, dalam buku Benny Tragedi
Seorang Loyalis, perpecahan Soeharto dan Benny berawal di suatu malam
dari sebuah insiden di ruang bilyar di Jalan Cendana, kediaman Soeharto,
saat kedua orang kuat di republik ini main bilyar bersama. Ketika itu
Benny mengingatkan Soeharto bahwa untuk pengamanan politik presiden,
seluruh keluarga dan presiden harus mendukung dan terlibat. "Begitu saya
angkat masalah tentang anak-anaknya tersebut, Pak Harto langsung
berhenti main. Segera masuk kamar tidur, meninggalkan saya di ruang
bilyar... sendirian," kata Benny seperti dituturkan oleh dr Ben Mboi,
mantan gubernur NTT. 

Sejak saat itu posisi Benny surut di mata Soeharto, karena berani
mengingatkan presiden untuk secara sukarela mundur karena telah memimpin
lebih dari 20 tahun. Dia dicopot sebagai Panglima ABRI pada tahun 1988,
digantikan Jenderal Try Sutrisno, mantan ajudan presiden, namun masih
diberi jabatan sebagai Menteri Pertahanan (1988-1993), karena Soeharto
khawatir Benny berontak. 

Ketika sudah tidak di pemerintahan, Benny berkata bahwa masa
pemerintahan Soeharto yang kelima adalah yang terakhir. "Masak setelah
25 tahun masih terus?" itu katanya. Namun tidak pernah dijelaskan
bagaimana cara Soeharto akan atau harus mengakhiri kekuasaannya, karena
kesadaran itu harus datang dari Soeharto sendiri. Dan akhirnya memang
Soeharto diturunkan oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998.

Melindungi Anak-anaknya

Melindungi anak-anaknya mungkin merupakan salah satu alasan kenapa
Soeharto enggan melepaskan jabatannya, atau mempersiapkan cara-cara
menjalankan suksesi. Padahal wacana suksesi sudah banyak dilontarkan
berbagai pihak dan berbagai skenario sudah disusun, termasuk oleh Mabes
TNI di Cilangkap. Tetapi tidak ada yang berani melawan Soeharto.

Memang, ketika Benny mengingatkan Soeharto dan keluarganya agar menjaga
dan melindungi kepresidenan, anak-anak Soeharto beserta kroni mereka
baru mulai membesarkan kerajaan bisnis masing-masing dengan memanfaatkan
kekuasaan sang ayah. 

Mengenai hal ini, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew menuturkan dalam buku
memoarnya From Third World to First: The Singapore Story, dia secara
pribadi pernah bertemu dengan anak-anak Soeharto pada 25 Desember 1997
di Singapura, yang juga dihadiri oleh PM Goh Chok Tong. Dia mengingatkan
mereka agar berhenti menjalankan praktik bisnis yang tidak sehat, karena
mereka diincar oleh para fund manager yang gerah dengan tingkah polah
itu dan bisa saja memainkan nilai tukar rupiah. "Perilaku anak-anak
Soeharto menyumbang kejatuhan orang tuanya," tulis Lee dalam memoar yang
diluncurkan pada September 2000 tersebut.

Memang, bisnis anak-anak dan kroni Soeharto begitu merajalela, memasuki
hampir setiap sektor kehidupan, mulai dari pengadaan barang bagi
TNI/Polri dan berbagai instansi pemerintah, real estate, otomotif, jalan
tol, bank, minyak, perkebunan, telekomunikasi, properti, impor beras,
bungkil, kedelai, peternakan, ritel, komputerisasi SIM dan STNK, stiker
halal, penerbangan, taksi, pertambangan, kehutanan, dan lain-lain. 

Mereka tidak berbisnis sendiri, dan pada umumnya mereka juga menggandeng
sejumlah konglomerat yang menjadi kroni. Banyak pihak yang menilai pada
masa itulah Soeharto sudah seperti raja Jawa, dan membiarkan anak-anak
maupun kroni-kroninya berbuat sesukanya. Negara seperti milik
keluarganya dan dia melindungi. 

Salah satu modus lainnya untuk mengumpulkan uang adalah dengan
mendirikan berbagai yayasan, atau mereka menjadi calo untuk menggolkan
berbagai proyek pemerintah, atau mereka menguasai tata niaga, mulai dari
cengkih, jeruk pontianak, cukai minuman keras, dan lain-lain. 

Misalnya saja, untuk PT Sarpindo yang sahamnya dikuasai Hutomo Mandala
Putra, Bob Hasan dan Lim Sioe Liong, satu-satunya perusahaan yang
mengimpor kedelai untuk Bulog, pemerintah harus menyubsidi perusahaan
ini senilai US$ 21 juta per tahun. Dan ketika Menteri Pertanian Wardoyo
(ketika itu) meminta pemerintah mengakhiri monopoli impor ini karena
sangat tidak kompetitif, Soeharto hanya berkata: "Kalau mau membunuh
Sarpindo, silakan." Ujung-ujungnya, semua yang mengusulkan deregulasi
impor bungkil ini akhirnya mundur teratur. Hal yang sama terjadi dengan
impor gandum yang ketika itu dimonopoli perusahaan milik Lim Sioe Liong.
(Adam Schwarz, A Nation in Waiting, hal 133-134). 

Monopoli dan menjadi calo adalah cara yang ditempuh anak-anak dan para
kroni Soeharto untuk membesarkan kerajaan bisnis mereka. Siapa yang
tidak kenal dengan kelompok bisnis anak-anak Soeharto seperti Bimantara
(Bambang Trihatmojo), Citra Lamtoro Gung (Siti Hardiyati Rukmana),
Humpuss (Hutomo Mandala Putra), bahkan sampai cucu Soeharto pun ikut
terjun berbisnis. Bahkan di antara mereka pun berebut proyek.
Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa yang paling transparan di
Indonesia pada masa itu adalah korupsi! Majalah Time pernah menyebut
dari berbagai bisnis ini keluarga Soeharto berhasil mengumpulkan
kekayaan hingga US$ 15 miliar.

Bisnis anak-anak Soeharto, seperti Bank Andromeda dan mobil "nasional"
merek Timor yang sebenarnya buatan perusahaan Korea KIA, termasuk dalam
kegiatan usaha yang diminta oleh IMF untuk diakhiri sebagai salah satu
syarat dalam letter of intent ketika Indonesia akhirnya minta bantuan
kepada dunia internasional karena krisis ekonomi 1997. 

Namun hebatnya, meski ditengarai banyak hal yang tidak wajar dari bisnis
anak-anak Soeharto, hanya Tommy saja yang tersandung di sana dan di
sini. Lima anak Soeharto yang lain sampai hari ini aman-aman saja. Yang
menjadi pertanyaan, kini, setelah Soeharto tiada, apakah anak-anaknya
masih bisa tenang menikmati kekayaan yang pernah mereka jarah dari
Indonesia? Kita lihat saja... 


http://progind.net/ <http://progind.net/> 
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

http://herilatief.wordpress.com/ <http://herilatief.wordpress.com/> 


---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke